Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 60


__ADS_3

Dua hari sudah Tama, dan juga kedua orang tuanya berada di Solo. Selama dua hari pula Tama menghasilkan waktunya untuk jalan-jalan sekitar solo, seperti malam ini merupakan malam terakhirnya Kanaya berada di Solo, sebelum esok hari Kanaya akan mengikuti suaminya ke Jakarta.


Sesuai waktu yang sudah di rencanakan dari awal, akhirnya setelah melewati masa yang sulit, masa dimana mereka terpisah jarak karena LDR yang mengharuskan mereka berpuasa dulu.


Ada senyum terpatri di bibir indahnya, tinggal menghitung jam lagi mereka akan meninggalkan Solo, dan bertolak ke Jakarta esok harinya.


Malam ini mereka berdua sedang berkeliling pasar malam yang letaknya di alun-alun kota, tempatnya tidak terlalu jauh dari rumahnya Kanaya.


Sebelum keluar rumah, Kanaya mempersiapkan barang bawaannya seperti jaket, dan pakaian yang bisa membungkus tubuhnya.


Cuaca malam ini sangatlah mendukung, langit malam yang di hiasi kelap-kelip bintang diatas awan, membuat keduanya betah berjalan menyusuri stand demi stand jualan makanan maupun pakaian yang berjejer rapi di setiap jalan yang mereka lewati.


"Mas, Nay ingin permen kapas yang di makan anak kecil itu!" Tutur Kanaya dengan gaya sok imutnya, dengan tangannya mengarah ke penjual permen kapas, dan segerombolan anak kecil yang sedang mengantri di Abang permen kapas.


"Nay, tempatnya kurang higienis kasihan dedek makan di tempat sembarangan..." sahutnya Tama mengusap-usap lembut hijab istrinya dengan lembut. Memberikan pengertian ke istrinya.


"Beli yang lain saja ya, mas akan belikan sepuasnya.." Tuturnya.


"Pokoknya Nay mau itu! bukan yang lain....." Ujar Kanaya yang kekeh pada pendiriannya. bibirnya juga sudah mengerucut ke depan, seperti bibirnya ikan lohan.


"Nay, dengerin mas sekali ini saja, jangan suka membantah " Ucap Tama sedikit tegas dengan nada kesal.


Mendengar penolakan dari suaminya, kedua matanya Kanaya sudah berkaca-kaca, siap mengeluarkan lahar panasnya yang sudah ingin meletus seperti gunung berapi.


"Hiksss..... hiksss.. mau pelmen kapas..." Suara tangisnya yang terisak-isak seperti anak kecil, hidungnya yang sudah memerah, dan hidungnya juga sudah meler mengeluarkan ingusnya.


"Lho lho....kok malah nangis, kenapa hemmmm?" tanyanya Tama yang keheranan mendengar suara tangisan sang istri seperti anak kecil yang minta uang jajan, tetapi tidak dikasih orang tuanya.


"Mas nyebelin nggak ngasih Nay permen kapas..." Ucap Kanaya menghentak-hentakan kakinya, dan bibirnya sudah maju beberapa sentimeter.


"Nanti kalau dedeknya ileran, mas yang tanggung jawab!"

__ADS_1


"Kan mas sudah tanggung jawab, nikahin kamu Nay , terus kurang apa lagi hmm?" tanya Tama yang berusaha mencairkan suasana, dan mengalihkan keinginan istrinya terhadap permen kapas.


Bodoamat, Nay mau pulang aja, percuma jalan-jalan tetapi ngidam istrinya tidak di turuti, sama aja bohong.!" Ucap Kanaya dengan kesal.


"Dedek ileran bukan salahnya Nay..." Ucapnya kembali, dan Kanaya langsung memalingkan wajahnya kearah lain.


Tama dibuat kelimpungan dengan sikap sang istri, mendengar kata ileran membuat Tama bergidik ngeri membayangkan saja, sudah membuat Tama sedikit takut dengan ucapan istrinya, bila anaknya ileran gimana? terus jelek dong nantinya.


Amit-amit jabang bayi, jangan sampai dedeknya lahir dengan ileran..." batinnya Tama mengumpat.


Mendengar kata ileran, akhirnya Tama luluh menuruti keinginan ngidam sang istri.


"Beli satu ya, jangan kebanyakan takut dedeknya nggak doyan..." Ujar Tama asal, supaya istrinya tidak ngambek, dan calon dedeknya tidak ileran.


