
Beberapa jam kemudian.....
Setelah tamu undangan sudah mulai pulang, tinggal keluarga kedua belah pihak yang Mas stay di tempat, mereka berbicara banyak dan saling melepas kangen, maklum mereka jarang bertemu bila tidak ada acara keluarga seperti ini.
Mereka menganggap acara keluarga merupakan ajang untuk reuni antar keluarga, di mana mereka berkumpul untuk saling silaturahim.
Sebelum tamu undangan pulang, Kanaya sudah minta ijin untuk ke kamar dulu, di karenakan kondisi badan yang sedikit kurang sehat.
Di kamarnya Kanaya sudah merebahkan tubuhnya, perutnya yang sudah membuncit rasanya tidak enak bila dibuat terlalu lama untuk duduk. Makanya Kanaya merasa pegal, dan pinggang nya sedikit tidak nyaman.
"Nyesek ya dik, diajak Bunda buat duduk terus." Tutur Kanaya sembari tangannya membelai perutnya yang sudah sangat membuncit.
"Duk... Duk, auuhhhh...." tendangan di dalam perutnya membuatnya sedikit meringis. Calon anaknya merespon perkataan Bundanya, belaian lembut dari sang Bunda membuatnya ingin menyapa Bundanya.
Tama yang baru saja keluar dari kamar mandi wajahnya langsung cemas, ada raut kekhawatiran di wajahnya, tat kala mendengar suara rintihan sang istri.
"Kenapa Nay?" tanya Tama yang mulai pucat pasi wajahnya.
__ADS_1
"Adek nendang-nendang mas, tendangannya seperti sedang main bola sangat terasa." jawabnya Kanaya masih saja meringis, sembari tangannya memegangi perutnya yang nampak menonjol.
Mendengar kata menendang, membuat seorang Tama takjub, ternyata calon anaknya sangat aktif di perut Bundanya. Dengan gerakan sedikit takut-takut, Tama mulai menempelkan tangannya di perut sang isteri, mulai membelai nya lembut.
"Duk....Duk.... Lagi-lagi calon anaknya menendang, mereka ingin menyapa Papa nya..Wah adik nendang lagi Nay." seru Tama dengan wajah yang berbinar bahagia.
Mereka berdua menikmati tendangan penalti calon anaknya, meskipun masih di dalam kandungan, Tama yakin yang lahir nanti pasti seorang putra. Bisa di rasakan mulai dari keaktifannya di dalam perutnya, dan tendangan cukup intens seperti sedang main bola.
Mereka larut dalam euforia kebahagiaan, sampai mereka menitikan air matanya. Bukan air mata kesedihan, tetapi rasa yang membuncah di hatinya. Tiga bulan lagi ada anggota baru, sebagai pelengkap rumah tangganya, akan ada tangis yang mewarnai rumahnya.
Mereka berdua sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Hari yang membuat kedua keluarga berbahagia, dengan kelahiran calon cucu kedua belah keluarga. Menyempurnakan rumah tangganya Tama dan Kanaya, tempat mereka melepas rasa lelah, letih, dan kurang tidur, jika calon anaknya sudah lahir.
Keesokan paginya, mereka berencana untuk kontrol ke dokter dulu sebelum mereka bertolak kembali ke Jakarta. Kanaya harus ikhlas, melepaskan dirinya dari keluarganya, dan kembali lagi ikut dengan suaminya.
Senyum tidak pernah lepas dari sudut bibirnya, lagi-lagi kebahagiaan menghampiri keluarga kecilnya mereka. Setelah memeriksakan kandungannya, Kanaya dan Tama tidak bisa berkata-kata lagi, atas di limpahkan Rahmat, dan rezeki berupa calon anak kembar.
"Makasih sayang, sudah mau mengandung anakku!" Ucap Tama menjajarkan tubuhnya, dan Tama mengecup perut sang isteri.
__ADS_1
"Bukan anakku saja, tapi anak kita!" Seru Kanaya sedikit kesal dengan perkataan sang suami, yang menyebutkan anakku saja.
"Iya iya maaf maksud mas itu anak-anak kita, kan yang bikin kita berdua au ah uh..." Tama menaik turun kan alisnya, dengan tatapan yang mesum.
"Mesummmm!" Kanaya meninggalkan sang suami.
Setelah menebus obat yang di tuliskan dokternya, mereka kembali menjelajahi jalanan kota Solo. Sang isteri ingin jalan-jalan bentar, sebelum esok hari harus kembali ikut ke Jakarta bareng suaminya, dan kedua mertuanya.
Di dalam mobil hanya keheningan, hanya ada suara musik yang menemani perjalanan mereka berdua. Sesekali Kanaya mengulum senyum, mendengar penjelasan sang dokter bahwa dirinya mengandung baby twins, seakan-akan dunianya banyak bintang mengelilingi nya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, ada apa Nay?" tanya Tama menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Untung jalannya sepi, coba kalau ramai pasti sudah di klakson dari belakang.
"Enggak pa-pa!" jawabnya Kanaya singkat.
Mendengar jawaban sang istri, Tama tidak menanyakan lagi, Tama memilih melajukan mobilnya kembali untuk pulang ke rumah.
*Terimakasih masih di berikan umur yang panjang, masih di berikan kesempatan kedua, sungguh bahagia bisa kembali ke keluarganya. Mendampingi sang istri dalam masa kehamilan, sampai melahirkan nanti .
__ADS_1
Percayalah pasti akan ada pelangi setelah hujan๐๐๐
Setiap Ada kesusahan pasti akan ada kemudahan๐๐๐*