Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 77


__ADS_3

Tiba di rumah, Kanaya langsung keluar dari mobil lebih dulu tanpa menunggu sang suami, membukakan pintu untuk dirinya. Tama mengikuti langkah sang istri di belakang, tidak ada keromantisan atau kemesraan, mereka jalan masuk rumah tanpa saling bergandengan tangan.


Sebelum masuk ke dalam rumah, mobil sudah terparkir di garasi samping rumahnya. Meskipun rumahnya bukan seperti yang berada di Jakarta, tapi tempatnya sangat nyaman, banyak di tumbuhi Tananam yang berjejer di sebelah rumahnya.


"Assalamualaikum, Nay pulang!" Ucap Kanaya masih di ambang pintu. Kanaya tidak menyadari bahwa dirinya sudah bersuami, dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dari calon anaknya.


"Waalaikumsalam, husst kebiasaan suka teriak-teriak! malu ah sama suami!" Sahutnya sang ibu yang masih di dalam dapur. Ibu Melati sedang meracik masak untuk menu makan malamnya, kebetulan beliau ingin membuat syukuran kecil-kecilan untuk kehamilan putrinya, calon cucunya yang sudah memasuki usia mau tujuh bulan.


"Hehehe Nay lupa buk, kalau disini masih ada pak suami!" Tutur Kanaya yang cengengesan, dan tangannya membentuk huruf V.


Tama yang sedang berdiri tak jauh dari sang isteri, hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan tersenyum tipis dengan sikap sang istri yang seperti anak kecil, padahal istrinya sedang mengandung buah cintanya, tetapi ekspresi nya sangat mengemaskan.


"Takkk! Takkkk!...." Tama melangkahkan kakinya untuk menghampiri sang, tiba-tiba tangannya langsung memeluk pinggangnya. Tama menghadiahi kecupan di pelipisnya, dan mencium rambutnya yang masih tertutup dengan hijab.


Mendapatkan perhatian kecil dari sang suami, Kanaya hanya diam saja malah memilih memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan lembut yang memabukkan. Kanaya langsung tersadar, bahwa masih ada sang Ibu yang tersenyum misterius.


"Malu iiiiihhh, di lihat ibu Mas." Ucap Kanaya malah menelusup masuk ke dada bidang sang suami. Menurutnya ini tempat ternyaman untuk Kanaya bersembunyi dari rasa malunya, rasanya ingin pergi ke planet Pluto.


"Biarin mas suka lihat pipi ini bersemu merah, mas suka posisi seperti ini hangat dan menyenangkan." sahut Tama yang enggan melepas dekapan erat, dan tempat ini yang Tama rindukan untuk beberapa bulan yang lalu...

__ADS_1


*Semakin hari isteri ku, semakin mengemaskan, semakin cantik, semakin cinta dech


**********


Setelah membersihkan tubuhnya*, mereka sudah berada di ruang tamu untuk bergabung dengan yang lainnya. Hari juga sudah sore, hal yang menyenangkan ya seperti ini bisa mengobrol dengan keluarga di temani dengan sepiring pisang goreng, dan secangkir teh hangat .


Di tengah obrolan nya, Kanaya berkali-kali mulai menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskan pelan.


"Ada kabar bahagia untuk bapak dan ibu." Ujar Kanaya dengan matanya memancarkan binar bahagia.


"Ada apa, Nay? makin membuat penasaran ibu saja, Nay!" tanya sang ibu. Sedikit ada perasaan cemas, takut putrinya kenapa-kenapa dengan kehamilannya.


Tama hanya menimpali dengan senyuman, tidak mau ikut masuk dalam pembicaraan ibu dan anak. Tama pura-pura tidak tahu apa yang di bicarakan padahal dalam hatinya Tama sedang bersorak gembira.


"Bismillah, " Kanaya menarik nafasnya, dan membuangnya kembali untuk mengurangi rasa nerveous, takut orang tuanya tidak suka akan kehamilan yang memiliki dua kantong janin di perutnya, alias kehamilan baby twins.


"Nay hamil kembar buk! Ibu dan bapak akan memiliki cucu kembar, apakah kali bahagia dengan berita yang Nay sampaikan?" tanya Kanaya. Tangan Nay meremas ujung jilbab nya, ada kegugupan menunggu jawaban dari keduanya.


Di ruang tamu terjadi keheningan, keduanya masih syok mendengar kabar kehamilan putrinya yang mendadak kembar.

__ADS_1


Tidak jauh dari tempat duduk sang isteri, Tama menyaksikan mereka berbicara, ada gurat kekecewaan atas respon sang mertuanya yang hanya diam saja, tidak menanggapi kabar bahagianya.


Tama mendekati tempat duduk sang isteri, tangannya mulai mengusap punggungnya, dan menenangkan supaya lebih sabar menunggu jawaban kedua orang tuanya.


Kedua orang tuanya nampak bengong, bingung harus berekspresi seperti apa? Dengan berita kebahagiaan yang tengah keluarga rasakan, ingin bersorak-sorai tapi malu dengan menantunya, mau teriak-teriak memanggil tetangganya, tetapi malu di kirain sedang apa? takut mereka mengira keluarganya sedang ada masalah.


Satu jam masih ada saja keheningan, mereka sibuk dengan pikirannya sendiri. sedangkan Kanaya sudah berkaca-kaca, tidak kunjung mendapatkan jawaban dari keduanya. Kanaya malah berfikir yang tidak-tidak, beranggapan orang tuanya tidak menginginkan cucu kembarnya. Rasanya sangat sakit, tetapi tidak berdarah belum juga lahir saja sudah di tolak sama Kakek Neneknya, terus kalau sudah lahir mau bagaimana nanti bila anak-anak nya menanyakan keberadaan Kakek Neneknya.


Pelukan ini yang membuatnya nyaman, melupakan sedikit kekecewaan dengan sikap orang tuanya. Kanaya sangat bersyukur suaminya sangat antusias menyambut anggota baru, yang berjenis kelamin masih di rahasiakan.


"Terus apa kabar mertuanya, bila berita kehamilan sampai di telinga mertuanya, notabenenya mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya. "


"Apakah mertuanya akan menerima kehamilan ini? atau malah sebaliknya?


Perasaan cemas menghinggapi pikiran Kanaya, maklum hormon ibu hamil sangat sensitif terhadap hal-hal yang negatif masuk ke telinganya.


Hari ini Kanaya ingin egois, ingin sejenak melupakan kesedihannya, karena hari ini adalah hari kebahagiaannya mendapatkan berita dari dokter yang memeriksanya, meskipun masih menunggu sampai lahir ke dunia kurang lebih tiga bulan lagi.


Enggak pa-pa, terpenting kandungannya sehat, baby nya juga tumbuh dengan sehat, itu merupakan kebahagiaannya, meskipun nantinya di tolak kelahiran nya. Bunda dan papa akan selalu menyayangimu dengan setulus hati, dan kasih sayang yang berlimpah ruah menyambut kehadiran mu.

__ADS_1


__ADS_2