
Turun dari sebuah mobil senyum sumringah-nya tercetak jelas di wajahnya Wiratama Wiratmaja, kedua orang tuanya Tama juga tidak kalah bahagianya, bisa bertemu kembali dengan sahabat lamanya, dan juga menantunya. Tidak sabar untuk bertemu dengan Kanaya, yang sedang mengandung Calon penerus keluarga Wiratmaja.
Dua orang yang dulunya pernah bersahabat masa sekolah putih abu-abu, sekarang mereka berdua sudah menjadi besan seperti harapan keduanya yang ingin menjodohkan putra-putrinya kelak keduanya dewasa nanti.
Harapannya terwujud untuk menjodohkan putra-putrinya, sesuai yang keduanya harapan-kan dari dulu, akhirnya mereka berbesanan. Meskipun tidak tinggal satu kota yang sama, bukan berarti mereka berdua putus komunikasi. keduanya masih saja berteman lewat pesan singkat, baik WhatsApp, mau telepon seluler.
🍭🍭🍭
Mereka bertiga sudah mendudukkan dirinya di ruang tamu, sebelumnya mereka sudah di suruh masuk sama yang punya rumah, yang tak lain adalah mertuanya sendiri.
Sangat berbinar kedua matanya, suaminya sudah datang untuk menjemputnya, tetapi ada rasa kesedihan karena dirinya akan berpisah jauh dari orang tuanya. Kanaya tidak kalah bahagianya kedua mertuanya ikut turut menjemputnya.Kanaya langsung mengecup punggung tangan suaminya, dan bergantian ke punggung tangan kedua mertuanya.
"*Duduk sini, Nay!" Tutur Tama menepuk kursi yang kosong di sebelahnya. perintah Tama mutlak, Tama hanya ingin berdekatan dengan sang istri, dan calon dedek di perut istrinya.
'"Iya mas, Kanaya sedikit malu dengan perlakuan suaminya yang manis." Sahutnya Kanaya yang berjalan pelan kearah suaminya, yang sedang menyambutnya dengan senyuman tipis.
Rasanya sangat malu sekali, bisa-bisanya suaminya melakukan perhatian kecil di depan seluruh keluarganya
Kedua pasangan suami-istri yang sedang di mabuk cinta, mereka sedang berpegangan tangan, menurut seorang Kanaya ini sangat memalukan karena belum terbiasa bersikap berlebihan di depan keluarga.
"***Mas iiihhhh lepas, malu di lihat orang..." bisiknya Kanaya di telinga suaminya. sayup-sayup terdengar suara Kanaya, tetapi tidak jelas pengucapannya.
"Enggak pa-pa, mas suka seperti ini..." bisiknya Tama tepat di telinganya Kanaya. Satu kecupan manis mendarat di pelipisnya Kanaya, awalnya Kanaya tidak percaya sikap suaminya yang spontan, tetapi mampu membuat pipi merah di pipinya Kanaya***.
"***Kok pipinya memerah sih, kan cuma mas pegang tangannya bukan yang lainnya..." ucap Tama Menaik turunkan alisnya. Tama ingin menggoda istrinya yang sudah malu, sampai pipinya memerah seperti kepiting rebus.
"Ehemmmm...." Suara deheman mertuanya membuat Kanaya jadi salah tingkah, rasanya sangat malu ingin sekali pergi ke planet Pluto untuk menyembunyikan rasa yang sudah tingkat dewa.
"Mas lepas, Kanaya kebelet ke kamar mandi..." bisiknya Kanaya tetapi di dengar seluruh keluarga yang sedang duduk di ruang tamu***.
Setelah genggaman tangannya terlepas, Kanaya terbirit-birit pergi ke kamar mandi, dan wajahnya sudah semerah tomat di dapur rumahnya.
__ADS_1
Sedang seluruh keluarganya menertawakan sikap Kanaya yang masih malu-malu kucing, setelah Kanaya berlalu ke dalam kamar mandi tawanya langsung pecah.
🍭🍭🍭
Setelah makan malam, Tama dan Kanaya langsung masuk ke kamarnya. Seperti sekarang ini mereka berdua sudah diatas tempat tidur, keduanya tiduran saling memeluk pasangannya.
"***Mas...." Sapa Kanaya memainkan tulisan abstrak di dada suaminya.
"Hemmmm...." Jawabnya Tama singkat.
"Iiihhh nyebelin....!" Tutur Kanaya yang sedikit merajuk. Kanaya sudah membalikkan badannya untuk membalikkan posisi tubuhnya membelakangi suaminya.
"Apa Nay? mas sudah ngantuk..." Ucap Tama dengan kedua matanya yang masih terpejam, tetapi masih mendengar suara sang istri.
"Ya sudah tidur saja, Nay tidak akan ganggu....!" ucap Kanaya dengan ketus***.
