Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 88


__ADS_3

Kanaya menggeliat tubuhnya, hari sudah beranjak siang Kanaya tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di kamarnya. Lebih memilih merapatkan selimutnya kembali daripada membuka kelopak matanya, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk lewat jendela kamar.


Detik, menit, bahkan jam bergerak sangat cepat meninggalkan pagi yang indah, dan tergantikan dengan sinar matahari yang bersinar sangat cerah siang ini.


Kanaya masih dengan mimpi indahnya, dalam tidurpun senyum-senyum sendiri persis seperti sedang bermimpi hal yang membahagiakan.


Dengan mengeratkan genggaman selimut di tangannya, Kanaya semakin hanyut dalam buaian mimpi yang indah. Seakan-akan melupakan kejadian beberapa hari ini yang sangat menguras perasaan, dan hatinya terasa tercabik-cabik atas sikap sang suami yang berubah.


Meskipun perjalanan cintanya berawal dari sebuah perjodohan, bukan berarti tidak ada cinta diantara keduanya.


Rasa cinta mereka tumbuh mekar indah dalam perjalanan berumah tangga, semakin besar rasa itu semenjak hadir calon baby twins di dalam kandungan.


Terkadang mereka berbeda prinsip, tidak sejalan dengan sikap yang sama-sama masih egois, tapi Kanaya berusaha untuk mengalah dalam mempertahankan biduk rumah tangganya.


Masih banyak jalan menuju Roma, sama halnya masih banyak jalan kebahagiaan untuk rumah tangganya.


********


Sampai di kantornya Tama langsung masuk ke ruangannya, sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh sekretaris nya. Mereka berdua akan menghadiri rapat di cafe XXX yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantornya, semua berkas sudah siap menunggu lima menit lagi mereka akan berangkat ke cafe XXX.


Mereka sudah tiba di cafe XXX, keduanya berjalan beriringan banyak yang tidak tahu bahwa keduanya dulu seorang sahabat, tetapi sekarang mempunyai jabatan baru sebagai sekretaris dan Kaka iparnya.


"Mana tempatnya, Sa ehhh salah maksudnya Kaka ipar?" Tama bertanya kepada Reksa, sesekali ekor matanya celingukan mencari keberadaan seorang rekan bisnisnya.


"Sebentar Reksa hubungi dulu kliennya." jawabnya Reksa. Reksa memilih menepi dari keramaian, memojokkan dirinya sebentar di dalam sudut ruangan, Reksa merogoh ponselnya untuk menghubungi kliennya.


Dering panggilan ketiga baru panggilannya di jawab kliennya, tidak ada pembicaraan serius maupun basa-basi. Reksa hanya menanyakan tempat dimana mereka duduki? tempat untuk mereka memulai rapat kerjasama.


"Itu Dia orangnya, Tam." Reksa mengarahkan jari telunjuknya mengarah ke tempat duduk yang tidak jauh dari jangkauan nya. Di meja sana sudah ada dua orang dewasa berbeda jenis kelamin sedang berbincang-bincang selayaknya putrinya dan ayahnya, mereka memiliki garis wajah yang hampir sama.

__ADS_1


Tama dan Reksa berjalan kearah keduanya, setelah saling menyapa, Saling memperkenalkan dirinya. Mereka duduk berempat dan mulai membahas masalah kerjasama dengan perusahaan.


Tama sangat mempesona dengan cara dirinya mulai menjelaskan tentang konsep kerjasama yang mereka akan jalin, sesekali Reksa ikut menimpali percakapan Tama dan kliennya.


Tetapi ada yang berbeda dengan tatapan mata yang tajam kearahnya, siapa lagi kalau bukan wanita yang duduk di samping tuan X? Fokusnya mereka bukan kearah wanitanya, fokusnya dalam pembahasan pekerjaan dalam pembangunan proyek baru.


Rapat sudah di akhiri oleh Tama, tidak ada percakapan atau pertanyaan ulang. Rapat awal membuat seorang klien terpesona, dengan kegigihan sang CEO muda berbakat Wiratama Wiratmaja.


Selesai pulang dari cafe XXX, mereka berdua sudah berada satu mobil, tawa menggema Reksa tunjukkan di dalam mobil, menertawakan atasannya yang sangat di gilai klien barusan.


"Menurutmu orangnya gimana, Tam?" Reksa menaik turun alisnya menunggu jawaban yang pasti kepada adik iparnya.


