
Beberapa hari berlalu...
Sudah dua hari Tama, dan kedua orang tuanya menginap di Solo. Sengaja kedua orang tuanya tidak menginap di hotel, itu semua permintaan Kanaya istri cantiknya, kebaikannya seperti selembut hatinya.
Flasblack On
Mereka berdua sedang diatas tempat tidur, mereka berdua mengobrol banyak hal, mulai dari kepindahannya ke Jakarta, dan tentang sekolah Kanaya.
Kanaya hanya di nyatakan lulus, tetapi belum penerimaan ijazah sekolah. Mau tidak mau akhirnya ijazah bisa di ambil waktu Kanaya pulang ke sekolah, atau orang kepercayaan suaminya yang akan mengambilnya.
Kanaya sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, tangannya terus saja tidak bisa diam, mengukir indah diatas dada suaminya merupakan mainan barunya.
Sekuat tenaga Tama menahan sesuatu yang sudah bergerak-gerak minta di lepas dari sarangnya.
"Iiisshhhh sial istrinya pandai banget membangkitkan gairahnya." batinnya Tama mengumpat kesal.
__ADS_1
"Mas kenapa? mukanya seperti sedang menahan sesuatu?" tanya Kanaya mendongakkan kepalanya, dan mata keduanya bertemu.
"Enggak pa-pa, Nay! sepertinya mas sedang kebelet pipis...iya pipis..." jawabannya Tama sedikit gugup, dan jawabannya yang tidak masuk akal.
Setelah mendengar jawaban suaminya, keduanya mulai bertukar cerita tentang keseharian mereka yang terpisah jarak, yang mengharuskan keduanya untuk menjalani hubungan LDR.
Tangannya Kanaya tidak bisa terdiam sedetik pun, ada aja tingkah, gerakannya yang membuat seorang Tama yang gelisah, menahan sesuatu di bawah yang sudah berdiri tegak.
"Mas ingin, Nay...." bisiknya Tama yang sudah bergerak-gerak gelisah.
"Ingin apa mas? makan, atau minum? Nay buatkan sekarang mas..." sahutnya Kanaya yang ingin melepaskan pelukan sang suami, tetapi tangannya langsung di tahan suaminya...
"Mas ingin makan kamu! coba pegang yang di bawah sudah minta masuk ke dalam sarangnya.." Kelakar Tama yang tidak ada rasa malu. langsung to the point tanpa ada rasa perkewuh, dan lain sebagainya.
"Emang bisa mas?" tanyanya Kanaya polos yang membuat seorang Tama penasaran, dan menggaruk-garuk kepalanya....
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu lagi Tama langsung menyerang candunya, tidak membiarkan istrinya untuk mengeluarkan suara, yang ingin Tama dengarkan adalah suara desahan istrinya meninggal namanya.
Tama seperti orang yang kesetanan, tidak membiarkan istrinya untuk menghirup oksigen, candunya langsung di bungkam dengan bibirnya. Tama mulai menginvasi rongga mulut sang istri, keduanya saling bertukar Saliva.
Setelah ciuman terlepas, Kanaya langsung menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seolah-olah seperti sedang lari maraton saja...
Tanpa ada yang memulai duluan, tiba-tiba candunya sudah di bungkam oleh bibirnya kembali. Kancing kemeja istrinya sudah Tama preteli satu-persatu kancingnya, nampaklah dua bukit yang mengacung indah dengan aerola yang sudah mencuat, candu ini yang bisa mengalihkan dunianya.
Keduanya sudah tidak memakai apa-apa, tubuhnya sudah polos, nampak pemandangan indah membuatnya tidak mampu untuk berkedip.
Mereka mengulang ronde demi ronde, seperti orang yang terpisah sangat lama, sampai Tama tidak bisa berhenti menikmati tubuh molek sang istri, padahal di dalam rahim sang istri ada penerus Wiratmaja.
Setelah mencapai puncak nirwana bersama, keduanya tertidur telentang, menghirup oksigen yang banyak. Mata keduanya saling bertemu, memeluk cara yang ampuh setelah mereka berdua menikmati hari yang indah seperti pengantin baru.
"Mas pulangnya dua hari lagi ya ya. ya..., Nay ingin menikmati kebersamaan kita di Solo, pasti nanti pulangnya lama kalau Nay sudah di Jakarta.. " Tutur Kanaya menerawang jauh langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Gimana ya? mau apa tidak ya dua hari lagi..." sahutnya Tama yang menirukan ucapan istrinya. Berpura-pura berfikir seolah-olah Tama tidak memberikan ijin, padahal dalam hatinya Tama bersorak gembira karena bisa berduaan dengan sang istri sebelum kembali ke Jakarta memulai aktivitasnya.
Flasblack Off