Mendengar suara sang istri yang merajuk, membuat kedua matanya Tama terbuka sempurna. Rasa kantuknya seketika hilang, seperti ada yang aneh dengan sang istri, tiba-tiba marah, tiba-tiba merajuk, dan secepatnya juga tertawa.
"Ada apa hemm?" tanya Tama yang sudah membalikkan tubuh sang istri, mereka berdua sudah saling berhadapan, tetapi kedua matanya Kanaya masih menundukkan kepalanya.
"Tatap mas, Nay..." Ujar Tama sedikit tajam.
"Ada apa? bilang sama mas..." Tutur Tama sedikit melunak, dan tatapan matanya berubah menjadi lembut.
"Dedeknya minta di elus-elus Papanya...." Cicitnya Kanaya malu-malu. Kanaya langsung menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya, rasa malunya di buang jauh-jauh daripada nanti nggak bisa tidur, akhirnya Kanaya memberanikan dirinya.
Ingin rasanya Tama menertawakan sikap sang istri yang masih malu-malu, tetapi niatnya Tama urungkan, takut sang istri tambah malu, membuatnya semakin merajuk pasti akan susah untuk membujuknya.
"Ooohhh dedeknya kangen sama Papa ya, atau Bundanya yang kangen?" tanya Tama yang satu tangannya sudah berada di perut sang isteri. Gerakan tangannya sudah memutar-mutar di sekitar perut sang isteri, elusan lembut membawa dampak yang sangat ajaib untuk sang istri, saking lembutnya malah membuat Kanaya tertidur duluan.
Dasar bumil maha benar
__ADS_1
Tama juga ikut masuk ke dalam mimpi bersama sang istri, keduanya saling memeluk, saling memberikan kehangatan ranjang yang sama. Berharap hari esok lebih baik, dan ketika bangun nanti yang ada hanya kebahagiaan menghampiri keluarga kecilnya.
🍭🍭🍭
Sedang di ruang tamu masih asyik berbincang-bincang besan dengan besan, rasanya seperti bernostalgia masa yang lampau, walaupun mereka sudah menjadi satu keluarga bukan berarti mereka melupakan persahabatannya waktu masih sama-sama duduk di bangku sekolah.
Terakhirnya mereka bertemu waktu, Tama dan Kanaya menikah. Itupun mereka tidak sempat mengobrol panjang lebar, di karenakan prosesi pernikahan yang banyak memakan waktu, sedang kedua orang tuanya Tama harus segera kembali ke Jakarta.
Hasilnya seperti malam ini, Mereka berempat seperti sedang balas dendam dengan waktu yang lalu, karena waktu yang kemarin belum bisa bercerita banyak, akhirnya malam ini mereka ingin mencurahkan isi hatinya, atau unek-uneknya.
Malam ini mereka ingin berbagi rasa bahagianya, Enam bulan bagaikan sebentar lagi bagi keempatnya, akan segera lahir cucu di tengah-tengahnya yang pastinya akan menambah kebahagiaan yang sebentar lagi akan ada panggilan tersendiri di masing-masingnya.
Mereka berempat akan mempunyai panggilan tersendiri, seperti kedua orang tuanya Kanaya memilih dirinya di panggil dengan sebutan Yangti, dan Yangkung.
Sedang kedua orang tuanya Tama juga mempunyai panggilan yang berbeda, mereka ingin di panggil Kakek, dan Nenek.
Kedengarannya sangat lucu kan hehehe
Mereka larut dalam obrolan recehnya, sampai tidak bisa mengenal waktu, sedang jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Tetapi rasa kantuknya rasanya hilang di telan angin malam, bila mereka sedang bernostalgia masa yang dulu, masa yang dulu penuh dengan perjuangan, dan kesusahan.
Menjadi seorang yang hebat bukanlah dengan cara yang instan, mereka berempat bekerja keras untuk bisa mendapatkan beasiswa prestasi di sekolahnya, supaya mereka masuk sekolah negeri secara gratis tanpa dipungut biaya apapun.
Perjuangannya berbuah manis, akhirnya mereka berempat di terima di sekolah negeri yang sama.
"***Bila mengingat masa lalu, rasanya ingin menangis, jeng..." ucap ibunya Tama dengan kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Masa lalu jangan di ingat-ingat, nanti kita tidak bisa move On bahasa gaulnya sekarang ini lho jeng...!" sahutnya ibu Kanaya sedikit melempar candaan***.
Mereka berempat langsung tawanya pecah, mendengar candaan besannya pakai bahasa gaul yang sekarang ini, membuat keempatnya langsung tertawa kembali .
__ADS_1
Meskipun usia tidak muda lagi, tetapi bagi keempatnya jiwanya masih tetap muda seperti Tama dan Kanaya bak pengantin baru setiap harinya.