
Tiga hari sudah mereka menikah, Kanaya sudah masuk ke sekolah sedangkan Tama masih cuti dari kantornya, dan menghandle pekerjaan-nya dari sini. Selama menikah belum ada berubah signifikan dalam rumah tangganya, selama tiga hari pula Tama belum meminta haknya untuk menyempurnakan ibadahnya dalam menikah.
Tama sudah membulatkan tekadnya sebelum kembali ke Jakarta, Tama harus bisa meminta haknya, bukannya Tama egois, atau Tama menang sendiri memaksa kehendaknya. Ini semua Tama lakukan demi memberikan nafkah batin maupun lahir kepada istrinya sebagai sepasang suami-istri.
Pagi seperti biasanya Tama membiasakan dirinya hidup di rumah mertuanya, ya mungkin tidak sebanding dengan rumahnya yang berada di Jakarta, tetapi Tama tidak ingin menyinggung perasaan mertuanya atau keluarga istrinya.
Mereka berdua tidur hanya saling memeluk, mendekap tanpa berani saling menyentuh ke pusat intinya masing-masing. Ada keraguan di dirinya Tama, ada rasa malu bila di tolak sang istri yang notabenenya istri syahnya di mata hukum dan negara.
Pagi ini, pertama kalinya seorang Tama CEO dari perusahaan Abadi Group mengantar istrinya menggunakan taksi, maklum Tama tidak mempunyai mobil yang bisa mengantar jemput istrinya ke sekolah. Bukannya Tama pelit atau apa? tetapi karena permintaan istrinya membuat Tama menurunkan egonya demi kepentingan bersama.
Setelah memesan taksi, Tama turun ke bawah terlebih dahulu sedangkan Kanaya baru selesai mandi dan berganti pakaian. Sekarang Tama duduk di ruang tamu sembari membaca surat kabar pagi ini, sedangkan ibu mertuanya sibuk di dalam dapur, Bapak mertuanya sedang menyirami tanaman yang berada di depan rumahnya.
__ADS_1
Berbicara tentang Reksa, sekaligus kakak ipar, sekertarisnya di kantor sudah berangkat ke Jakarta dulu, satu hari sesudah Adiknya Kanaya menikah.
***
Di dalam kamarnya Kanaya sedang berdandan tipis-tipis, ada semburat merah di pipinya setiap kali Kanaya bertatap muka dengan suaminya. Ada rasa yang tak biasa, ada rasa yang susah untuk di ungkapkan, apalagi ketika berdekatan dengan suaminya, jantung Kanaya berdetak sangat kencang.
"Ada apa dengan diriku?" guman Kanaya meraba-raba dadanya.
"Aku enggak boleh jatuh cinta dulu, sebelum suamiku jatuh cinta kepadaku." batinnya Kanaya**.
Di rasanya penampilan sudah rapi, Kanaya keluar kamar sembari memakai tas ranselnya di punggungnya. Kanaya keluar kamar bersenandung ria, bernyanyi lagu klasik kesukaannya, terkadang juga bernyanyi lagu dangdut koplo yang lagi ngetrend di masa sekarang.
__ADS_1
"Nay, Tam! sarapan dulu tadi Ibu masak spesial." Tutur Ibunya yang sudah menghidangkan menu makan pagi.
Tanpa basa-basi Kanaya langsung ngebirit ke bangku meja makan, diikuti Tama yang tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala melihat istri kecil yang menggemaskan.
Selesai sarapan, keduanya berangkat ke sekolah terjadi keheningan di dalam mobilnya. Tidak ada yang berbicara sampai Kanaya sampai ke depan sekolahnya, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Meskipun tidak ada kata yang terucap di bibirnya Kanaya, tetapi Kanaya selalu menghormati, menghargai Tama sebagai suaminya.
Kanaya selalu berbakti dengan suaminya, tidak lupa juga Kanaya selalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Dan selalu berpamitan bila ada jalan dengan dua sahabatnya atau sedang ada tugas diluar jam sekolah.
Setelah berpamitan dengan suaminya, Kanaya berjalan menuju kelasnya sesekali menengok ke belakang untuk melihat suami masih di situ apa sudah pergi. Semuanya tidak pernah luput dari perhatian Tama, meskipun Tama berada di dalam mobil, tetapi Tama tahu gerak-gerik istrinya.
__ADS_1
Segini dulu ya, sepertinya part ini tidak nyambung, maaf jarang Up.