
Satu minggu berlalu.
Selama satu minggu pula suaminya tidak pergi ke kantor, Nay pun sangat kualahan mengurus suaminya yang amat sangat manja, bener-bener seperti bayi besarnya.
Nay pun dibuat geleng-geleng kepala melihat kemanjaan suaminya, tidak seperti biasanya karena suaminya jarang sekali sakit.
"Mas makan ya, Nay suapin." Ujar Nay mengecup kening suaminya.
Demam nya sudah turun, wajahnya juga sudah lebih segar tidak seperti hari-hari kemarin yang selalu kusut.
"Enggak, udah kenyang! seperti ini dulu sudah membuat mas kenyang." Tama berbicara lirih sampai tidak terdengar suaranya, tubuhnya menempel erat dengan istrinya.
"Terus kalau enggak mau makan, nanti kalau sakit lagi! siapa yang mengurus, sedang putra kita masih kecil sangat membutuhkan kita, terutama Bundanya, Pa." Nay terus saja bercerita, menasehati suaminya supaya mau semangat untuk sehat, karena ada putranya yang sangat membutuhkan dirinya.
Tama hanya diam saja, tidak menyahuti ucapan sang isteri.
Apa yang di katakan sang istri ada benarnya, bahwa anak-anak membutuhkan kita sebagai orang tua.
Akhirnya dengan bujukan, rayuan maut istrinya..
Suaminya mau membuka mulutnya, memakan makanan yang di siapkan istrinya, dan meskipun belum banyak yang masuk setidaknya perutnya tidak kosong.
***********
Hampir satu bulan Tama tidak ke kantor, semua pekerjaan di alihkan dari rumah.
Dengan senang-senang susah Reksa sangat aktif mengantar berkas ke rumah adiknya, karena berkas yang masuk membutuhkan persetujuan dari pemilik perusahaan, dan tanda tangan nya.
"Hi bro, sudah sehat belum?" tanya Reksa dari pintu masuk.
Di sebelah tangannya ada beberapa berkas yang sengaja Reksa bawa, berkas yang dibawa nya membutuhkan bubuhan tanda tangan nyaa.
"Alhamdulillah sudah enakn!" jawabnya Tama mengucapkan rasa syukur, di berikan nikmat sakit, dan nikmat sehat.
"Gimana kabarnya kantor? duh kangen juga ngantor..." tanya Tama di sertai dengan nada bercanda, sebenarnya dirinya sudah kangen berkantor seperti sediakala, berhubung ibu suri belum mengijinkan.
"Tama bisa apa?"
"Syukurlah baik-baik saja selama aku tinggal, jadi tenang meninggalkan kantor." Tuturnya dengan senyum kelegaan.
"Mana keponakan tampan ku? kog tidak ada disini! suara tangisan pun tidak terdengar nyaring..." Ujar Reksa celingak-celinguk mencari Dana dan Dapi.
"Mereka sedang di kamar sama Bundanya, maklum lah anak cowok sangat kuat sekali mencari sumbernya." jawabnya Tama membaca berkas yang di bawa Reksa barusan, pandangan nya fokus pada berkas di tangannya.
"Ooohhhhh!" Reksa hanya bersuara singkat.
*********
__ADS_1
Mereka berdua sedang berada di taman belakang, sengaja Tama mengajaknya kesini karena ingin membicarakan masalah perusahaan lebih santai, rileks dengan berbagai macam tumbuhan yang sangat subur, makmur.
"Semua aman terkendali, kamu jangan terlalu memikirkan nya , kalau ada apa-apa aku akan segera telepon yang penting Kamu sehat dulu, baru berangkat ngantor lagi." Tutur Reksa panjang lebar menasehati adik ipar nya, Reksa tidak ingin keponakan tampannya merindukan Papa nya terlalu lama.
"Thanks bro!" ucap Tama adu jotos dengan tangannya bukan untuk memukul, ini hanya tanda persahabatan.
Setelah Reksa berpamitan pulang, karena ada kepentingan pribadi, akhirnya Tama hanya pasrah, merelakan Kaka iparnya pergi sebelum membahas kantor lebih lanjut
Tidak berselang lama, Tama sudah masuk ke kamarnya, melihat pemandangan indah di depannya senyum manis terukir di sudut bibir keduanya.
Tama berniat menyelimuti tubuh istrinya, belum juga selimut terpasang. Nay sudah bangun lebih dulu, karena merasa terganggu dengan suara krusak-krusuk.
"Eughhh...! Nay menggeliat tubuhnya, membuka kelopak matanya untuk menyesuaikan cahaya temperamen di kamarnya.
"Sudah jam berapa mas?" tanya Nay dengan suara khas bangun tidurnya.
