Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 24


__ADS_3

Di Jakarta kediaman Wiratmaja


Mama Annisa sungguh sangat bahagia mendengar jawaban putranya, tidak henti-hentinya Annisa tersenyum membayangkan seperti lagi akan mempunyai mantu.


Annisa langsung mendial nomer seseorang, untuk mengabarkan berita bahagia. Di seberang juga sangat bahagia mendengar kabar dari sahabatnya. Akhirnya cita-citaku untuk berbesanan dengan sahabatku akan terwujud.


"Semoga ini yang terbaik untuk putranya Wiratama Wiratmaja." Annisa membatinnya hanya mampu di ucapkan di dalam hatinya.


****


Sedangkan di kamarnya Tama sedang uring-uringan, sudah berkali-kali mengganti posisi tidurnya, tetapi sangat susah kedua matanya untuk terpejam.


"Apa-apaan di jodohin seperti zaman Siti Nurbaya saja." gerutuan Tama yang berbicara dengan atap kamarnya.


Sebenarnya Tama tidak mau di jodohkan dengan pilihan orang tuanya, tetapi Tama sendiri tidak mempunyai pasangan untuk di perkenalkan dengan orang tuanya. Melihat manik matanya Mama Annisa yang berbinar-binar, membuat Tama tidak tega menolak perjodohan ini.

__ADS_1


Walaupun Tama belum di perkenalkan langsung dengan calon istrinya, baik selembar foto atau apalah yang bisa menjadi petunjuknya, Tama juga tidak punya untuk di selidiki, Tama hanya meraba-raba semoga saja ceweknya cantik dan seksi.


Hari sudah larut, senja mulai datang dengan warna langit berubah warna jingga, senja meninggalkan peraduannya meninggalkan warna gelap. Tama masih bobok nyenyak di kamarnya, padahal malam sudah datang tetapi tidurnya seperti orang koma saja.


Tok! Tok!...


"Tam, bangun udah adzan Maghrib." panggil Mama Annisa. Tetapi tidak ada jawaban, sang empunya tertidur sangat pulas, membuat Annisa meninggalkan kamar putranya.


Setelah membangunkan putranya, tetapi tidak ada jawaban. Annisa lebih memilih kembali ke kamarnya, di kamarnya sudah ada suaminya yang sudah rapi dengan baju Koko, kopiah, dan sarung. Annisa buru-buru masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, Annisa menempatkan dirinya sebagai makmum suaminya.


Dirasa sudah beres, Annisa menyusul suaminya ke bawah yang sudah menunggu di meja makan. Mereka makan malam tanpa kehadiran Tama di tengah-tengah , keduanya makan sangat hening tidak ada yang memulai untuk berbicara.


***


Di Solo dikediaman keluarga Bhakti

__ADS_1


Ibu Melati sangat bahagia tiba-tiba sahabat lamanya menelepon memberikan kabar yang menggembirakan. Ibu mana tak bahagia putrinya akan menikah dengan putra dari sahabatnya, pemilik perusahaan Abadi Group.


"Ibu kenapa senyum-senyum sendiri? Setelah menerima telepon? hayo ngaku siapa?" tanya Kanaya menggoda Ibunya. Hari ini Ibunya sangat terlihat jelas, nampak binar bahagia di matanya.


"Apaan sih, Nay! bukan siapa-siapa kok cuma sahabat ibu di Jakarta."Jawab Ibunya singkat tetapi mudah di pahami maksud Ibunya.


"Cie ... ibu seperti orang sedang jatuh cinta saja, masih suka senyum-senyum." Kanaya menggoda Ibunya kembali.


"Halah Nay, Nay, ibu Ki wes tuwo ora ngerti opo kuwi jatuh cinta (Halah Nay, Nay, ibu ini sudah tua tidak tahu yang namanya jatuh cinta)." Tutur Ibunya menata makanan diatas meja makan.


"Tuwo opo? lha wong ibu isih ayu ikie (tua ap? ibu saja masih cantik)." Sahut Kanaya membantu ibunya membawa makanan ke atas meja makan.


Selesai menata semua makanannya, Kanaya memanggil Bapaknya dan Adiknya untuk makan bersama. Kanaya duduk yang pertama, diikuti Rudi Adiknya, dan kedua orang tuanya. Mereka makan sangat khidmat, tidak ada yang berani bersuara, karena sangat di larang makan sambil berbicara atau mengobrol.


Keluarga Bhakti adalah keluarga panutan, dalam kesederhanaan mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang yang sukses, dan mendapatkan beasiswa di sekolahnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2