Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 186


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan mertuanya, Naya melenggang pergi ke halaman depan dengan posisi mobil terparkir di sisi kanan. Tama sendiri juga sudah siap, Tama menyenderkan tubuhnya di ba'da mobil sembari tangannya mengotak-atik ponsel di tangannya.


"Sudah Bun!"


"Sudah mas, ayo kita berangkat takutnya nomor antrian kita di dahului pasien lain, takutnya kita akan lama menunggu lagi."


Tutur Naya menyampaikan pendapatnya, tidak ingin mendaftar dua kali, bila ini tidak bisa di manfaatkan momen yang pas.


Naya sudah mengandeng tangan suaminya untuk masuk ke dalam mobil, pagi ini Tama ingin mengemudikan mobilnya sendiri tanpa bantuan pak sopir yang selalu setia menemani perjalanan nya.


"Masih sering mual-mual enggak Bun?"


tanya Tama tanpa menoleh ke sebelah kemudi nya. Tama memfokuskan pandangannya ke jalanan yang cukup lumayan padat di pagi hari ini.

__ADS_1


"Sedikit mas, sudah lumayan makanan yang masuk ke debay di perutnya Naya, Mas."


jawabnya Naya menoleh ke sebelah kanan. Nampak sekali suaminya sedang fokus pada jalanan, tetapi menurut Naya itu sangat seksi, tampan dengan atasan yang di gulung sampai siku.


Meskipun kehamilan nya masih memasuki trimester pertama, Naya sering sekali kebelet ke kamar kecil. Sudah dua kali berhenti di SPBU, untuk membuang hajat kecilnya. Padahal jarak rumah ke rumah sakit tidak sampai perjalanan Jakarta ke Bandung.


Namanya bumil aku bisa apa? Wajar bila sering ingin ke kamar mandi, walaupun usia kandungannya masih trimester awal. Beda halnya kalau kandungannya sudah memasuki trimester ketiga, pasti akan sering-sering bolak-balik ke kamar mandi.


Mobil sudah memasuki pelataran parkir rumah sakit, mobil mewah berjajar rapi seperti membentuk pulau-pulau. Ada perasaan cemas tak menentu, seperti sedang bertanding merebutkan gelar juara.


*****


Esha sangat mandiri, tidak nangis seperti dulu yang manjanya susah untuk di hilangkan. Kini berjalannya usia, Esha sudah mulai sedikit berubah manjanya. Walaupun masih ada manja-manja asyik, menurut orang rumah masih dalam batas kewajaran.

__ADS_1


"Esha lagi main apa sayang?"


tanya Oma Nisa yang berjalan kearah Esha, sebelah tangan kanannya membawa nampan berisi camilan dan minuman.


"Elca agi ain boneka yang bisa oek.. oek, Oma Ica milip adik Elca pokokna!"jawab Esha mengangkat tangan nya untuk memperlihatkan boneka yang di bawanya.


"Mau Oma temenin." tawar Oma Nisa dengan penuh harap, tetapi melihat ekspresi Esha Oma Nisa sedikit menelan sedikit kekecewaan. Oma Nisa kan bikin main bareng cucunya, biar seperti teman-teman sosialita nya yang selalu menunjukkan potret foto-foto nya bareng main sama cucu.


"Cup Cup...., Oma ndak boyeh angis. Elca sayang sekali ama Oma Ica. Tuman Elca ingin belajal ain ndili, kan Oma ndak tiap hali di rumahnya Elca." Dari sorot matanya Elca yakin dengan caranya, cara yang tepat main sendiri karena ingin sebuah kemandirian.


"Makasih sayang udah ngertiin Oma, Oma juga sayang Esha selamanya. Sampai Esha besar nanti, Oma akan selalu menyayangi Esha , selamanya." Ucap Oma Nisa penuh dengan keyakinan .


Setelah keduanya berpelukan sebentar, Esha melanjutkan mainnya di playmat yang Tama pesan dengan kualitas premium. Oma Nisa memilih mengawasi tidak jauh dari tempat Esha bermain. Baginya Esha cucu cantiknya, cucu yang selalu bisa menghibur bila keluarganya ada yang bersedih.

__ADS_1


__ADS_2