Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 100


__ADS_3

Happy reading


Beberapa jam yang lalu, tamu undangan, kerabat, saudara dan teman-teman sudah meninggalkan rumahnya.


Tinggal keluarga Inti saja yang berada di rumah besarnya, mereka terus saja memandangi wajah dua cucunya yang nyaman tidur diatas stoler yang berada di ruang tamu, baby twins tidak nampak kebisingan dengan suara yang sedang saling mengobrol.


Tama dan Kanaya juga ikut bergabung di tengah-tengah keluarga, mereka sedang bersenda gurau menceritakan masa lalu yang dulu pernah di alami kedua Opa Oma, dan kedua Kakek Nenek.


Mereka berempat seperti bernostalgia ke masa lalu, Tama, Nay, Reksa, dan Rudi menjadi pendengar yang baik tanpa berani menyela pembicaraan orang tua yang sedang mengenang masa lalu.


"Oeeek... oekkkkkk....," tangis Abang Dana memekik gendang telinga orang dewasa yang sedang bercengkerama, Abang Dana juga ingin di perhatikan yang sedang duduk tak jauh darinya.


" Cup... cup sayangnya Bunda...Kenapa bang, Dan? haus ya, mau mimik ya," Ucap Nay mengangkat Abang Dana dari stoler.


Adik Dapi masih asyik dengan tidurnya tanpa sedikitpun terganggu dengan suara tangis abangnya.


"Kenapa Nay?" tanya sang ibu menghampiri stoler cucunya.


"Mungkin haus buk." jawabnya Nay masih fokus menenangkan putranya.


"Nay tinggal dulu buk, ke pojok sana!" ucap Nay menunjukkan jari telunjuknya ke pojok ruangan..


"'Iya Nay."


"Cepat kasih ASI Nay, Kasihan cucu nenek yang tampan ini, mungkin haus banget ya!"


Nay memilih menjauh sedikit dari ruang tamu, setelah mengeluarkan buah melon nya, bibirnya yang mungil menghisapnya kuat-kuat seakan-akan tidak ada hari nanti untuk menghisapnya....


"Pelan-pelan sayang, tidak ada yang minta kog, adik Dapi masih tidur lho, semua milik Abang...." Nay terus saja berbicara dengan putranya, meskipun belum mengerti maksudnya tapi Abang Dana seolah-olah mengerti perkataan sang bunda.


"Auuuhhhh!" Nay menjerit kesakitan, tiba-tiba aerola di hisap dengan kuat menimbulkan efek nyeri.


"Kenapa Bun?" tanya Tama menghampiri sang istri yang sedang memberikan ASI eksklusif untuk putranya.

__ADS_1


"Enggak pa-pa, Pa! hanya Abang Dana aja menghisapnya sangat kuat." ucap Nay menyengir.


"Mirip Papa nya berarti , Bun." sahutnya Tama membanggakan dirinya , sembari sudut bibirnya tersenyum penuh arti.


"Pluk pluk...." Nay melempar bantal sofa tepat di pundaknya Tama. Tama ingin menghindari malah mengenai wajahnya.


"Auuuhhhhhh." Tama pura-pura mengadu kesakitan.


"Sakit Bun."


"Rasain!"


Nay memilih meninggalkan suaminya yang masih saja mengadu kesakitan, dan memilih bergabung dengan yang lain setelah menidurkan putranya.


♥♥♥♥♥


Di kamarnya Tama sedang memepet duduknya dengan sang istri, sedang anak-anak di bawa Opa Oma, dan Kakek Nenek di lantai bawah.


"Apaan sih, pakai deket-deket duduknya?" tanya Nay dengan sewot.


"Enggak pa-pa, ingin deket-deket saja." jawabnya Tama memperlihatkan deretan giginya.


"Terus kenapa tangannya lari-lari kearah lain?" tanya Nay dengan mode kesalnya.


Nay sangat kesal dengan sikap suaminya, masih saja seperti anak kecil padahal sudah menjadi orang tua.


"Pengen aja.." jawabnya tanpa dosa.


Jangan lupa kan tangannya terus saja mencari-cari celah untuk lari-lari.


"Pengen apa?" tanya Nay menaik turun kan alisnya.


Nay dibuat geli melihat tingkah sang suami yang kelewatan mengemaskan seperti kedua putranya.

__ADS_1


"Sudah boleh belum, bund?" tanya Tama dengan tampang yang memelas. Wajahnya sungguh sangat lucu membuatnya ingin menertawakan.


"Boleh apa? maksudnya Papa apa ?" Nay bertanya balik ke suaminya.


"Buka puasa, Bund." Tama memperjelas ucapannya.


"Lho tiap hari kita buka puasa, kan ini bukan bulan puasa, kenapa Papa pakai tanya segala, sih, Papa aneh dech!" Tutur Nay memanjang seperti jalan tol.


"Maksud Papa bukan itu tapi..." belum selesai berbicara langsung di potong sang istri.


"Tapi apa? Papa mau puasa gitu."


"Enggak Bun!"


"Terus apa?"


"Bunda jadi bingung mau nya Papa apa?"


Dengan tarikan nafas, dan Tama mulai menghembuskan sebelum mengungkapkan maksud pembicaraannya.


Bismillah


"Papa ingin buka puasa, membuatkan adik untuk jagoan kita! siapa tahu anak Kita nanti perempuan, kan bisa menemani Bundanya berbelanja." Tutur Tama berbicara tanpa mau menyaringnya, Tama berbicara lurus tanpa berbelok-belok berharap sang istri mengabulkan permintaan nya.


"Apa?" teriaknya Nay dengan nada tinggi.


"Papa udah kangen miliknya Bunda, buat papa kecanduan."


Mendengar suara suaminya membuat Nay paham maksud sang suami, nafasnya langsung memburu, mengeluarkan nafasnya saja sangat ngos-ngosan seperti sedang berlomba lari.


"Anak-anak baru lahir saja udah minta yang tidak-tidak, emang enak hamil-hamil terus, Ya udah Papa saja yang hamil." Ucap Nay dengan sangat kesal, mendengar permintaan sang suami yang tidak masuk akal.


"Banyak anak banyak rezeki," kata pepatah Bund.

__ADS_1


"Enak saja kalau ngomong, bikin saja sendiri." ucapnya Nay bersungut-sungut


Nay langsung melempar bantal, guling ke suaminya. Mereka berdua beradu bak tinju profesional, Nay terus saja membabi-buta memukul suaminya dengan benda bantal, guling yang ada di depannya.


__ADS_2