Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 134


__ADS_3

"Eughhh...."


Tama membuka kelopak matanya sangat pelan untuk menyesuaikan cahaya di kamarnya, ekor matanya celingak-celinguk mencari sang istri yang tak biasa tak tidur di sebelahnya.


Tangannya mulai di gerakan, seperti ada beban, beban yang susah untuk di gerakan.


Ekor matanya menelisik ke sebelahnya ada my twins bobo nyenyak berbantalkan lengan sang Papa, sedang tangan satunya ada jarum infus yang menancap di punggung tangan.


"Ada apa dengan diriku?"


"Kenapa aku di infus?"


Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya, semakin di pikirkan malah membuat kepalanya sedikit pusing.


"Auuhhhh...."


Tama memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sedikit pusing, tubuhnya masih terasa sedikit lemas, perutnya seperti di aduk-aduk di dalam nya.


"Papa udah bangun?"


"Papa tenapa?"


"Papa tenapa pegang-pegang kepala dan pelut, sakit ya Pa?"


My twins terus saja mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang beruntun membuat nya seorang Tama bingung sendiri menjawab pertanyaan my twins.


"Tenapa Papa diam?"


"Apa Papa sedang saliawan?"


Lagi-lagi pertanyaan my twins membuatnya melebarkan senyumnya, siapa yang tidak gemas dengan my twins yang sangat cerewet, rasa ingin tahunya sangat tinggi.

__ADS_1


"Papa baik-baik saja."


Tama mengusap lembut surai rambut my twins de kasih sayang yang berlimpah, bersyukur mempunyai mereka yang selalu bisa melipur lara nya kala tidak ada orang di dalam kamarnya.


Seperti sekarang ini mereka adalah obat mujarab untuk dirinya, tempat hiburan tersendiri.


"Bunda mana sayang?"


"Di dap...."


Belum juga menyelesaikan ucapan nya, pintu kamarnya di buka sang Bunda.


Ada nampan yang Bunda bawa, sembari tersenyum sang Bunda membuka pintu lalu menutup nya kembali.


Klek....


"Mas sudah bangun? Alhamdulillah..."


Meskipun sedikit pucat, lemes, selang infus masih terpasang itu sudah membuat sedikit bernapas lega.


"Mau makan apa minum, mas?"


"Entar aja."


"Kenapa mas?"


"Masih sedikit pusing dan mual."


Kanaya hanya pasrah mendengar jawaban suaminya yang enggan untuk minum atau makan. Ada guratan kesedihan, ternyata hasil masakannya tidak tersentuh sama sekali. Padahal dirinya masak spesial untuk suaminya tercinta, orang yang berpengaruh dalam hidupnya...


My twins pun sangat paham bahwa Bundanya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa yang halus kita lakukan? bial Bunda telsenyum kembali..."


Mereka berdua saling berbisik-bisik, mencari solusinya supaya Papa dan Bunda nya berbaikan.


"*Aku ada ide?"


"Apa*?"


Dana membisikkan sesuatu ke sang adik, mereka tergelitik geli setiap kali mendengar bisikan Abang di telinganya.


"*Kalian kenapa?"


"Ndak apa-apa, Pa*!"


My twins menampilkan deretan giginya yang putih, tertata rapi dengan senyum menghiasi wajahnya yang menggemaskan.


Dengan bujuk dan ratu nya my twins, akhirnya Tama sedikit mau memakan makanan yang di bawa sang istri, hanya suapan beberapa sendok yang masuk ke mulutnya.


"Kita berhasil, bang."


My twins bertos tangan, mereka berbinar-binar kelopak matanya berkedip-kedip sangat lucu......


Kanaya yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum sangat manis melihat tiga jagoannya mengukir senyum manis.


"Nda sini!"


Tangan my twins melambai, memanggil Bundanya untuk bergabung dengan mereka.


"Nay mengangguk sembari tersenyum..." Iya sayang."


Kanaya berjalan pelan, merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan my twins yang sudah berdiri, siap memeluk Bundanya.

__ADS_1


Akhirnya mereka berpelukan bersama, Tama yang sedikit kesakitan akibat himpitan my twins hanya bisa tersenyum, supaya my twins tidak merasa bersalah.


__ADS_2