Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 68


__ADS_3

Sudah satu bulan Tama tidak ada kabar, keluarganya juga sudah menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari putranya, tetapi nihil tidak ada tanda-tanda Tama di temukan.


Segala daya upaya sudah keluarga lakukan demi di temukan putra tunggalnya. Nomor ponselnya pun tidak pernah luput dari perhatian keluarganya, tetapi tidak aktif sama sekali.


"Kabar putra kita gimana, Pa?" tanya mamanya dengan kecemasan tinggi.


"Gimana makannya? mandinya? dan masih banyak lagi yang di pertanyaan istrinya."


"Sang suami hanya bisa menarik nafas panjangnya, berharap putranya cepat di temukan dalam keadaan sehat wal afiat."


"Sabar mah, putra kita masih dalam pencarian orang-orang kepercayaan Papa." jawabnya sang suami untuk menenangkan sang istri, meskipun pikirannya sedang kalut dengan pekerjaan, dan putranya.


"Ini sudah satu bulan, Pah! Mama kurang sabar gimana lagi?" Ucap sang istri mendongakkan wajahnya untuk menatap manik dalam mata suaminya.


"Sang suami memilih memeluk istrinya, dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya."


"Menangislah bila itu membuat Mama lebih lega." sahut suaminya mengusap-usap puncak rambut sang istri, dan kelembutan. Sesekali mengecup rambutnya dengan rasa sayang, dan menumpahkan kesedihan akan kehilangan.


Di pelukan hangat pak Adi, istrinya tertidur pulas di rengkuhan pelukan hangat sang suami.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk tertidur saling berpelukan, menyalurkan rasa sedihnya, sudah hampir satu bulan sang putra belum juga di temukan.


Sejenak keduanya melupakan urusan yang menguras energi, dan pikirannya. Memilih beristirahat terlebih dahulu mungkin lebih baik untuk kesehatan, dan merefresh otaknya supaya bisa mendapatkan daya baterai.


Mereka berdua sudah terbuai mimpi indah, dan berharap hari esok ada secercah harapan dan kabar bahagia tentang putranya.


.⭐⭐⭐


Beberapa hari yang lalu Kanaya sudah diantar pulang ke Solo oleh Kakaknya Reksa, Reksa tidak tega melihat adiknya terus saja menangis, tidak mau makan, membuatnya tubuhnya semakin lemah, berat badannya turun drastis.


Dengan keputusan bersama, akhirnya kedua mertuanya mengijinkan menantunya untuk pulang ke Solo. Semua itu mereka lakukan untuk menjaga kandungannya, tidak mau sampai terjadi yang tidak diinginkan.


Sudah dua hari ini, Kanaya tinggal di Solo. Tidak ada yang berubah Kanaya masih dengan mode diamnya, kedua orang tuanya, dan adiknya bingung dengan sikap kakaknya yang berubah drastis sampai seperti ini.


"Kakak mau jalan-jalan, atau makan sesuatu? ayo kak Aku antar kemanapun kakak mau." Tutur sang adik untuk menghibur kakaknya yang lagi di rundung kesedihan.

__ADS_1


"Tidak ada sahutan, Kanaya masih dalam posisi diam dan pandangannya kosong."


"Kakak...." sapa sang adik. sembari tangannya mengelus bahu kakaknya.


"Iya dik, ada apa?" tanya Kanaya memandangi wajah sang adik dengan tatapan sulit diartikan...


Berarti Aku berbicara panjang lebar, sampai mulut ku capek. Ternyata kakak ku sibuk dengan dunianya


"Ayo kak kita jalan-jalan! siapa tahu kakak ingin makan apa, atau sesuatu yang mau di beli, kan biar sekalian, Kak." Tutur sang adik dengan memberikan sentuhan lembut, dan bicaranya tidak kalah lembutnya.


"Kakak mau ke kamar saja, mau istirahat." sahut Kanaya berniat beranjak dari duduknya.


"Bener Kaka nggak ingin makan sesuatu, atau jalan-jalan?" tanya sang adik untuk memastikan jawaban kakaknya.


"Kanaya hanya menggelengkan kepalanya." Kanaya langsung berlalu dari hadapan sang adik.


Rudi hanya menggaruk tengkuknya, ada rasa kecemasan di hatinya melihat kakaknya lebih banyak diamnya. Biasanya paling ramai sendiri, tetapi kali sangat berbeda, Kanaya jadi wanita pendiam, kadang-kadang suka menangis sendirian di kamarnya.


