Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 66


__ADS_3

Satu minggu sudah meraka saling diam, Kanaya juga tidak berani bertegur sapa dulu dengan suaminya. Kanaya memilih menyibukkan dirinya dengan membantu para pekerja di rumah mertuanya, daripada berfikir yang tidak-tidak dengan suaminya.


Setiap pagi Kanaya selalu bangun sebelum adzan subuh berkumandang, Kanaya selalu menyempatkan waktunya untuk sholat malam, curhat kepada sang pencipta lebih baik, ketimbang dirinya bercerita dengan orang lain yang ada mereka akan berfikir negatif dengan rumah tangganya.


Beberapa hari Kanaya merasa bebas, dikarenakan sang suami sedang ada perjalanan bisnis dengan kakaknya ke Surabaya untuk meninjau cabang baru di sana...


Meskipun satu minggu saling diam, tetapi Kanaya selalu berbakti dengan suaminya, selalu menyiapkan kebutuhan sandang pangan suaminya setiap harinya, sebelum sang suami melakukan perjalanan bisnis.


Selama beberapa hari di Surabaya, sang suami beberapa kali menelpon, atau mengirim pesan singkat lewat WhatsApp menanyakan kabar dirinya, dan dedek di dalam perutnya.


Lagi-lagi Kanaya hanya menghela nafasnya, dadanya tiba-tiba rasanya nyesek seperti ada beban berat yang sedang di pikirkan, rasa kangen dengan keluarga di Solo begitu besar semenjak sang suami sedang tidak di rumah.


Derrrtttttt..... derrrtttttt...


Lamunan Kanaya langsung buyar, ketika suara ponselnya bergetar diatas nakas kamarnya.


"Siapa ya? menelepon siang bolong." batinnya Kanaya sembari tiduran diatas tempat tidur. Wajahnya fokus dengan novel yang sedang di bacanya, menghiraukan ponselnya yang bergetar.


Derrrtttttt........


"Siapa? kog tidak ada namanya?" Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam hatinya, tetapi tidak ada jawaban yang memuaskan.


Dengan nomor baru yang belum di kenalnya. Kanaya membiarkan saja, tetapi kembali lagi ponselnya bergetar membuatnya konsentrasi membacanya terpecah belah.


Akhirnya dengan berat hati Kanaya menerima panggilan dengan sedikit tidak ikhlas, macam-macam pikiran selalu membuatnya khawatir, khawatir bila ada yang berniat jahat, menipu dan lain sebagainya.


" Hallo Assalamualaikum, dengan siapa?" tanya Kanaya dengan nada ketus.


"Waalaikumsalam sayang, ini mas ponselnya mas terjatuh waktu turun dari pesawat." jawabnya Tama panjang kali lebar. Tama tidak ingin istrinya berfikir macam-macam, membuat kandungannya bermasalah. Berkali-kali Tama menggelengkan kepalanya, menepis prasangka buruk yang menghampirinya.


"Kog bisa mas?" tanya Kanaya sedikit penuh rasa ingin tahunya.


Tama mulai menceritakan awal mula ponselnya sudah tidak ada di saku celananya, dan beberapa kejadian di dalam pesawat. Dalam ketidaksengajaan ada seseorang yang menyenggol bahunya, dalam posisi mengantuk ternyata ponselnya sudah tidak ada di saku celananya.


"Syukurlah mas tidak apa-apa, masalah ponsel mas kan bisa beli yang baru lagi hihihi..." Tutur Kanaya penuh dengan kelegaan.


*Ponselnya hilang tak pa-pa, yang penting suaminya jangan hilang

__ADS_1


"Sayang, apakah masih mendengar suara masmu ini??" tanya Tama sedikit dengan nada tinggi.


"M ma. sih mas*."


Mereka saling bercerita banyak hal, mulai dari kesehariannya, dan pola makannya teratur tidaknya menjadi perhatian seorang Tama. Tama tidak ingin istrinya sakit, dan dedeknya kekurangan nutrisi di dalam kandungan.


"Udah dulu ya, mas mau lanjut kerja dulu, kapan-kapan mas telepon lagi."


"Jangan lupa makan yang teratur, minum susu, dan vitamin."


"Jaga hati selalu hanya untuk mas, di saat mas jauh seperti ini!"


Kanaya bersemu merah pipinya yang putih sangat kontras dengan warna kulitnya, membuatnya terbang melayang setinggi-tingginya, Kanaya sangat bahagia mendengar gombalan receh suaminya.


"Sayang, apakah masih mendengar suara mas?" tanya Tama untuk memastikan.


"Masih mas."


"Mas tutup ya!"


