Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 125


__ADS_3

Setelah keduanya keluar dari ruangan nya, Tama tersenyum misterius seakan-akan ada suatu hal yang akan di rencanakan untuk kelanjutan kerjasama dengan perusahaan Permata Group.


Senyum di bibirnya sangat tipis, siapa saja yang melihatnya pasti tidak akan tahu bahwa bos nya tersenyum. Memikirkan rencana apa yang akan Tama lakukan, sudah membuatnya cukup bahagia untuk kelangsungan dua perusahaan.


"Assalamualaikum mbak..."


"Bapaknya ada mbak?" tanya Nay dengan sopan. meskipun istri dari pemilik perusahaan, tidak membuatnya sombong dan semena-mena terhadap pegawai yang bekerja di kantor suaminya.


"Ada buk, sebentar saya panggilkan dulu!" jawab sekertaris nya tersenyum ramah.


"Silahkan duduk dulu Buk!"


"Makasih ya mbak."


Sekertaris nya berlalu dari hadapan Kanaya, memutar tubuhnya untuk menghadap ke ruangan Pak bos nya. Dengan satu tarikan , lalu di hembuskan.


Bismillahirrahmanirrahim


Tok ..... Tok.....


"Masuk."


"Ada apa?"


"Ada Bu Kanaya di luar, apakah bapak masih sibuk?" tanya sekertaris nya sangat hati-hati. takutnya bila tidak mengabari dulu, takutnya bos nya marah dan berubah seperti dulu, seperti orang yang tidak tersentuh.


Sekertaris nya membayangkan saja sudah membuatnya menggeleng kepalanya, enggak, jangan!


"Kamu kenapa? sakit?" tanya Tama memicingkan matanya, tiba-tiba sekertaris raut wajahnya berubah.

__ADS_1


"Enggak pa-pa pak, hanya saja kebelet ingin ke kamar mandi, i-ya ke kamar mandi.." jawab sekertaris nya dengan gugup.


"Silahkan masuk Buk, bapak di dalam."


Setelah mempersilahkan tamunya masuk, sekretarisnya undur diri dari ruangan bos nya. Ada kelegaan karena dirinya tidak salah dalam berucap, bisa-bisa bos nya seperti macam harimau seperti dulu, sebelum menikah.


"Assalamualaikum mas..."


"Sibukkah? Nay ganggu tidak nich."


Tama masih sibuk dengan berkas diatas meja, tidak menghiraukan sekertaris nya bilang apa? menurutnya berkas ini sangat penting, harus segera di teliti, jangan sampai kecolongan yang mengakibatkan perusahaannya goyah.


Tak.... Tak... Tak...


Suara sandal yang di pakai Nay terdengar keras, Nay berjalan pelan untuk memasuki ruangan suaminya.


"Sayang, tumben kesini? ada apa hmm?" tanya Tama dengan alis sedikit berkerut, dahinya nampak sekali mengernyit.


"Nay masak spesial untuk Mas." jawab Nay dengan tersenyum simpul.


"Masak apa? bikin mas semakin lapar nich..." goda Tama sembari tangannya menjawil hidung mancung sang istri.


Tidak ada lagi percakapan diantara mereka, keduanya sibuk dengan santap makan siangnya.


Selesai makan siang bersama, Nay membersihkan tempat makan, dan meja yang dibuatnya untuk menggelar makanan diatasnya.


"Mas mau makan lagi, boleh?"


"Boleh, mas mau makan apa?"

__ADS_1


"Bukankah barusan saja kita makan? apa mas masih lapar? apa perlu kita pesan lagi makanan dari luar?" tanya Nay beruntun, tidak memberikan suaminya untuk menyela ucapannya.


"Enggak usah."


"Terus mas mau makan apa?"


"Makan kamu!"


"Mesummmm!" Nay melempar bolpoin ke arah suaminya. Membuat Tama terkekeh melihat pemandangan wajah sang istri yang memerah seperti kepiting, Sungguh sangat menggemaskan


Tanpa ada tahu siapa yang memulai duluan, lidah keduanya sudah saling membelit, bertukar Saliva .


Huuuhu... deru nafas Nay sangat memburu, Tama melihat semakin terpancing untuk meneruskan hawa-hawa dingin di ruangannya untuk menerkam mangsanya.


Tama mulai menekan remote kontral untuk mengunci pintu ruangan nya, berpesan dengan sekertaris nya bahwa dirinya tidak bisa di ganggu sampai jam 14.00 WIB.


Nay menyambut uluran tangan suaminya untuk dibaringkan di atas sofa ruang tamu, Nay hanya pasrah menerima perlakuan suaminya yang membuat dirinya berkali-kali mendesah menyebut nama suaminya.


Kerlingan manjanya membuat dua insan manusia yang saling mencintai melanjutkan permainan nya, Tama langsung menggendong tubuh Nay untuk di bawa ke kamar rahasia nya yang tertutup dengan lukisan besar di sebelah kursi kebesarannya.


Tama sangat berpengalaman mempreteli satu persatu pakaian sang istri, keduanya sudah tidak memakai sehelai benangpun. Dengan serangan nya yang membabi-buta, Tama seakan-akan tidak mau berhenti memainkan yang ada di bawah tubuhnya.


Berkali-kali Nay mengerang nikmat menyebut nama suaminya, Nay sudah mencapai puncak tertinggi nya, sedang Tama masih sibuk mendaki gunung tertinggi yang berada di bawah kungkungan nya. Tama harus bekerja ekstra untuk bisa mencapai puncak berdua, Nay hanya pasrah di perlakukan indah dengan suaminya.


"Ahhk...hhh..."


Suara desahan mereka berdua menandakan keduanya sudah menggapai puncak nirwana, puncak yang membuat pasangan halal melayang, terbuai dengan cinta suci pernikahan.


Tubuh nya Tama langsung ambruk diatas Nay, senyum kepuasan, kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Mereka tertidur pulas saling memeluk, saling merangkul untuk menciptakan kehangatan cinta yang baru saja mereka ciptakan di ruangan kantor.

__ADS_1


__ADS_2