Kanaya tidak henti-hentinya menebarkan senyumnya, keinginannya untuk makan permen kapas akhirnya bisa di penuhi suaminya. Wajahnya yang murung, bisa berubah drastis dengan wajah cerianya kembali bersinar seperti matahari terbit.


🍭🍭🍭


Hari yang tidak diinginkan Kanaya untuk berpisah dengan keluarganya, akhirnya tiba pada waktunya, kalau tidak ada kendala nanti sore Kanaya, Tama, dan kedua mertuanya akan meninggalkan Solo untuk bertolak ke Jakarta.


Barang bawaannya sudah di packing rapi, tiga koper berjajar rapi di ruang tamu, Kanaya pun tengah tidur siang sebentar sebelum memulai perjalanannya.


Adzan shalat Azhar berkumandang di masjid dekat rumahnya, tidurnya Kanaya sedikit terganggu, tubuhnya menggeliat, kedua matanya terbuka untuk menyesuaikan cahaya pada kamarnya.


Setelah menjalankan perintah-Nya, Kanaya tengah bersiap di depan meja rias, makeup tipis-tipis supaya lebih fresh, libalm di oleskan di bibirnya supaya tidak pucat juga.


🍭🍭🍭


Di ruang tamu sudah ramai, Tama, dan dua orang tuanya sudah siap, tinggal Kanaya keluar dari kamarnya. Mereka sedang berbincang-bincang banyak hal, dan kedua orang dewasa yang sudah bersahabat lama saling melepas rindu, dan salam perpisahan.


"***Nak Tama, bapak ingin berbicara empat mata, bisakah?" tanya mertuanya dengan mantap.

__ADS_1


"Bisa pak!" jawabnya Tama***.


Di ruang tamu keadaannya langsung hening, tidak ada yang berani berbicara hanya Tama yang menjawab pertanyaan bapaknya. Tama langsung mengikuti langkah kaki mertuanya, mereka berdua berjalan tidak beriringan, Tama mengikuti dari belakang.


Sampai di tempat tujuan, belum ada yang mengeluarkan suara, keduanya nampak hening, ingin sekali Tama memulai untuk bersuara tetapi bibirnya Kelu untuk berucap.


"Duduk!" ucap mertuanya dengan nada biasa, menurutnya Tama terdengar mencekam, membuatnya sedikit bergidik ngeri.


Tama pun duduk sesuai yang diinstruksikan mertuanya, mereka duduk saling berhadapan, tatapan mertuanya begitu menelisik penuh misteri.


Rasanya seperti diinterogasi di ruang polisi, hatiku sudah berdegup kencang, suara gemuruh di dada seperti sedang lari maraton saja


Mertuanya menarik nafas dalam-dalam menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan menghembuskan nafasnya pelan.


Mereka terdiam, tetapi pikirannya Tama sudah jetlag kemana-mana, berbagai pertanyaan memenuhi otak cerdasnya.


"***Nak Tama..." sapa bapak mertuanya.


"Ehhh iya pak..." jawabannya Tama dengan cengiran khasnya***.


Suara jantungnya sudah bertalu-talu, gugup, nerveous.


Mertuanya kembali menghirup oksigen, dan menghembuskan nafasnya kembali.


"Nak Tama, bapak titip Kanaya. Jaga cucu bapak, dan Kanaya dengan baik bila salah tolong luruskan.." Ucap mertuanya dengan satu tarikan nafasnya, dan tangannya masih menggenggam tangan menantunya.


"Berjanjilah satu hal kepada bapak, jika suatu hari nanti, apabila sudah tidak mencintai putrinya bapak , jangan sakiti Kanaya atau cucu bapak dengan sebuah perselingkuhan, atau menyakiti anggota tubuh lainnya.


Kembalikan Kanaya kepada kami, beritahu bapak, dan saat itu pula Bapak akan menjemputnya kembali..." Ucap bapaknya Kanaya mantap menggenggam erat tangan menantunya.


"Jika itu sampai terjadi, bapak tidak akan segan-segan memisahkan kalian berdua.!"

__ADS_1


"Bapak yang akan mengurus surat perceraian kalian berdua, ingat pesan bapak jika itu tidak mau terjadi dengan nak Tama.."


Cerai? satu kata yang membuat seorang "Wiratama Wiratmaja" bergidik ngeri. nggak-nggak Tama menggelengkan kepalanya, membayangkan saja sudah membuatnya ketakutan. Apalagi harus berpisah dengan istri, dan Anak-anak kelak itu tidak akan ada dalam kamusnya.


__ADS_2