"Iya mas!"


Di Surabaya


Tama mengucapkan kata syukur berkali-kali, bisa mendengar kabar sang istri, dan dedeknya baik-baik saja, sudah membuatnya bahagia seperti mengalah pemain lama dalam bisnis.


Alhamdulillah semuanya sehat


Tama memainkan bolpoin di bibirnya, baru saja berpisah sudah membuatnya rindu ingin segera bertemu kembali. Tetapi Tama berusaha untuk menahannya, semua ini di lakukan demi masa depan perusahaannya, dan masa depan untuk dirinya, istrinya, dan anak-anaknya kelak dewasa nanti.


Sore pulang dari kantor, Tama membersihkan tubuhnya dan menikmati makan dengan sangat lahap. Menunya cukup sederhana, soto Madura menjadi menu santap siang menuju sorenya, meskipun menunya biasanya saja, tetapi rasanya tidak ada duanya.


Di Jakarta


Semalam Kanaya tertidur sangat nyenyak, pikirannya sangat plog setelah mendengar kabar suaminya, yang katanya baik-baik saja.. Dengan bersenandung ceria, Kanaya menyanyikan lagu-lagu cinta kenangan mereka berdua.


Wajahnya yang kemarin suram, pagi ini langsung berubah 180% lebih berseri-seri, lebih hidup daripada beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Selesai melaksanakan ritual paginya, Kanaya keluar dari kamar dengan raut wajahnya memancarkan kecantikan sesungguhnya, mendapatkan vitamin kemarin siang dari suaminya membuatnya seperti anak Abege yang sedang jatuh cinta.


Jatuh cinta berjuta rasanya


Biar siang, biar malam manis rasanya


Jatuh cinta


Kanaya bersenandung menyanyikan lagu-lagu cinta, seperti lagu yang sedang Kanaya nyanyikan.


"Sedang bahagia ya non." Tutur sang bibi berpapasan dengan nona majikannya.


"Hmm, seperti yang bibi lihat." sahutnya dengan deretan giginya nampak rapi, dan bersih seperti senyum di iklan telivisi.


"Bibi sedang buat sarapan apa?" tanya Kanaya mencium-cium bau yang menyengat.


"Sayur tumpang non, kesukaan Nyonya besar." jawabnya bibi.


"Emang Mama pulang, bi?" Tanya Kanaya sedikit kaget. Karena pagi ini tidak ada seorangpun, kecuali bibi yang sedang masak di dapur.


"Iya non semalam."


"Ohhwww!"


Tidak ada lagi yang mereka akan bicarakan, Kanaya sangat asyik berada dalam dapurnya, mereka sesekali mengobrol untuk menanyakan bumbu masakan yang akan Kanaya masak sendiri.


Semenjak kehamilan usia lima bulan, nafsu makannya meningkat tajam seperti jalan turunan di jalan tol.


Meskipun tidak mengidam ingin makan yang aneh-aneh, tetapi ingin makan ini itu membuatnya harus bisa mandiri, Kanaya si sungkan bila harus merepotkan orang rumah. Hal seperti ini yang membuatnya merindukan keluarganya di Solo, coba dekat rumahnya beda dua rumah darinya, pasti Kanaya akan sering pulang minta di Masakin makanan kesukaannya.


"Pagi Nay, rajin amat mantu Mama udah bantuin bibi di dapur." Tutur mertuanya dengan wajah cantiknya. meskipun usianya tidak muda lagi, tetapi masih saja kelihatan sangat muda sekali. Siapa saja yang melihatnya pasti tidak akan percaya bahwa mertuanya akan mempunyai cucu.


"Ahh Mama bisa saja, Nay jadi besar kepala lho mah." Ucap Kanaya tersenyum tipis, dengan bahasa tubuhnya sedikit salah tingkah.


"Kami ini, masih saja seperti anak kecil, padahal sebentar lagi akan jadi mommy untuk calon dedeknya." Ujar Mama mertuanya untuk mengisi menantunya.


Mereka berdua larut dalam obrolan, seperti ibu dan anak yang sudah lama tidak saling bertatap muka. Mereka membicarakan banyak hal, terutama tentang perjalanan bisnis mamanya yang selalu ada untuk suaminya.. Kanaya ingin seperti mamanya, bisa menemani sang suami dalam perjalanan bisnis contohnya perjalanan bisnis ke Surabaya seperti sekarang ini.

__ADS_1


Ada yang suka, dan tidak suka itu hal yang wajar. karena tidak semua akan suka dengan karya kita.


Terimakasih yang sudah suka cerita, kritik dan sarannya juga untuk auuttor.


__ADS_2