Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 121


__ADS_3

Happy sunday


Selamat hari Senin


Selamat beraktifitas


Kehidupan rumah tangga yang Wiratama dan Kanaya bertambah sempurna berkat kehadiran putra kembarnya, awal kehamilan sampai melahirkan Tama sangat antusias, karena ini anak pertamanya dan cucu pertama juga untuk Papa Mama nya Tama.


Jika waktu boleh kembali hari kemarin, pasti Tama ingin segera menikah dan mengikuti ucapan kedua orang tuanya.


Ternyata menikah, punya anak itu enak banget, ada yang menemani tidur, ada yang menyambutnya pulang kerja.


Setiap kali pulang kerja ada anak istri yang menunggu di rumah, itu membuat seorang Tama sungguh bahagia dan rasa lelah itu langsung hilang melihat senyum tiga orang yang di cintai dan sayangi.


"Papa..." sapa putra kembarnya.


Mereka berdua berlari kearahnya, keduanya saling berebut siapa yang pertama nyampe ke Papanya.


"Uhh anak gantengnya Papa, Bunda mana sayang?" tanya Tama mengusap lembut rambut putranya, dan celingak-celinguk mencari keberadaan sang istri.


"Nda di Kamal pa, kata Nda," Nda agi andi Papa." jawab si kembar Dapi.


"Good boy." Tama mengacungkan jempol nya.


"Papa keatas dulu, mau mandi sudah mau asemm entar kita main lagi, tunggu Papa ya sayang." Tama mencium pipi putranya bergantian kanan kiri.


"Ciap Papa!" Baby boys twins langsung memberikan hormat seperti tentara.


"Cup Cup...." Tama mengecup keningnya sebagai hadiah jadi anak-anak yang manis.


Selesai berbincang-bincang sebentar dengan putra kembarnya, Tama meninggalkan keduanya di bawah di temani mbak Marni, orang yang bekerja membantu menjaga putra kembarnya.


Cekkklllekkk...


"Assalamualaikum sayang..." sapa Tama membuka pintu kamarnya, dengan derapan langkah kaki pelan. Tama mulai masuk ke dalam, mencari keberadaan sang istri tetap saja nihil, istrinya sedang tidak berada di kamarnya.


Mendudukkan dirinya di sofa adalah solusi terakhir untuk melepas rasa lelah, sembari menunggu sang istri keluar dari kamar mandi, bila kemungkinan sang istri sedang mandi sorenya.


Tama memijat pelipisnya yang agak pusing, memejamkan matanya sebentar untuk meredakan rasa pusing akibat pekerjaan yang padat dan di kejar deadline.


Sore ini demi keluarganya Tama rela meninggalkan sejenak pekerjaan, supaya bisa bermain dengan anak-anak, bisa bertemu dengan sang istri.

__ADS_1


Hari-hari biasa pun Tama di sibukkan dengan pekerjaannya yang padat, hanya hari weekand saja mereka bertemu, bisa bermain dengan putra kembarnya.


💚💚💚💚💚


Kanaya sedang berada di walki in closet, mendengar langkah kaki ke kamarnya membuatnya memicingkan matanya, tumben-tumbennya suaminya pulang sore, biasanya juga sibuk dengan pekerjaannya.


Selesai berganti pakaian, Nay keluar dari tempat persembunyiannya, sedikit memoleskan bedak dan lipstik supaya penampilannya sedikit menarik di lihat sang suami.


Keluar dari kamar melihat pemandangan menyejukkan matanya membuatnya tersenyum kecil, bisa-bisanya suaminya tertidur di sofa dengan masih memakai pakaian kerjanya.


"Mas mah bisa saja tidur sih!" Ucap Kanaya pelan. Kanaya menghampiri suaminya, mengelus lembut pipi Papa nya anak-anak dengan gerakan pelan, mampu membuat Tama nyaman dan terlelap dalam tidurnya.


"Eughhh..." merasakan usapan lembut tangan istrinya, Tama terusik dalam mimpi indahnya hingga kelopak matanya bergerak-gerak yang sangat berat untuk membukanya.


Kanaya meninggalkan sofa tempat tidur suaminya, beranjak dari sofa supaya suaminya tidak terusik dengan gerakan dirinya yang berada di sebelahnya.


Belum juga Kanaya melangkahkan kakinya, tangannya langsung di cekal tangan suaminya, Nay terperanjat kaget karena ada sebuah tangan memegangnya.


"Mas udah bangun, terganggu ya dengan Nay berada di sini!" Nay membuka percakapan antara dirinya dengan sang suami.


