
Sudah tiga minggu suaminya berada di Surabaya, selama tiga minggu pula cuma sekali meneleponnya, dan mengirim pesan singkat menanyakan kabarnya, dan juga kabar anaknya yang masih di dalam kandungannya.
Kanaya berusaha untuk menghubungi nomor yang kemarin untuk meneleponnya, tetapi tidak aktif sama sekali. Sedang kakaknya Reksa sudah kembali ke Jakarta satu minggu yang lalu.
"Dimana kamu mas?
"Sedang apa kamu? kenapa tidak ada kabar? jangan membuatku khawatir dong, ngumpetnya jangan lama-lama"
Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya, tetapi nihil tidak ada jawaban yang memuaskan.
Kanaya juga sudah menghubungi kakaknya, tetapi hanya gelengan kepala sebagai jawabannya.
***Flasblack On
Dua minggu yang lalu Reksa ketemu dengan Tama, mereka mengobrol banyak hal semua tentang pekerjaannya yang harus segera di kerjakan karena sudah masuk deadline. Perusahaan Mengharuskan Tama sementara waktu untuk stay di Surabaya dulu, sedang Tama harus kembali ke Jakarta untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda, di karenakan Tama harus mengikuti pembangunan dalam perkembangan bisnis yang berada di Surabaya.
Tiga hari kemudian, Tama mengantar Reksa ke bandara. Reksa harus kembali tanpa Tama, sedang Tama harus menyelesaikan urusannya di Surabaya dulu.
Hari itu terakhir kalinya mereka berdua bertemu, tidak bisa perbincangan yang berarti, mereka sibuk dengan urusan masing-masing, setelahnya pertemuan itu tidak ada lagi komunikasi di antaranya.
Flasblack Off
Reksa di kantor berjalan mondar-mandir memikirkan keberadaan adik iparnya, yang menjabat sebagai CEO Abadi Group tempat Reksa bekerja.
__ADS_1
"Kemana kamu, Tam? sudah satu pekan tidak ada kabar, nomor ponsel pun tidak aktif juga, apakah kamu tidak ingat ada istri, dan anak menanti kepulangan mu ." Ucap Reksa berjalan membolak-balik badannya.
"Kasihan Adikku, Kanaya pasti sangat khawatir dengan keadaan mu."
"Cepat pulang, keluarga di Jakarta berserta istri, dan calon anakmu pasti menunggu mu selalu !"
Reksa berbicara dengan dirinya sendiri, hatinya ikut resah keberadaan Tama belum di ketahui rimba-nya. Reksa sangat kasihan dengan adiknya, berkali-kali menelepon dirinya, untuk mengetahui kabar sang suami, dengan harapan kakaknya tahu kabar suaminya, lagi-lagi jawaban gelengan kepala yang membuatnya wajahnya berubah suram tak seperti dulu.
♥♥♥
Di kamarnya Kanaya terus saja menangis, menangisi suaminya yang hilang kontak. Bingung mau menyalahkan siapa? suaminya pamit pergi untuk bekerja, bukan untuk menghilang seperti sekarang ini.
Tok!...Tok!...
"Nay, ini Mama makan dulu ya kasihan dedek di dalam perut." Tutur sang Mama mertua penuh dengan kelembutan.
"Tama pasti sedih melihat istrinya tidak mau makan, pasti dedeknya kelaparan Nay, makan ya." bujuk sang Mama dengan kegigihannya. Berharap Kanaya mau keluar kamar, dan mau makan seperti sediakala.
"Tidak ada jawaban dari dalam.." Kanaya memilih memejamkan matanya, berharap esok nanti bangun. Semua hanyalah mimpi, suaminya akan pulang untuk dirinya dan calon anaknya.
*Sampai kapan kamu seperti ini? kasihan anak mu Nay belum masuk asupan makanan sama sekali, batinnya mamanya. Sang Mama juga ikut sedih dengan kabar putranya yang tiba-tiba hilang kontak, nomor ponsel di hubungi susah, nomor kantorpun di hubungi pak Tama sudah kembali ke Jakarta beberapa hari yang lalu.
♥♥♥
__ADS_1
Di kantornya Reksa tidak tega, tiap kali menelpon merengek minta diantarkan pulang ke Solo.
Setelah pulang kantor, Reksa menyempatkan waktu untuk menjenguk sang adik . Reksa juga ikut khawatir dengan kondisi yang menimpa adiknya, melihat penampilan adiknya tidak terurus membuatnya menitikan air matanya.
"Kakak...." sapa Kanaya
"Kak, Nay mau pulang ke solo saja, antar Nay kak ketemu Ibu.." Tutur Kanaya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Suami Nay hilang entah kemana kak? Nay nggak nyaman disini tanpa suami Nay, Nay mau pulang kak." Ujar Kanaya dengan berderai air mata.
"Terus kedua mertua mu, apa mengijinkan Kaka untuk menjemput mu!" sahutnya Reksa mengusap-usap bahu rimgkih sang adik. Semenjak suaminya hilang kontak, nafsu makan menurun drastis, biasanya makan selalu nambah, tetapi kali ini berbeda tidak ada lagi belahan jiwanya.
Kedua orang tuanya menyaksikan interaksi keduanya sampai tersayat hatinya, mereka tidak bisa apa-apa dalam menemukan putranya, meskipun bentuk pencarian orang suruhannya terus saja bekerja untuk mencari, tetapi belum juga mendapatkan jawaban.
"Pulanglah nak, bila itu bisa membuatmu bahagia, dan lebih hidup. Bukan Mama tidak menyayangimu, karena Mama mencintai mu. Mama ikhlas bila Nay pulang dulu ke rumah orang tua," Mama mertuanya berbicara dari hatinya. Sesekali mengusap cairan bening yang mengalir di pipinya, sayangnya belum mau berhenti padahal menyisakan suara sesenggukan saja.
"Sabar mah, enggak enak kalau mereka tau bahwa kita sedang mengintipnya." Tutur sang suami berusaha menenangkan istrinya.
"Gimana mau tenang, kalau putra kita ada kabar pa!" Ucap sang Mama menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam, putra satu-satunya tidak ada kabar entah kemana?
"**Ada apa dengan Tama?
__ADS_1
"Akankah Tama segera di temukan?
" Akankah Kanaya memilih pulang ke Solo, atau milih bertahan menunggu kabar suaminya**?