Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 11


__ADS_3

Flasblack On


Satu hari cukup baginya untuk beristirahat sejenak, sebelum memulai aktivitas barunya di Surabaya.


Sesuai jadwal yang telah ditentukan, Tama berada di Surabaya sekitar satu bulan, bahkan bisa juga dua bulan tetapi semua tergantung kebutuhan.


Dalam Perjalanan ke kamar, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak tubuhnya, Tama sedikit terhuyung sebelum berpegangan dengan dinding di sebelahnya.


Sampai di kamarnya Tama meraba-raba ponsel di saku celananya, nihil ponselnya tidak ketemu.


Tama dan Reksa tidak satu kamar, kamar mereka bersebelahan, jadi jika Tama memerlukan sesuatu, kamarnya Reksa berada di sebelahnya.


Tama bergegas turun dari tempat tidur, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, hari ini kebetulan ada rapat dadakan pembahasan proyek baru yang rencananya akan di mulai pukul 09.00 WIB.


Setelah membersihkan tubuhnya, Tama sudah berpakaian rapi dengan setelan jas tuxedo-nya. Kebetulan juga selesai merapikan penampilannya, pintu kamarnya di ketok-ketok seseorang dari luar.


"Tok!....Tok!...." anggap saja itu suara pintu.


"Iya, tunggu sebentar." jawabnya Tama masih berdiri di depan cermin.


"Reksa tunggu di bawah, Tam!" Tutur Reksa dari balik pintu kamar hotelnya.


"Oke, satu menit lagi turun ke bawah!" jawabnya Tama dari dalam.


Dirasa penampilannya sudah rapi, Tama turun ke bawah menghampiri sekretarisnya di bawah untuk sarapan bersama.


⭐⭐⭐


Di ruangannya Tama sedang memeriksa beberapa berkas yang masuk, di Surabaya merupakan cabang baru perusahaan Abadi Group, lokasinya tidak jauh dari kota Surabaya.


"Pak satu menit lagi rapat dimulai!" Tutur Reksa dari balik pintu. Bibirnya Reksa tempelkan di daun pintu, supaya bosnya bisa mendengarnya dengan jelas.


"Baik, Sa!" jawabnya bangkit dari tempat duduknya.


Rapat berjalan lancar sesuai harapan Tama, tidak ada permasalahan yang berarti berkaitan para investor menanamkan sahamnya di perusahaan Abadi Group di Surabaya.


⭐⭐⭐

__ADS_1


Setelah berkutat dengan file-file diatas mejanya, mulai merenggangkan otot-otot yang sedikit kaku.


Berulang-ulang melihat jam tangannya, kebetulan waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, yang berarti jam makan siang sudah mulai.


Diluar ruangan Reksa sudah berinisiatif untuk membelikan Tama makan siang. Akhirnya mereka berdua sedang menyantap hidangan makan siangnya, meskipun dengan menu sederhananya mereka berdua makan sangat lahap.


⭐⭐⭐


Satu minggu di Surabaya mereka berdua lewati dengan lancar, dan tidak ada kendala sama sekali.


Tama menarik nafasnya, dan membuangnya secara pelan. Hanya foto pernikahan yang selalu Tama bawa kemana-mana, sebenarnya dirinya sangat merindukan pelukan sang istri, yang menurutnya tempat ternyaman, tempatnya untuk pulang.


"Mas kangen!" tangannya membelai bingkai foto kecil yang selalu Tama simpan di dalam dompetnya.


"Maaf mas belum bisa pulang, perusahaan llagi membutuhkan mas!" Tama terdiam sejenak untuk menerawang masa-masa menikmati menjadi pengantin baru.


Ahhh adikku langsung bangun, sekedar mengingat masa-masa pengantin baru


"Lihat dik, adikku langsung bangun padahal sekedar mengingat saja!" ucap Tama sedikit terkekeh.


Ahhh mas kengen, dik!


⭐⭐⭐


Dua minggu sudah terlewati dengan baik, tiba-tiba di tengah lamunan-nya, Tama di kejutkan dengan suara ponselnya yang memekik telinganya.


Papa


Buru-buru Tama mendialkan nomor ponselnya, mereka berdua berbicara sangat serius, ada sedikit raut ketegangan antara keduanya.


Setelah mendengar penjelasan sang Papa, sedikit ada perasaannya tidak tenang, perusahaan di Jakarta sedang ada masalah, membuatnya harus kembali ke Jakarta secepatnya.


