Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 109


__ADS_3

Satu Tahun Kemudian......


Mereka bertiga Tama dan kedua jagoannya sedang bermain bertiga, Tama selaku dari orang tua baby boys twins sangat jeli mengawasi tingkah mengemaskan jagoannya.


Nafas dua jagoannya nampak ngos-ngosan seperti orang sedang lomba lari maraton antar RT (Rukun Tetangga) hehehehe......


Mereka berdua sedang bermain main petak umpet, Wiratama yang menjadi wangsit diantara keduanya.


Tingkah lucu nan menggemaskan bocah kecil, membuatnya berkali-kali mengulum senyum terukir di sudut bibirnya.


Wiratama tersenyum manis menyambut uluran tangan dua jagoannya, mereka nampak lelah sekali dengan keringat bercucuran dahinya.


Baru saja jagoannya bermain petak umpet di taman belakang bersama saudara kembarnya, meskipun jalannya belum begitu lancar, ada gurat kebahagiaan di wajah putranya bisa bermain di alam terbuka seperti sekarang ini.


Tama mengusap lembut rambut putranya bergantian, dan menghadiahi satu kecupan bergantian juga.


"Abang sudah yuk main nya, lihat adik juga udah kecapekan." Ucap Tama dengan lembut. Tangannya membelai pipi putranya dengan sayang.


"Ental agi Papa, ambang asih ingin ain agi!" sahut Abang Dana. Dana mengusap keringat di keningnya, dan kaki kecilnya bergerak-gerak lucu.


"Tuh lihat adiknya sudah kecapekan.." Tutur Tama. Sebagai seorang Papa bagi kedua jagoannya, bukanlah mudah, Harus siap siaga membantu mengasuh keduanya.


"Dana mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuknya, seolah-olah Dana sedang berfikir, gaya nya pun seperti orang dewasa! sungguh mengenaskan sekali!"


Tama melihat putranya terkagum-kagum dengan kelucuan nya, sangat mengemaskan sekali. Siapapun yang melihatnya pasti akan ikut tersenyum, dan mencubit pipi gembulnya sampai menangis.


"Adik apek ambang, ecok agi ya ain nya! cakalang Ita istilahat duyu sembali nunggu Nda bawa inum ya ya ya !" Ucap Dapi dengan memainkan matanya, Dapi nampak lucu hanya dengan kedipan manis.


"Oce, api ecok adik ndak oleh culang agi, halus nurut ama ambang." Tutur Dana.


Dana selalu mengalah demi sang adik, karena baginya mereka adalah saudara kembar yang tak terpisahkan satu dengan yang lainnya.


"Oce ambang." Mereka berdua menautkan jari kelingking sebagai tanda persetujuan, bahwa mereka besok akan bermain kembali secara bersama.

__ADS_1


"Pintarnya anak-anak Papa, kalian harus saling menyayangi, tidak boleh berantem karena kalian berdua saudara kembar."


"Ita kembal Papa?"


"Iya sayang!"


"Yeeeaaaahhhh Ita kembal!" Mereka berdua bersorak gembira, adu tos ria.


Tama yang melihatnya tersenyum simpul, dan terharu melihat putranya yang saling rukun satu dengan lainnya.


Berharap ini akan selamanya, baik-baik terus jagoannya Papa dan Bunda!


Papa dan Bunda sangat menyayangi kalian berdua selamanya


************


Dari arah dapur Kanaya tersenyum tipis, melihat putranya dan suaminya saling berpelukan mesra, menyalurkan kehangatan dari ketiganya.


Dari arah yang berlawanan, mata mereka saling bertemu. Tatapan keduanya penuh cinta, dari bahasa mata pun Tama tahu bahwa istrinya sedang tidak baik-baik .


"Are You Oke!" bisiknya Tama tepat di daun telinga sang isteri.


"Kanaya membalasnya dengan kedipan mata, dan senyum manisnya.." bahwa dirinya tidak apa-apa.


**********


Setelah memandikan putranya, dan memakai kan pakaian untuk keduanya. Mereka berdua sudah duduk manis di ruang keluarga, Kanaya hanya menyetel telivisi khusus kartun yang di peruntukan untuk dua malaikat kecilnya.


"Bunda mandi dulu, kalian berdua disini jangan kemana-mana, duduknya yang anteng, tidak boleh berantem!" Ujar Nay menasehati keduanya dengan lembut.


"Aik-aik Nda!" Ucap dua kembar saling bersahutan.


"Pintarnya!" ucap Kanaya mengecup pipi putranya bergantian kanan kiri.

__ADS_1


Kanaya beranjak dari ruang keluarga untuk kembali ke kamarnya, tangga satu, dua, tiga, baru di tangga keempat Kanaya berpapasan langsung dengan suaminya yang sudah selesai dengan ritual mandinya.


"Titip anak-anak, Pa! Bunda mandi dulu." Tutur Nay berpapasan dengan wajah suaminya, wajahnya saling melempar senyum, senyum penuh dengan cinta.


"Pasti Bun!" Tama mengacungkan jari jempol nya, dan sudut bibirnya membentuk bulan sabit.


Setelah sang istri berlalu dari hadapannya, Tama meneruskan langkahnya ke tempat anak-anak sedang menonton televisi.


Melihat dari jauh saja sudah membuatnya mengulum senyum, jagoannya nampak anteng menikmati layar televisi.


"Papa! cini! .." teriaknya Abang Dana. Dana melambaikan tangannya, berharap Papa nya datang menghampiri nya.


"Papa Ita cini! Ita nonton baleng-baleng ama ambang dan adik, Pa." Seru Adik Dapi yang tidak kalah bersemangat dari sang Abang.


Dapi nampak kegirangan melihat wajah teduh Papa nya berjalan ke arah mereka berdua.


"Kenapa? hmmm ." tanya Tama sembari tersenyum, dan mendudukkan dirinya di sebelah sang putra.


"Nonton baleng-baleng." jawab keduanya secara kompakan.


Akhirnya mereka bertiga duduk berdampingan, Dana dan Dapi pun bergelayut manja di lengan Papa nya. Sedangkan Tama berada di tengah-tengah antara keduanya, ketiganya nampak anteng dengan remote di tangan malaikat kecilnya.


#Maaf kalau Up belum bisa panjang seperti rel kereta api, othor sedang bahagia nich makanya othor Up cerita, walaupun pendek ndak pa-pa ya, semoga masih ada yang menunggu cerita dari othor#


#Beribu-ribu terimakasih othor ucapkan terima kasih buat semua readers yang sudah setia membaca cerita othor#


#Alhamdulillah akhirnya Kaka othor sudah di ijinkan dokternya pulang ke rumah kemarin, hari ini setelah pulang dari RSUD Kaka othor menjalani isoman selama sepuluh hari. Tetap ya mematuhi protokol kesehatan, sesuai yang di terapkan dan di anjurkan dari pihak RSUD#


#Doakan ya teman-teman semoga swab selanjutnya negatif, bisa kembali menjalani aktivitas dengan normal. semoga teman-teman semua di berikan kesehatan jasmani dan rohani Aamiin....#


Salam sehat selalu, semoga pandemi di negara kita Indonesia cepat berlalu, kita bisa menjalani rutinitas seperti sediakala


Aamiin yra.....

__ADS_1


__ADS_2