Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 144


__ADS_3

Di villa daerah puncak my twins kegirangan, ini Kali pertamanya pergi tanpa Bunda dan Papa nya. Meskipun tanpa orang tuanya, my twins tetap bahagia. Sang Oma selalu memanjakan mereka, sampai-sampai mereka menempel terus kepada sang Oma.


"Oma hiyat, unung nya besal cekali.."


Ucap my twins antusias melihat pemandangan yang menyejukkan mata nya..


Meskipun bukan yang pertama lihat gunung, tetapi kali ini berbeda karena pergi nya dengan Oma dan Opa.


"Mana sayang?"


tanya Mama Nisa yang masih fokus mendandani my twins pakai pakaian hangat...


Kebetulan sore ini cuacanya sangat dingin, mau tidak mau my twins harus memakai pakaian tebal, misal jaket atau sweater.


"Oma nya mah ndak mau hiyat sih..."


Ucap my twins dengan bibirnya mengerucut beberapa sentimeter.


"Cucu Oma ngambek niye..."


"Coba tunjuk pakai jari kalian, Oma mau lihat sekarang!"


My twins pun menurut perkataan Oma Nisa, dengan seksama mereka bertiga melihat keindahan gunung dari villa mereka tempati untuk berlibur.

__ADS_1


Oma Adi memperhatikan interaksi my twins dan Oma Nisa mengulum senyum.


Didikan dari orang tua yang baik, pasti bisa membawa anak-anak nya menjadi pribadi yang baik juga...


******


Kanaya dan Tama bak pengantin baru lagi, mereka masih sibuk bermain di dalam kamarnya. Suara rintihan, suara aneh-aneh yang anak kecil tidak boleh mendengar, terdengar menggema di kamarnya.


Kamar kedap suara yang di pilihnya, karena tidak ingin setiap aktivitas di ketahui my twins maupun orang lain.


"Capek mas..."


Ucap Nay tergolek tak berdaya dengan posisi telentang, dua bukit kesukaannya menantang untuk segera di nikmati.


Ahhh kamu sangat menggoda banget, sayang... batinnya Wiratama yang sudah tidak tahan melihat pemandangan tubuh indah istrinya.


"Akh... pelan-pelan mas, Sa...kkiiittt!"


teriaknya Nay menahan geleyer aneh di tubuhnya, tiba-tiba badan menggelinjang ke kanan kiri.


"Tahan sayang..."


Tama berusaha menekan nya kembali untuk di masukkan ke area candunya lebih dalam lagi.

__ADS_1


"Mas... Mas...sak...iijttttg!"


Blurrrf....


Nay bisa bernafas lega, benda keramat sebesar tongkat pun masuk ke area nya dengan robekan yang menyakitkan.


Senyum kemenangan terpatri dalam bibir tipisnya, seperti baru pertama bermain, sedang kan sudah sering di masukin tetapi rasanya masih seperti dulu, sama-sama nikmatnya..


Mereka berdua saling beradu keringat, keringat pun sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Tama tidak ingin membuang kesempatan emas nya untuk seharian di kamar bareng sang istri, mumpung my twins sedang bersama Oma nya.


Beberapa gaya, gerakan mereka peragakan mulai gaya A sampai Z pun tidak luput dari permainan kedua pengantin tetapi sudah kadaluarsa.


Dengan semangat '55 Tama menaikkan turunkan dalam Tempo cepat, lambat, dan sedikit dengan gerakan kasar.


Ini lah seni dalam permainan.


Mereka terkulai tak berdaya, Tama ambruk di samping sang istri. Tidak ingin membuat istri dan calon dedek kecil terluka, berkat ulah orang tuanya yang keasyikan mengapai puncak Nirwana.


Nay sudah menutup kelopak matanya lebih dulu, rasa pegal, ngantuk, capek pun menjadi satu membuatnya cepat sekali terbang ke alam mimpi.


"Makasih sayang ku..."


Kecupan manis mendarat cantik di seluruh wajah Kanaya, dan satu kecupan sayang mendarat juga di perut sang isteri.

__ADS_1


"Tumbuhlah dengan sehat, kita menyayangi mu..."


Tubuh polosnya di biarkan saja hanya balutan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Tama ikut memejamkan matanya, mengarungi mimpi indah bersama sang istri...


__ADS_2