
Happy reading
Beberapa hari kemudian
Kanaya menunggu kabar dari suaminya, karena satu hari ini tumben-tumbennya suaminya melupakan dirinya yang biasanya akan selalu menanyakan kabar beritanya setiap hari.
Dengan menopang dagunya kedua ekor matanya melirik kearah kanan kiri, dan atas bawah. Setelah pulang sekolah kebiasaan Kanaya selalu duduk di teras depan, sembari tangannya menghitung orang yang sedang ly depan rumahnya.
Bukan orang yang sombong dan sebagainya, Kanaya selalu bertegur sapa dengan siapa saja yang Kanaya jumpai. Meskipun hanya senyuman tipis, atau Tutur Sapa yang sopan kepada orang yang lebih tua, dan menghargai orang yang lebih muda.
"*Nay, kamu sedang apa?" teriaknya Ibu Kanaya dari dalam rumahnya.
"Ngelihatin jalan, dan menghitung orang yang lewat Buk!" Jawabnya Kanaya dengan nada sedikit berteriak supaya Ibunya mendengar jawabannya.
"Daripada melamun hayu bantu Ibu pindahin kursi ruang tamu..." Tutur ibu Kanaya sembari tangannya menggeret tangan putrinya.
"Hehehe berat atuh Bu, entar kalau nggak kuat gimana Buk?" tanya Kanaya bernegosiasi dengan sang ibu.
"Ahhh kamu bilang aja nggak mau bantu Ibu!" Sahutnya Ibunya dengan pura-pura bernada kesal*.
Ibu Kanaya melepas genggaman tangangnya Kanaya, memilih masuk ke dalam rumah membersihkan tempat yang akan di buat tempat memindahkan barang-barang ke ruang tamu.
Tak...Tak...
__ADS_1
Kanaya berjalan pelan ke dalam rumah untuk menghampiri sang ibu, dan Adiknya yang sedang membersihkan rumahnya.
"***Ada yang bisa Nay bantu?" ucap Kanaya yang tersenyum manis.
"Bantu nyapu aja kak, biar Aku yang angkat barangnya.." Jawabnya Adik Kanaya.
"Beres Dik! ayo semangat***...
Satu jam sudah Kanaya membantu bersih-bersih rumahnya, rasanya badannya remek karena membantu juga angkat junjung sang Ibu.
🍭🍭🍭
Tama sedang sibuk di kantor karena berkasnya harus deadline besok pagi, Tama melupakan makan siangnya, dan juga lupa mengabari sang istri bahwa dirinya sedang sibuk masalah pekerjaan.
Mereka berdua tidak saling bertegur sapa, bukan karena musuhan atau sedang marahan, karena keduanya sedang sibuk dengan pekerjaan. Makan saja mereka abaikan, apalagi untuk bertegur sapa rasanya sungguh pusing tujuh keliling menyelesaikan sampai harus selesai.
Tama menjeda sebentar pekerjaannya, menerawang langit-langit ruangannya ekor matanya terus bergerak-gerak untuk melihat siapa tahu atapnya ada yang bocor? tetapi tidak Tama temukan.
Ahh ternyata hanya prank..
Satu jam, dua jam Tama tidak menemukan jawaban. Mulai menyenderkan tubuhnya ke kursi belakang, menerawang langit-langit ruangannya kembali, tetap saja ada yang kurang.
Tama beranjak dari duduknya untuk berdiri di balkon ruangannya, di bawah ada sepasang kekasih sedang bermesraan di pinggir jalan, yang pria-nya sangat menyayangi wanitanya, dan sebaliknya wanitanya sangat menyayangi si pria-nya.
__ADS_1
Deg
Tama langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri, setengah hari ini tidak ada kabar membuatnya sedikit melupakannya.
Dering pertama terdengar nada sambung di ponsel istrinya
🎶Pada Tuhan semua ku pasrahkan🎶
Deg
Ada rasa bersalah setiap mendengar bait demi bait syair lagu yang ada di nada sambung sang istri. Tama mencoba mendial nomer WhatsApp , terhubung tetapi nihil tidak diangkatnya.
Mencoba lagi untuk menelepon ulang, belum juga berdering langsung di angkat pemilik hatinya.
"Assalamu'alaikum Sayang, maaf mas baru kasih kabar hari ini benar-benar sibuk dengan pekerjaan kantor..." Tutur Tama menjelaskan secara detail, Tama takut istrinya marah, dan berfikiran yang tidak-tidak.
"Walaikumsalam mas-ku sayang, Nay nggak apa-apa Mas sibuk toh Nay di rumah ada ayah ibu, dan juga adik kok..." Jawabnya dengan berjiwa . Kanaya tidak ingin menambah beban sang suami, dan berusaha mengerti pekerjaannya, di sana ada sang kakak yang menjaga suaminya bila terjadi yang tidak diinginkan.
"Udah dulu ya istriku, Mas mau kembali bekerja karena besok harus sudah selesai..." Ujar Tama sedikit tidak enak, lagi-lagi mengabaikan demi sebongkah berlian.
"Iiih Mas mah, ndak pa-pa kali ndak usah sungkan, kan disana Mas untuk bekerja untuk menafkahi aku Mas..." Jawabnya Kanaya.
Tama tersenyum mendengar jawaban sang istri yang begitu dewasa, meskipun masih sekolah tetapi kedewasaannya patut di acungi 4 jempol membuat Tama juga senang, dan tenang, sang istri mengerti akan dirinya, dan juga pekerjaannya.
__ADS_1