"B aja." jawabnya Tama singkat.


"Sepertinya Dia suka sama kamu? tatapan matanya saja sudah mengandung makna khusus, tersirat rasa kagum karena pesona mu sangat mudah memikat kaum hawa." Tutur Reksa.


"Reksa menerawang masa lalu, masa mereka duduk di bangku sekolah. Tama akan selalu menjadi yang utama, wajahnya yang rupawan, diusianya beranjak dewasa banyak kaum hawa berbondong-bondong untuk merebut perhatiannya"


**********


Adzan dhuhur berkumandang di masjid di sekitar rumahnya. Suaranya yang lantang untuk mengajak seluruh umat Muslim untuk meninggalkan pekerjaan sejenak, untuk melakukan ibadah sebelum memulai aktivitasnya kembali.


"Eeuhgh...." Suara lenguhan dari bibir cantiknya, tetapi kelopak matanya susah untuk di buka. Rasa nyaman membuatnya malas untuk bangun, memilih menutup kelopak matanya kembali.


"Krucuk-krucuk....." Bunyi perutnya membuat tidurnya tidak nyaman. Berusaha untuk mengubah posisi nya, tetap saja nihil. Tubuhnya ingin sekali bangun, dan segera mengisi perutnya yang sudah kosong.


"Laper ya, minta mam ya sayang..." Nay mengelus perutnya yang semakin membuncit, terkadang buat jalan saja sudah kesusahan.


Nay membuka kelopak matanya perlahan, berusaha untuk menyesuaikan sinar cahaya yang masuk ke gorden kamarnya.

__ADS_1


Matanya sudah menyipit karena cahaya yang masuk ke kamarnya, membuatnya sangat silau untuk melihat pukul berapa?


"Ternyata sudah siang, hampir saja melewatkan jam makan siang."


Beberapa menit rebahan diatas tempat tidur, mengumpulkan nyawanya kembali. Nay berusaha untuk bangun dari tidurnya, menurutnya cukup lama. Yang Nay ingat berada satu mobil dengan sang suami, ehh tiba-tiba sudah tidur manis di tempat tidur rumahnya.


Setelah membersihkan tubuhnya, dan berganti pakaian dengan daster rumahan, hijab instan menutup rambutnya. Penampilan Nay simple dengan warna yang mengunggah selera, siapa saja setiap mata memandangnya pasti akan memuji kecantikan yang hakiki dan alami.


Nay sudah sampai di dalam dapur, sudah tersaji beberapa menu makanan diatas meja makan yang tertutup tudung saji. Air liurnya langsung menetes melihat makanan kesukaannya, Nay langsung mencuci tangannya, dan duduk di kursi depannya.


Berbicara dengan para pekerja, Nay juga bingung tidak biasanya rumahnya sangat sepi. Biasanya banyak para pekerja yang mengerjakan pekerjaan di luar maupun di dalam.


Nay tidak mau ambil pusing, yang jelas dirinya sedang kelaparan kasihan bila harus berlama-lama menunggu sang bibi datang.


Sedang cacing-cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta minta segera di isu, sebelum cacing semakin aktif di dalam membuatnya susah untuk menenangkan.


"Non Nay, baru bangun terus makan ya non." Godanya sang bibi dari pintu luar. Bibi sedang menenteng plastik bawaan, jalannya pun sedikit kesusahan karena beratnya beban yang di jinjing di tangannya.


"Hehehe iya bi, habis laper.." sahutnya Kanaya dengan senyum merekah, kelihatan nya sangat lucu di dengar seperti nyanyian yang pernah Kanaya dengar.


"Bangun tidur ku terus makan"


"Bibi dari mana saja?" di tengah menyantap makanan. Nay menyempatkan bertanya dengan sang bibi.


"Supermarket non Nay, kebutuhan dapur sudah mulai menipis." jawabnya bibi. Tangannya sangat lincah memisahkan barang belanjaan nya, dan di taruh ditempat khusus untuk jenis-jenis barang belanjaan.


"Monggo makan bi."


"Sok atuh non Nay, dilanjutkan."

__ADS_1


Nay memilih fokus pada menu makanan di depannya, tidak ada lagi obrolan serius. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sama halnya bibi yang masih sibuk dengan barang belanjaan nya. Nay sibuk mengisi makanan di perutnya, sudah buncit semakin membuncit saja.


__ADS_2