"Hmmm, mas malah semakin nyenyak merasakan usapan lembut tangan ini!" Tama memegang terus tangan Kanaya dan mengecup nya dengan manis.


"Cup....! kecupan singkat mendarat di kening istrinya, kedua mata saling bertemu untuk menyelami perasaan yang dag dig dug.


15menit saling mengangumi, Nay mengalihkan kontak pandangannya kearah lainnya. Nay sangat malu, niatnya untuk beranjak dari tempat duduknya malah ikut-ikutan terjatuh di pangkuan suaminya.


Sangat memalukan kamu Kanaya," batinnya Kanaya di dalam sanubari, tangannya tidak henti-hentinya memukul-mukul kecil kepalanya sendiri.


"Kenapa kamu sayang? pusing?" tanya Tama sedikit khawatir melihat istrinya, berubah drastis mimik mukanya.


"Mas anak-anak.." Nay mengalihkan pandangannya, mengingat putranya berada di bawah di ruang keluarga bersama mbak Marni, membuatnya kalang kabut ingin berlari ke pintu keluar kamar.


"Tenang ada mbak Marni..."


Kanaya sedikit lega mendengar suara suaminya bahwa anak-anak ada yang menjaganya.


"Mas mandi gih, terus kita turun ke ruang keluarga menemui anak-anak pasti putra kita menunggu."


"Siap Bunda, Cup!"


Dasar suami suka mencuri kesempatan, untung suami, untung sayang dan cinta ," batinnya Kanaya membenahi penampilannya.

__ADS_1


Tama sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Mereka berdua turun ke bawah dengan tangan saling bergandengan, tatapan mata keduanya lurus ke depan kearah tangga yang mereka lewati.


"Papa, Nda...." panggil putra kembarnya yang sedang main mobil-mobilan di temani mbak Marni yang selalu gesit menjaga anak-anak.


Dengan senyum manis, keduanya berjalan ke tempat putranya yang sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan kesayangannya. Melihat Papa dan Nda berjalan kearahnya, membuat si kembar kegirangan karena bisa bermain bareng dengan Papa dan Bunda nya.


Akhir-akhir ini jarang mereka lakukan karena kesibukan sang Papa.


"Ambang ama adik lindu Nda dan Papa." putranya langsung mendekap erat perut Bundanya, dan menciuminya sang lama.


"Ambang, adik uga lindu Papa." ucap keduanya menubruk tubuh Papa nya, mereka memeluk untuk menyalurkan rasa rindunya.


"Bunda juga rindu Baby boys." Kanaya memilih mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi putranya.


"Papa juga rindu kalian!" Tama memilih mengecup pipi putranya kanan kiri.


"Berpelukan....." Mereka berempat saling memeluk, memberikan rasa aman dan nyaman..


Selesai mereka mencurahkan rasa rindu di hatinya, sekarang mereka duduk di ruang tamu, berbagai camilan makanan terhidang diatas meja.


Tetapi beda halnya dengan anak-anak lainnya yang akan suka namanya camilan, keduanya tidak menyukai makanan yang terhidang di meja.


Putra kembarnya memilih bergelayut manja di lengan sang Bunda, Kanaya pun tidak risih melihat pemandangan yang menurutnya tidak akan terulang kedua kalinya, kelak mereka dewasa nanti pasti akan merindukan momen-momen seperti ini.


"Hmmm.." suara deheman Tama membuat ketiganya menoleh kearah Papa nya yang pura-pura sibuk dengan gadget di tangannya, padahal ekor matanya melirik kearah ketiganya dengan perasaan iri.


Tidak bisa di pungkiri bahwa putranya lebih dekat dengan Bundanya, hampir 24jam Kanaya ada untuk mereka. Sedangkan dirinya juga sibuk mencari nafkah untuk membahagiakan istri dan anak-anaknya kelak.


"Papa sibuk ya."


"Enggak sayang, kenapa?"


"Putranya memilih menggeleng kepalanya, mereka menubruk tubuh Papa yang tidak jauh dari tempat duduknya dengan sang Bunda."


"Kenapa?"


"Lindu Papa."


Akhirnya mereka bertiga berpelukan untuk sekian kalinya, sampai-sampai tidak terhitung lagi berapa banyak dirinya melakukan pelukan untuk hari ini saja.


Padahal setiap hari mereka bertemu, tetapi masih saja terselip kata rindu di lubuk hatinya yang terdalam.

__ADS_1


__ADS_2