Suara serak yang Nay ciptakan mengundang sensasi berbeda di tubuhnya, Tama semakin tidak berkedip memandangi tubuh istrinya dengan daster sebatas paha.
Memperlihatkan kaki jenjangnya, tubuh mulus seperti putih susu.
Gluk! gluk! gluk....
Berkali-kali Tama menelan ludahnya, kerongkongannya terasa kering buat menelan saja sangat susah.
"Mas....." sapa Nay dengan satu bantal melayang di sebelah tubuhnya.
"Iya kenapa Nay?" tanya Tama sangat gugup.
"Ishhh! Mas mah !" Nay memberenggut kesal dengan wajah yang sudah di tekuk, bener-bener sangat gemesin.
Ingin sekali Tama menertawakan istrinya, mencubit pipinya yang mengembung lucu tetapi di tahannya karena takut bila mendapatkan amukan istrinya yang membabi-buta seperti seekor harimau.
Melihat istrinya yang uring-uringan, meninggalkan istrinya karena sudah kebelet ingin ke toilet, Tama memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, sikat gigi, dan berganti pakaian dengan pakaian piyama.
Selesai dengan ritualnya, Tama mengedarkan pandangannya diatas tempat tidur.
"Kosong?"
"Istrinya kemana?
"Baru saja ditinggal sebentar, istrinya main hilang saja!"
*********
Mendengar suara tangis putranya, Nay langsung meloncat dari tempat tidurnya.
Kamarnya yang bersebelahan memudahkan dirinya keluar masuk sesuka hati, tidak perlu memakai pakaian panjang maupun jilbab penutup kepala nya.
__ADS_1
Dengan gerakan leluasa Nay masuk ke kamar putranya yang berada di sebelahnya, terhubung langsung dengan kamar pribadinya.
"Ulluhhh sayang Bunda, kenapa nangis sayang? mau minum?" tanya Nay.
Benar dugaannya bahwa putranya kehausan, menghisapnya sungguh kuat sampai aerola nya terasa ngilu.
Selesai dengan ritualnya, Nay menidurkan kembali putranya di box bayi, nampak sekali nyaman, pulas dalam tidurnya.
"Cintanya Bunda." Nay menghadiahkan kecupan di kening putranya bergantian.
Setelahnya Nay menutup pintu kamarnya kembali, dan beralih naik keatas ranjangnya. Suaminya sudah tidur sangat pulas.
"Sudah tidak panas, sudah sehat!" Nay meraba-raba kening sang suami.
"Tama diam saja, padahal dirinya belum benar-benar tidur hanya menutup mata saja."
"Ingin sekali membuka kelopak matanya, rasanya enggan sekali ketahuan bahwa dirinya sedang berbohong."
"Terus harus bagaimana untuk mendapatkan perhatian dari sang isteri?" Tama berfikir keras, rahim pun sampai mengernyit seolah-olah sedang berfikir serius, padahal ini juga masalah tidak kalah serunya.
"Bun...." Tama membangunkan istrinya dengan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Hmmm." jawab Nay tanpa membuka matanya.
"Nggak bisa tidur Bun!" ucap Tama dengan lirih.
Mendengar suara suaminya, Nay langsung membuka kelopak matanya sepertinya ini mimpi ternyata ini sungguhan.
Meskipun masih foreplay Nay berusaha membuka matanya lebar-lebar, tidak ingin suaminya semakin merajuk.
Nay bergeser tidurnya untuk memeluk suaminya, dan meninabobokan dengan usapan lembut tangannya tidak membuat suaminya terlelap, malah memandangi dirinya dengan intens.
"Kog belum tidur sih!"
"Sudah ngantuk, tapi belum mau terpejam, Bun!"
"Bunda harus apa, mas? biar cepat tidur karena sudah malam juga, aku juga sudah ngantuk berat!"
"Yang di bawah belum mau tidur, sebelum di usap-usap dedeknya, bantuin tidurnya Bun!." ucap Tama memelas, mengarahkan tangan istrinya ke bagian terlarang nya.
"Auuuhhhh ahhhh!" Nay semakin meremas nya.
Sedikit jengkel dengan sikap suaminya yang semakin mesum.
"Sakit tahu Bun!" adunya Tama mengeluhkan kesakitan akibat remas-remas tangan istrinya.
"Ini aset mahal, berharga yang bikin Bunda merem melek, pencipta bibit unggul, mengerang akhh uhhh."
__ADS_1
"Rasain! habisnya nakal, mesum!" ucap Nay menjulurkan lidahnya.
Nay langsung memunggungi tubuh suaminya, dengan mulut yang terus komat-kamit.