
Satu bulan sudah kejadian Kanaya jatuh di Mall yang tidak sengaja ada seorang pria lewat menyenggol bahunya, Kanaya sudah melupakan kejadian kemarin-kemarin. Yang Kanaya pikirkan sekarang adalah sekolahnya, karena sebentar lagi Kanaya akan ujian kelulusan.
Kanaya bersikap biasa saja, seperti sedang tidak ada masalah, bagi Kanaya masalah terbesarnya adalah tidak bisa menunjukkan prestasi ke kedua orang tuanya, terutama kakak yang merupakan seseorang yang penting di hidupnya Kanaya.
Kanaya mulai membeli berbagai macam buku pelajaran, mulai belajar tahap demi tahap. Kanaya selalu mengutamakan belajar. Tidak ingin memberikan harapan hampa orang tuanya, Kanaya bertekad untuk rajin belajar demi bisa melihat senyumnya kedua orang tuanya.
*****
Sedangkan kedua sahabatnya Maldifa dan Andina setelah pulang dari sekolah, mereka berdua akan belajar kelompok di rumahnya Kanaya, berbagai macam persiapan sudah mereka bawa dari rumah, tinggal menunggu lonceng sekolah berbunyi saja.
"Dif, kamu bawa buku yang kemarin kan yang kita ujian tryout mendapatkan nilai jeblok?" tanya Andina mengingatkan.
"Bawa Din, kamu tenang saja bersama Kanaya masalah beres!" Sahut Andina mengacungkan jempolnya.
"Percaya Kanaya yang terbaik." Ucap keduanya kompak.
Teng teng teng.....
Bunyi lonceng sekolah berbunyi, siswa-siswi bersorak gembira karena ini jam mata pelajaran yang terakhir, berhubung tidak ada jam tambahan semua siswa-siswi menghambur keluar dari kelas. Ada yang menentang tas, buku-buku pelajaran, ada pula yang mengendong tas ransel di punggung belakang.
Maldifa dan Andina menunggu Kanaya, tepat di depan kelasnya Kanaya. Walaupun lonceng sudah berbunyi Kanaya belum keluar kelas, masih menata barang bawaannya seperti buku yang baru saja di pinjam dari perpustakaan sekolah.
Dirasa sudah rapi, Kanaya celingak-celinguk mencari teman-teman satu kelasnya yang sudah menghamburkan diri keluar, membuat Kanaya bergidik ngeri karena sudah tidak ada orang di dalam.
Kedua sahabatnya melihat tingkah Kanaya tersenyum jahil, ingin sekali mengerjai Kanaya, tetapi niatnya tidak pernah kesampaian takut tidak di ajari Kanaya perihal mata pelajaran yang tidak keduanya bisa.
Kanaya berjalan keluar kelas sedikit kesusahan, barang bawaannya lumayan banyak.
__ADS_1
"Cilukba....ba..." Keduanya ingin memberikan surprise, tetapi niatnya sudah di ketahui Kanaya.
"Kamu apa-apain sih seperti Anak kecil saja." Sahut Kanaya bersungut-sungut melihat dua sahabatnya yang cengengesan ingin mengerjai Kanaya.
"Hehehe maaf , Nay! kirain kamu suka di kasih surprise." Ujar Maldifa menyengir kuda. diikuti Andina yang ikut-ikutan menyengir kuda, menampilkan deretan giginya yang putih.
Mereka bertiga berjalan bergandengan menuju pelataran parkir, saling melempar candaan dan mereka tertawa bersama mengingat tingkah konyolnya keduanya di depan kelas.
*****
Di Jakarta di kediaman keluarga Wiratmaja.
"Pa, Mama ingin tama berjodoh dengan Putri dari sahabat lamanya Mama, Pa." Tutur nyonya Wiratmaja merengek ke suaminya dengan muka puppy eyes, membuat sang suami Adi Wiratmaja menjadi tidak tega dan gemas sendiri dengan tingkah lucu istrinya nyonya Wiratmaja.
"Iya-iya Ma, Papa setuju yang penting Mama bahagia." Sahut Adi Wiratmaja sembari mengecup kening istrinya.
Langkah sepatu saling bersahutan memasuki rumah utama, Tama yang melihat kemesraan Kedua orang tuanya senyumnya menghangat, dan ikut berbahagia walaupun usianya tidak muda lagi keromantisan jangan di tanyakan pasti tetap yang nomor satu.
"Ehh anak Mama pulang ke rumah, sudah makan belum sayang?" tanyanya Mama Annisa menghampiri Tama yang masih berdiam diri di tempat.
"Duduk dulu sayang, mau Mama ambilkan makan ya entar Mama suapin." tawar Mamanya.
"Boleh, Ma." Jawabnya.
Mama Annisa dengan telaten menyuapi anaknya seperti masih bayik, sedangkan Tama sudah berumur 25tahun, tetapi bagi Mamanya Tama tetap Putra kecilnya dulu yang manja, yang selalu minta makan di suapin dengan Mamanya.
"Mama kok hari ini perlakuannya sangat manis, pasti ada sesuatu yang di inginkan darinya." Tama membatin.
__ADS_1
"Ma, Tama ke kamar dulu mau mandi dan berganti pakaian." Ujar Tama bangkit dari duduknya.
"Iya sayang, Mama dan papa tunggu di bawah." Sahut Mamanya mengusap lembut rambutnya Tama.
"Nanti bantu Mama bicara ya, pa! Mama takut Tama marah." Rajuk istrinya mendekati duduk suaminya.
"Iya Ma," suaminya memutar bola matanya melirik istrinya yang merangkulnya dengan sangat manja.
"Kalau ada maunya saja, pengennya nempel-nempel terus! coba kalau minta hemm suka kasih alasan." Adi Wiratmaja membatin kelakuan istrinya nyonya Wiratmaja.
"Tam, duduk dekat Mama! Mama mau bicara?"
"Bicara tentang apa, Ma?"
"Tama, sudah punya pasangan misal teman dekat gitu belum?"
"Belum Ma, Tama ingin fokus ke karir dulu, Ma."
"Tetapi Mama sudah ingin mengendong cucu, teman-teman arisan Mama semuanya bawa cucunya."
"Mama ingin menjodohkan Tama dengan Putri sahabatnya Mama, maukah Tama mengabulkan permintaan Mama." Ucap Mama Annisa hati-hati.
"Baiklah jika itu bisa membuat Mama bahagia, Tama juga ikut bahagia."
"Terimakasih sayang."
Kedua orang dewasa saling berpelukan, menumpahkan rasa rindunya, rasa bahagianya akhirnya tercurahkan sudah. Mama Annisa bahagia putranya dengan lapang dada mau menerima perjodohan ini, perjodohan antara dua sahabat lamanya, dulu sahabatnya sebentar lagi akan menjadi besannya.
__ADS_1