"Apa kabarnya kamu, Mas? sudah satu bulan nomor mu susah di hubungi." Ucap Kanaya mengusap-usap foto bingkai pernikahannya, yang ini kenangan yang Kanaya punya, karena sebelumnya mereka tidak pernah foto berdua semenjak menikah.


"Hiksss...mas Aku kangen." Ucap Kanaya dengan lirih.


Keduanya langsung di sungguh kan dengan kata-kata yang menyayat hati, melihat pada perubahan putrinya membuatnya lagi-lagi meneteskan air matanya.


Sungguh malang nasib mu, nak! belum menikmati madu indah pernikahan, dan buah cinta kalian lahir. Kamu harus menanggung beban seberat ini, ibu tidak sanggup melihatmu seperti ini.


Sang ibu menggeleng-gelengkan kepalanya, membayangkan nasib putrinya, dan calon cucunya.


Semoga kamu cepat di temukan, kasihan istrimu yang menderita tidak mau makan, dan menangis terus-menerus. Kasihan buah cinta kalian berdua, ibu berharap kamu cepat pulang demi keluarga, istri, dan calon anakmu.


"Sabar buk, semuanya pasti ada hikmahnya! yang penting kita berusaha dan berdoa. Semoga ada keajaiban dengan menantu kita, bisa segera di temukan dalam keadaan sehat wal afiat.


Sang ibu menumpahkan tangisnya di pelukan sang suami, rasanya seperti mimpi, baru kemarin melepas putrinya untuk mengikuti suaminya untuk tinggal di Jakarta.


Belum juga putrinya melahirkan, Kanaya harus kembali pulang ke solo. Ibunya sungguh bahagia bisa mendekap putrinya, tetapi bukan ini inginnya tetapi bisa apa bila Allah sudah berkehendak dengan takdirnya.

__ADS_1


⭐⭐⭐


Di dalam kamar Kanaya mendengar ucapan sang ibu, lagi-lagi air mata nya mengalir deras, membasahi pipinya. Kanaya tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan, begitu pun kedua orang tuanya, dan keluarganya suaminya..


"Maafin Nay Pak, Buk." ucap Kanaya lirih.


"Maafkan Bunda ya sayang, beberapa hari ini mengabaikan mu, dan tidak ada asupan gizi yang Bunda makan. Bunda janji akan memperhatikan asupan gizi yang Bunda makan, hanya untuk kamu pelipur lara Bunda." Ujar Kanaya berbicara lembut dengan calon baby-nya.


"Duk! Duk!"


"Auuhhh, adik lapar ya nendang-nendang di perutnya Bunda." Tutur Kanaya membelai lembut perutnya.


"Duk..! "


"Les't go kita makan." Kanaya menghapus jejak-jejak air matanya, dan mencuci mukanya terlebih dahulu sebelum keluar kamarnya.


Kanaya tidak mau membuat keluarganya sedih dengan keadaannya yang memperhatikan seperti ini.


Dengan memakai jilbab instan, Kanaya memoleskan bedak, dan libalm di di wajahnya supaya tidak terlihat pucat.


Kanaya berjalan pelan untuk menghampiri sang ibu yang berada di dapur. Tersenyum adalah untuk menutupi kesedihannya, supaya orang rumah tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Masak apa, buk? Nay lapar buk." tanya Kanaya sembari tangannya mengelus perutnya.


"Masak, masakan kesukaan putrinya ibu! kamu duduk saja biar ibu yang ambilkan."


"Makasih buk, Kanaya sayang ibu!"


Kanaya makan tidak berselera, demi calon anaknya. Kanaya akan berjuang untuk makan, member asupan gizi yang cukup untuk calon anaknya.


Noted ::::::


Maafkan auuttor kalau ceritanya tidak sesuai kalian mau, ikuti alurnya pasti akan terjawab keberadaan Tama, suaminya Kanaya.


Yang tidak suka, nggak usah baca! auuttor juga tidak memaksa kog.

__ADS_1


Kenapa auuttor jarang update dan lain sebagainya, maafkan auuttor karena keterbatasan waktu, maklum ya auuttor juga bekerja tidak 24 jam pegang handphon terus.


Menulis bukan seperti beli bakso di pinggir jalan kog😁😁😁


__ADS_2