
Weekand telah tiba, Tama dan Reksa berencana akan pulang ke Solo bersama. Mereka akan membawa mobil dengan sopir pribadinya kedua orang tuanya Tama, Tama hanya ingin menikmati perjalanan, dan pemandangan jalan yang lebih lama.
Setiap pulang, Tama selalu naik pesawat tetapi kali ini berbeda, Tama ingin membawa mobil, dan akan di tinggalkan di rumah mertuanya dengan alasan dengan adanya mobil, memudahkan istrinya untuk berpergian, tidak kepanasan, atau kehujanan.
Saking sayangnya, dan cintanya dengan sang istri membuatnya memberikan fasilitas yang memadai untuk keperluan sehari-hari, atau kebutuhan mendadak Kanaya selagi Tama tidak ada di sampingnya.
.🍭🍭🍭
Setelah pulang dari kantor, keduanya pulang sebentar untuk mengambil tas, dan barang bawaannya lain.
Mereka sedang menikmati perjalanan yang menyenangkan, beberapa kali Tama menanyakan tempat yang asing baginya, karena ini perjalanan pertamanya menggunakan jalur darat.
Lelah bertanya ini itu, akhirnya Tama tertidur pulas dengan tangannya memegang ponselnya yang berada di genggaman. Baru saja sepasang suami istri bertukar pesan, isinya bernada kangen semuanya. Maklum masih pengantin baru, masih anget-angetnya mereka berdua bermesraan.
🍭🍭🍭
Walaupun masih sedikit pucat, Kanaya tidak kalah bahagianya mendengar kabar suaminya pulang hari ini. Seperti yang tahu akan isi hatinya, sesuai harapan akhirnya suaminya pulang setidaknya bisa melepas rindu.
__ADS_1
Kanaya mempersiapkan semuanya, mulai dari perawatan tubuhnya, wajahnya, dan juga rambutnya tidak luput Kanaya perhatikan demi menyenangkan, membahagiakan suaminya.
Pulang dari salon yang tidak jauh dari rumahnya, Kanaya mulai membersihkan kamarnya, menganti speray, sarung bantal, dan selimut.
Perpect, sempurna, luar biasa
Kanaya terus saja memandangi tempat tidurnya, tempat yang menjadi saksi dua pertemuan dua manusia menjadi satu, tempat keduanya menggarap sawah untuk menciptakan bibit yang unggul.
🍭🍭🍭
Perjalanan yang mereka tempuh kurang lebih tujuh Jam, Tama sudah berada di rumah mertuanya, sedang Reksa tidak tahu pergi kemana? Sopir pribadinya sudah Reksa antar ke bandara, sesuai titah atasannya yang sekarang menjadi Adik iparnya.
Awalnya Tama diam saja, mendapatkan perlakuan istrinya yang kelewatan batas membuat yang di bawah pusat tubuhnya menjadi tegang maksimal.
Secara naluriah Tama semakin menggebu-gebu memainkan benda kenyal yang pas di telapak tangannya, langsung meraup bibir istrinya dengan rakusnya, dan seolah-olah tidak ada hari esok untuk keduanya.
"Mmmhhh....." Desahan kenikmatan yang tertahan. Kanaya menutup mulutnya dengan telapak tangannya, rasanya sangat malu menikmati sentuhan suaminya.
__ADS_1
Tama menjadi gemas sendiri dengan istri kecilnya, Tama mulai meraup kembali bibir istrinya dan melahapnya sedikit tergesa-gesa saking rasa yang lama tidak mereka rasakan, nikmati.
Sontak Kanaya membuka matanya yang sebelumnya terpejam, dan mulai menikmati sentuhan tangan suaminya yang mulai bergeliya kemana-mana. Mengakses seluruh tubuhnya tanpa satu jengkal pun tersisa, Tama terus saja memberikan rangsangan untuk istrinya.
"Mas......" cicitnya Kanaya... Dengan tubuh yang meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
"Ya sayang...." Dengan senyum liciknya, tangannya tidak berhenti mengobrak-abrik pertahanan sang istri.
"Mas...."
"Ada apa sayangku...?" tanyanya Tama tidak memperdulikan rengekan istrinya, yang mulai membawa hawa-hawa panas.
Kanaya hampir gila dengan permainan suaminya yang sangat lihai membuatnya basah, dan keringat sudah bercucuran membasahi tubuhnya.
Tama mulai menanggalkan pakaian satu-satu milik istrinya, Kanaya sudah polos dengan dua benda kenyal yang nampak ranum. Tidak menyia-nyiakan kesempatan Tama langsung meraup benda kenyal yang nampak menantang, mulai memberikan tanda-tanda kecil keunguan di sekitar dadanya.
"Mas hmmm akhhh..." rancaunya Kanaya tidak bisa diam, terus saja mengeluarkan suara-suara aneh-aneh.
__ADS_1
Tama tahu istrinya akan mencapai pelepasan, Tama terus saja memacu gerakan jarinya yang di percepat permainannya, dan saat itu juga Kanaya mengerang keras menyebutkan namanya, dan merembes keluar membasahi speray, dan tangan suaminya.
Nafasnya terengah-engah untuk menghirup oksigen yang masuk sebanyak-banyaknya, dan kedua matanya terpejam menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja Kanaya rasakan, hampir satu minggu tidak membawanya ke awang-awang, akhirnya Kanaya mendapatkan pelepasan yang dahsyat.