
Tama sudah di baringkan diatas tempat tidur, kedua kelopak matanya masih terpejam dengan nyenyak.
"Makasih Pak."
"Sudah kewajiban saya non bekerja di sini, kita harus saling membantu."
"Nay menanggapi dengan senyuman."
Kanaya kembali lagi mengalihkan pandangan nya ke tempat tidur suaminya, berulang-ulang Nay menciumi seluruh wajah suaminya, mengecup keningnya lama.
"Hiksss...."
"Papa tenapa Nda?"
"Papa lagi bobo sayang."
"Doain Papa ya, biar Papa tidak kenapa-kenapa."
"My twins mengangguk."
Seolah-olah putra kembarnya tahu keadaan sekarang, bahwa Papa nya sedang tidak baik-baik saja.
Klek...
"Non, mbak Marni sudah menelepon dokter dan tuan besar."
"Makasih mbak."
"Mungkin ada yang di butuhkan lagi?"
"Mbak siap '45!"
"Makasih mbak, untuk sekarang belum."
Mbak Marni sudah berlalu dari kamarnya Kanaya, tinggal my twins, Kanaya dan Tama yang berada di kamar.
"Mas... bangun...."
"Tidak ada pergerakan."
"Papa, ini ambang Ita lindu main sama Papa... hiksss...."
__ADS_1
"Papa bangun, bangun Pa......"
Si kembar tidak beranjak dari tempat tidur Papa nya, mereka selalu menemani sang Bunda untuk menunggu sang Papa bangun dari bobok nya.
Nampak sekali raut kesedihan di wajah keduanya, Nay bisa merasakan putranya sedang tidak baik-baik saja seperti dirinya.
*****
15menit kemudian
Tok.... Tok...
"Masuk!"
Klek....
"Maaf non dokternya sudah datang."
"Di suruh langsung masuk saja mbak!"
5menit....
"Selamat siang Nyonya Wiratmaja..." sapa sang dokter dengan sangat ramah.
"Siang juga dokter."
Tak....Tak....
Sang dokter mulai memeriksa kondisi tuan muda Wiratama yang tergolek tak berdaya. dokter pun hanya geleng-geleng kepala, karena tidak menemukan indikasi tertentu hanya kekurangan asupan makanan yang masuk ke tubuhnya.
"Suami saya sakit apa Dok?"
"Tidak ada penyakit yang perlu dikhawatirkan, hanya saja tuan muda kurang asupan makanan yang masuk."
"Gimana caranya Dok?"
"Mungkin dengan di infus adalah alternatif yang tepat."
"Apa perlu di bawa ke rumah sakit, atau di infus di mana dok?"
"Tidak perlu di bawa ke rumah sakit, di infus di rumah juga tak pa-pa."
__ADS_1
"Baik dok, saya ngikut apa yang terbaik dok!"
"Saya lakukan pemasangan infus ya, buk!"
"Oke dok!"
Belum juga Pak dokter mengeluarkan peralatan infusnya, tiba-tiba di kaget kan dengan suara pintu yang di buka dengan sangat tergesa-gesa.
Bruuukkk.....
Tanpa salam, tanpa kata permisi, tuan besar dan Nyonya besar berjalan ke ranjang putranya.
Mereka menghiraukan orang-orang di sekitar, tujuan nya ingin segera tahu keadaan putra semata wayangnya.
"Hiksss.. kenapa putra kita, pa?"
"Tenang ma! jangan nangis kasihan cucu kita kalau terbangun."
Mendengar kata cucu kita, sang Mama berhenti menangis tinggal sesenggukan kecil...
"Ada apa Nay? kenapa Tama bisa seperti ini?" Mama mertua memberondong pertanyaan yang beruntun, tidak ada tikik, koma dan Jedah dalam pertanyaan nya.
"Maaf mah! Nay bantu mbak Marni di dapur untuk menyiapkan sarapan, mengalir lah cerita Kanaya untuk menjelaskan kepada mertuanya..."
******
"Bagaimana keadaan putra saya dok?"
"Tidak perlu di khawatirkan Tuan, Nyonya, putra Anda hanya mengalami asupan makanan."
"Ini sudah saya lakukan, tindakan pemasangan infus, semoga kondisi tuan muda segara membaik.."
"Ini resep obatnya, tolong di tebus di apotek."
"Nanti ada perawat saya yang akan mengontrol tuan muda, bila saya tidak ada di tempat atau sibuk."
"Siap dok!"
Setelah pak dokter pergi, Nay bisa bernafas lega. Suaminya sudah mendapatkan pertolongan, tinggal menunggu sadar saja. Dengan setia Nay menunggu di kamar nya, tanpa mau beranjak sedikitpun dari jangkauan suaminya.
Tuan dan Nyonya besar sudah berada di kamar nya, kamar khusus Papa dan Mama bila sedang menginap di rumah ini. Fasilitas tidak kalah sama kamar utama, Nay dan Tama ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya.
__ADS_1
My twins masih bobok di sebelah Papa nya, ada perasaan hangat melihat pemandangan yang menyejukkan hati. Sudut bibirnya tersenyum kala melihat 3 boy yang bobok nyenyak.