
TAk.. TAk!... TAk...
Suara derap langkah kaki seseorang memasuki rumahnya, ekor matanya melirik ke penjuru segala arah. Tidak menemukan seseorang yang di carinya, rumahnya sepi, sunyi seperti tidak ada kehidupan di rumahnya. Rumah yang luas seperti tidak ada penghuninya, biasanya setiap pulang kerja ada yang menyambutnya, kali ini berbeda tidak ada satupun orang yang bisa di tanya?
"Kemana Kanaya?"
Batinnya Tama. derap kakinya mengayun untuk masuk ke ruang keluarga, dan terakhir di dalam dapur nya.
Di ruang khusus buat olahraga untuk mengeluarkan keringat ada mbak Marni yang sedang membersihkan tempatnya. Awalnya Tama sungkan menanyakan kemana istrinya, bukan malu atau apa? Tama sedikit tidak enak saja bila pertanyaan nya malah mengundang hal-hal yang kurang baik.
"Pak Tama cari siapa?"
tanya mbak Marni memberanikan dirinya untuk bertanya duluan. Gelagatnya Tama sangat berubah, gestur tubuh nya seperti ada yang sedang di pikirkan.
"Hhm, Kanaya kemana mbak? tumben rumah sepi, biasanya juga ramai.
"Ibu Kanaya kayaknya sedang menemani si kembar untuk bermain, di taman belakang sepertinya, Pak." Mbak Marni berbicara jujur, tanpa ada kata yang dilebih-lebihkan atau di kurangi.
"Makasih mbak.."
__ADS_1
Setelah mengetahui keberadaan istrinya, Tama segera menuju taman belakang. Taman yang selalu menyejukkan mata, di tumbuhi pohon hijau yang rimbun, beberapa tanaman yang berjajar rapi di sepanjang rumah menuju gazebo.
"Papa..." teriaknya My twins yang sedang bermain berdua , sedang sang istri tertidur pulas dengan berbantalkan lengan nya.
My twins kegirangan melihat sang Papa sudah pulang dari kantor, rasa rindunya seperti gunung yang sama-sama tingginya hanya saja perasaan rindu yang berbeda.
"Hai boys, Papa rindu kalian.." Tama merengkuh tubuh keduanya di dalam dada bidangnya.
"Twins boy juga lindu sekali dengan Papa..."
si kembar semakin merapatkan pelukannya, pelukan sang Papa sangat menghangat kan membuatnya enggan untuk terlepas.
"Obil Papa.." My twins menunjukkan mobil-mobilan terbaru dan limited edition.
"Yang beliin siapa Sayang.." Opa, Oma Papa, kita di ajak jalan-jalan jauh banget dan di beliin mainan ini.."
"Apa Papa suka?"
"Enggak sayang, buat kalian kan ini hadiah dari Opa, Oma untuk twins boys.. "
__ADS_1
Twins boy sudah berpindah tangan pada mbak Marni, karena hari sudah sore, waktunya mereka mandi.
Setelah percakapan dengan putranya, Tama mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ke arah sang istri yang sedang terlelap dalam tidurnya, tidak ingin membangunkannya, Tama pelan-pelan untuk lebih dekat memandangi wajah istrinya.
Menurut seorang Tama semenjak hamil istrinya semakin cantik, seksi, menggairahkan di area tertentu. Hanya memandangi saja, membuat di bawah pusarnya berdenyut seseg celananya.
Tanpa pikir panjang lagi Tama langsung membopong tubuh seksi istri, meskipun tertutup hijab dan pakaian longgar.
Tama bisa melihat lekukan tubuh sang isteri, lekukan yang menjadi candunya, bisa membuat tubuh keduanya kejang-kejang seperti ada aliran listrik.
Memandangi posisi tidur sang istri di kamar, membangkitkan naf su yang di tahannya di gazebo belakang tadi. Tama mulai memainkan peran sebagai suaminya yang sedang menafkahi kebutuhan biologis.
Ulah Tama yang agresif, Nay ikut menggeliat seperti cacing kepanasan. Seperti ada aliran yang membawanya pada arus positif, semakin Tama tidak terkendali untuk mengimbangi permainannya semalam.
Dengan tidak tahu malu nya, Tama mulai mempreteli pakaian istrinya sampai tak memakai sehelai benangpun.
"Massss akh..."
"Sssttt..."
__ADS_1
Nay tidak lagi bersuara, malah semakin menikmati permainan suaminya. Mereka memerankan perannya dengan cara nya sendiri sebagai suami dan istri dalam memenuhi kewajiban sebagai sepasang halal.