Tama sedang memijat pelipisnya rasa pusingnya membuatnya berdenyut nyeri, lagi-lagi Tama di buat tidak tenang, bingung mau yang mana yang di dahulukan, di Jakarta membutuhkan dirinya, dan di Surabaya pun sama membutuhkan dirinya.


Setelah mengadakan rapat dengan sekretarisnya, akhirnya Reksa lah yang harus pulang ke Jakarta lebih dulu, untuk sementara waktu Tama memilih menetap di Surabaya.


Di Jakarta masih ada sang Papa yang bisa menghandle perusahaannya, dan ada Reksa juga yang bantu-bantu papanya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan urusan kantornya, Tama keluar dari ruangannya dengan senyum di sudut bibirnya tidak pernah lepas. Sesekali Tama bersenandung kecil di perjalanan pulang ke kamar hotelnya, tempat menginapnya tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya. Masih bisa di jangkau dengan jalan kaki, atau naik kendaraan, simple kan!!!


Jalan kaki menuju kamar hotelnya berjalan lancar, tidak ada kendala, Tama sang menikmati momen yang langka, hanya di lakukan di Surabaya.


Sampai di hotel langsung membersihkan tubuhnya, dan membuka laptopnya. Tama mulai mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda, akibat telpon sang Papa yang tiba-tiba membuatnya sedikit syock.


⭐⭐⭐


Tiga hari kemudian, Tama memutuskan Reksa akan kembali dulu ke Jakarta. Di kamarnya Reksa sedang membereskan pakaian untuk di masukkan ke dalam koper, rencananya besok Reksa akan bertolak ke Jakarta lebih dulu.


Keesokan harinya, Reksa sudah rapi dengan pakaian santainya. Mereka berdua keluar secara bersamaan, Reksa sudah menggeret kopernya, sedang Tama menjinjing tas kerja yang berisi laptop dan beberapa dokumen penting.


Sebelum bertolak ke bandara, Reksa mampir sebentar ke kantornya untuk mengambil beberapa barang miliknya.


Mereka tengah sarapan bersama, mumpung masih ada waktu 30 menit lamanya sebelum berangkat ke bandara. Di tengah sarapannya, keduanya berbicara dengan sebuah candaan, sesekali Tama menertawakan Reksa atas kekonyolan waktu masih sekolah.


Setelah menikmati sarapannya, Tama mengantar Reksa ke bandara. Sengaja Tama memilihkan penerbangan pagi hari, supaya sampai di Jakarta Reksa bisa beristirahat sejenak, sebelum esok harinya kembali ke kantor.


"Take care, bro!" Tama memberikan salam perpisahan.


"Kamu juga adik ipar, awas kalau macam-macam tidak dapat jatah dari adikku!" seloroh Reksa untuk menggoda sahabatnya. meskipun tama bukan sang Casanova, tetapi tidak kemungkinan Tama akan terjerat wanita lain di Surabaya.


"Tenang saja bro, masih tersegel dengan aman sampai kembali ke Jakarta nanti!" Tutur Tama dengan memberikan candaan kecil, supaya tidak ada ketegangan antara keduanya.


Hahahaha mereka berdua tertawa terbahak-bahak, sampai banyak pasang mata melihat kearah keduanya, tetapi keduanya nampak cuek saja tidak menanggapinya.


Setelah pulang dari bandara, Tama kembali ke kantornya. Sekretarisnya di gantikan sementara oleh orang yang di percaya, menjadi kaki tangan perusahaannya yang berada di Surabaya.


Sore ini Tama pulang ke hotelnya memilih berjalan kaki, tiba-tiba di pertengahan jalan ada demo besar-besaran. Niatnya Tama ingin melipir jalan, untuk melewati para pendemo, tetapi naas Rama kena sasaran pendemo anarkis.


Demo tidak bisa di hindarkan, dengan membabi-buta Tama terkena beberapa pukulan, tendangan, berulang-ulang sudah menjelaskan, dan minta tolong, tetapi nihil kejadian yang tiba-tiba membuatnya syock, dan hantaman benda keras membuatnya tidak sadarkan dirii.


Setelah mendengar sirine polisi, baru para pendemo ada yang melarikan diri, dan ada pula yang tertangkap polisi.


Selesai di bawa ke rumah sakit, beberapa jam kemudian Tama tersadar dan mengeluhkan kepalanya sakit. Dari hasil pemeriksaannya Tama mengalami amnesia kecil, yang membuatnya memori otaknya menghilangkan ingatannya.


Di Krisan boleh, tetapi jangan menghujat. Menyampaikan Krisan itu yang sopan ya readers biar enak di baca hehehe

__ADS_1


__ADS_2