
Di kamarnya Tama membolak-balikkan badannya ke kiri ke kanan, atau tengkurap, miring sampai terlentang. Tama ingin mencari posisi yang nyaman dalam tidurnya, kebetulan hari ini weekand tanpa tidak keluar rumah, biasanya Tama akan melakukan jogging pagi di sekitar kompleks rumahnya. Hitung-hitung untuk membuang lemak di tubuhnya, dan menghilangkan stres rutinitas yang padat.
Pagi sekali Tama sudah bangun, seperti biasa Tama sudah keluar rumah untuk menghirup udara pagi.
Weekand sangat di tunggu-tunggu oleh semua orang, tidak terkecuali dengan Tama. Tama berlari kecil untuk menuju taman yang tidak terlalu jauh dengan rumahnya.
Di taman ini banyak muda-mudi berolahraga, ada yang sekedar sarapan saja, ada yang tebar pesona, atau mengajak keluarganya untuk menikmati weekand dengan berlibur tipis-tipis.
Perusahaan yang di pegang Tama mulai berangsur-angsur membaik, keadaan perusahaan sudah mulai stabil kembali seperti dulu.Tama juga sudah bernafas dengan lega, yang ada di pikirannya adalah persiapan pernikahannya yang di majukan, sebelum calon istrinya lulus sekolah Tama harus segera menikahi-nya, takut Kanaya ke pincut pria lain.
Tama hanya mengiyakan keputusan kedua belah keluarga, yang penting kedua orang tuanya bahagia, bisa melihat wajahnya tersenyum seperti sediakala. Meskipun pernikahan ini tidak di inginkan, tetapi tidak ingin main-main dalam pernikahan, atau sampai ada kata cerai tidak pernah terpikirkan di pernikahannya kelak. Tama akan berusaha untuk mempertahankan pernikahannya, meskipun tidak ada cinta di antara keduanya, tidak ada salahnya Tama mulai mencintai calon istrinya.
__ADS_1
Tama larut dalam pikirannya, pikirannya bercabang kemana-mana entah kemana, tidak terasa Tama tidur di sofa ruang tamu dengan telivisi yang menyala yang menonton dirinya.
****
Kanaya menatap langit-langit kamarnya, pikirannya tidak jelas, bayangan percakapan kedua orang tuanya memenuhi otak cantiknya.
Bagai disambar petir di siang bolong, pernikahan di majukan, ujian Nasional sekolah yang tinggal tiga bulan lagi. Pikiran Kanaya berkecamuk kemana-mana, belum selesai mempersiapkan dirinya untuk ujian Nasional di sekolahnya, Kanaya di hadapankan dengan kenyataan bahwa pernikahannya di percepat.
"**Calon suami saja Kanaya belum kenal, ketemu juga belum, bisa-bisanya di percepat hari pernikahan." Kanaya menggerutu sembari tangannya memukul-mukul bantal.
Kanaya ingin mengambil ponselnya untuk menelepon sahabatnya, tetapi niatnya di urungkan. Kanaya tidak mau sahabatnya tahu bahwa Kanaya sudah di lamar, akan menikah di waktu yang dekat.
__ADS_1
Meskipun konsep pernikahannya sederhana, hanya di hadiri keluarga inti saja, tetapi membuatnya berdebar-debar. Kanaya ingin merahasiakan pernikahannya, sampai waktu yang belum bisa di pastikan, menurutnya itu lebih baik daripada pihak sekolah tahu yang ada Kanaya di bulli satu sekolahan.
***
Kedua orang tuanya Kanaya mempersiapkan acara pernikahan putrinya jauh dari kata mewah, hanya dekorasi sederhana, tetangga kanan kiri, kerabat dekat saja.
Tidak kurang satu bulan lagi Kanaya Syah menjadi istri seorang Presdir dari perusahaan Abadi Group, yang di pegang langsung Wiratama Wiratmaja, Ceo tertampan di abad ini. Berkat kerja kerasnya Tama mendapatkan predikat Ceo terkaya, untuk ceo-ceo seusianya Tama, di tambah lagi Tama memiliki wajah yang rupawan blasteran Indonesia-Belanda.
Persiapan pernikahan sudah 70%, tidak ada fiting baju pengantin berdua, dikarenakan jarak yang begitu jauh dan Tama tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Tama hanya cutu 3 hari saja, selebihnya Tama sudah masuk kerja seperti biasa.
Mengenai tempat tinggal, Tama ikut maunya Kanaya saja karena Tama menyadari Kanaya tercatat siswi kelas tiga SMA. Hanya hitungan bulan saja Kanaya akan di sibukkan dengan persiapan ujian Nasional, dan persiapan masuk perguruan tinggi.
__ADS_1
**Partnya sedikit, antara ingin up atau Hiatus dulu, karena dua novel yang belum tamat untuk sesion dua.
Sebenarnya ada yang suka nggak ya dengan novel ini? coret-coret yuk di kolom komentar**.....