Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 177


__ADS_3

Di HemaMart kedua bocah kecil yang memakai seragam sekolah masih asyik menikmati es krim nya, wajahnya pun sudah belepotan kemana-mana tak membuat bocah kecil itu berhenti di tengah jalan.


Rasa cokelat dan vanilla, rasa kesukaan keduanya terutama Mas Ara yang pipi nya sudah cemong-cemong dengan warna-warni es krim di pipi dan baju seragam nya.


Naya yang sedang duduk di sebelahnya mengulum senyum, melihat pemandangan di sebelahnya yang tak berkedip sama sekali matanya.


"Nda mau es klim ini? kalau au mas ala asih, ini buat Nda." Mas Ara menyodorkan tangannya yang berisi bekas es krim nya yang tinggal beberapa suap saja .


"Naya menggeleng, buat mas aja."


"Benelan Nda ndak mau, ental kalau habis dangan angis ya Nda. scoalnya udah abis es klim nya di makan sama mas hihihi."


"Lebay... kamu dik.."


celetuk mas Atya yang semakin tidak suka dengan kemanjaan saudara kembarnya.


"Issh manja..'


"Sepelti adik bayi Esha.. "


"Bialin wlekk.."


Mas Ara menjulurkan lidahnya.


"Sudah-sudah jangan pada berantem, nanti kalau berantem Bunda enggak beliin es krim lagi lho.."


"Mas nya nakal Nda, bukan adik Nda."


"Mas suka ledekin adik, Nda."

__ADS_1


Adu mas Ara yang bibir di tekuk seperti busa kasur yang siap di angkut ke dalam mobil.


"Mas Atya enggak boleh bilang gitu sama adik, adik juga enak boleh bilang mas nakal, ayo minta maaf." Ucap Naya sedikit tegas, tidak ingin salah dalam mengasuh keduanya, selalu mengajarkan untuk meminta maaf bila ada yang berbuat kesalahan.


Setelah perdebatan sengit, keduanya sudah mulai akur lagi. "Ayo mas kita pulang ya, dedek Esha nanti nangis lho nyariin Bunda." Naya berusaha memberikan pengertian ke My twins.


"Ayo Nda, mas juga udah kangen sama dedek Esha." Ucap mas Atya. Mas Atya sudah mengandeng tangan Bundanya untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Tapi mas Ala masih ingin mam es klim, Nda." rengekan mas Ara di mulai.


"Di mam di jalan ya."


"Tapi..."


"Dedek nangis mas, nanti kapan-kapan kita mampir lagi ke sini makan es krim yang banyak, mas boleh pilih apa saja."


"Iya Mas.."


Asyik-asyik...., Naya mengandeng tangan my twins bersisian kanan-kiri. Di dalam mobil keduanya sangat anteng, tidak ada celotehan mesra keduanya. Nampak sekali mas Ara yang menguap berkali-kali, dengan pipi penuh cokelat es krim.


****


Sore hari di taman belakang, Naya dan my twins sedang menikmati sorenya di gazebo belakang rumah. Ada dedek Esha yang sudah mulai pintar berjalan, kaki nya yang kecil mengejar mas nya yang sedang bermain bola.


Esha ketawa cekikikan karena berhasil menangkap bola milik mas twins, senyumannya lebar memperlihatkan deretan giginya yang sudah tumbuh beberapa buah saja.


"Dik, bola nya kasih ke Mas ya."


Si kecil Esha menggeleng, "N..dak boy..eh."

__ADS_1


"Nda, dedeknya nakal bola nya di ambil."


adu nya mas Ara memakai jurusan andalan nya. Dan bibirnya sudah mengerucut, wajahnya pun di tekuk.


"Biarin dedek juga ingin main bareng mas nya, ajak main dedeknya biar bola nya di kasih." Tutur Naya lembut seperti kapas.


Bener kata Bundanya, mereka bermain bersama sampai ketiganya menertawakan kecentilan dedek Esha menari-nari, bertepuk tangan, bahkan tertawa bahagia di sore yang indah di taman belakang.


*****


Pulang dari kantor Tama langsung mandi, dan berganti pakaian untuk bergabung dengan anak-anak dan istrinya di belakang. Dengan pakaian cassual ala-ala rumahan, Tama mulai berjalan kearah orang-orang yang di cintainya.


"Papap ... Pa Pa.."


sapa Esha yang sudah berlari memeluk kaki Papa Tama.


"Putrinya Papa udah cantik, wangi, Cup.."


Tama memuji sang putri, menghadiahi satu kecupan manis.


Tama langsung menggendong putrinya untuk bergabung dengan yang lainnya, ada my twins yang sudah bermandi keringat, sedang beristirahat.


"Papa." sapa My twins keringat mengucur deras.


"Hi boys, Are You Oke!"


"I fine Pa.."


Di taman belakang penuh warna-warni bunga, tanaman beraneka ragam menjadi saksi bisu senja yang indah untuk keluarga kecilnya Wiratama Wiratmaja.

__ADS_1


__ADS_2