
Happy reading
Perjalanan Solo-Jakarta terasa lama buat seorang CEO Wiratama Wiratmaja, padahal hanya perjalanan satu jam yang akan ditempuhnya untuk sampai Jakarta, tetapi sangat berbeda yang Tama rasakan baru saja menikah langsung meninggalkan istrinya di Solo.
Seharusnya Tama dan sang istri menikmati masa-masa indah pengantin baru, seharusnya juga mereka pergi untuk berbulan madu. Tetapi keadaan berbeda dengan Tama, Tama harus kembali ke Jakarta, harus kembali lagi untuk ke kantor karena pekerjaan sudah menunggunya di sana.
Di dalam pesawat Tama bergerak sedikit gelisah, kedua matanya ngantuk tetapi susah untuk di pejamkan. Pikirannya menerawang jauh ke arah Kanaya, bila mengingat masa-masa indah mereka, Tama rasakan ingin kembali ke pelukan istrinya kalau bukan karena pekerjaan, dan kontrak penting dengan perusahaan X yang sudah Tama bubuhi tanda tangannya. Tama harus bertanggung jawab demi kelangsungan perusahaannya, karena nilai dendanya sang fantastis sayang uangnya lebih baik buat beli rumah kelak untuk keluarga kecilnya.
Satu jam pesawat sudah mengudara, meninggalkan bandara Adi Soemarmo Solo untuk pulang ke Jakarta. Di pesawat pun Tama pikirannya tidak tenang, selalu memikirkan istrinya. Satu jam mengudara Tama sudah tiba di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Berjalan gontai untuk menuju pintu keluar, karena di luar sudah di tunggu sang sopir suruhan keluarganya. Mereka sudah tahu bahwa Tama malam ini tiba di Jakarta, makanya kedua orang tuanya menyuruh sang sopir pribadinya menjemputnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Tama sudah berada di dalam mobil. Mobil pun melaju sangat kencang berhubungan jalannya sangat lengang, lagi-lagi Tama mulai memejamkan matanya, tetapi hanya ada bayangan Kanaya yang menari-nari di pelupuk matanya.
15 menit perjalanan, Tama sudah sampai halaman rumahnya dengan selamat. Mamanya sudah menyambutnya di depan pintu, dengan senyum manisnya Tama membalas tak kalah manisnya, meskipun hatinya Tama sedang gundah gulana.
"***Anak Mama apa kabar? sepertinya tidak bersemangat padahal pengantin baru lho, apa belum dapat jatah dari sang istri?" tanya sang Mama mengedipkan matanya, di iringi dengan senyum hangatnya.
"Tama capek Mah, perjalanannya lumayan..." Jawabnya Tama singkat.
"Tama keatas dulu untuk membersihkan tubuhnya, Tama sudah bau acem..." Tutur Tama yang mencium ketiaknya sendiri, sebenarnya masih wangi, tetapi sedang tidak ingin mendengar pertanyaan Mamanya yang bukan-bukan.
"Ya sudah sana!" Sahutnya sedikit mendorong tubuh sang putra, tetapi tidak terlalu keras***.
__ADS_1
🏵🏵🏵
Di kamarnya Kanaya sedang menelungkupkan kepalanya ke dalam bantal, rasanya ada yang kurang melepas suaminya untuk kembali ke Jakarta. Sebenarnya dulu santai saja sebelum Kanaya menikah, sejak menikah Kanaya sedikit berubah menjadi yang lebih baik.
"***Hiks....Hiks... dadaku rasanya sesak..." guman Kanaya memukul-mukul dadanya, menurutnya terasa sesak melihat suaminya udah kembali ke Jakarta.
"Nay, harus kuat! tidak boleh lemah karena satu minggu lagi pasti ketemu..." Ucapnya Kanaya menyemangati dirinya sendiri***.
Dirasa tangisnya sedikit mereda, Kanaya mulai bangkit dari tidurnya. Mulai membersihkan dirinya, dan penampilannya supaya sedikit rapi. Kanaya mematutkan dirinya di cermin, penampilan sudah rapi baru Kanaya membuka ponselnya, tertera beberapa pesan, dan panggilan tidak terjawab dari suaminya.
Senyum Kanaya langsung terbit membaca pesan dari suaminya, hatinya semakin berbunga-bunga membacanya. Ada rasa rindu membelenggunya, tetapi jarak yang memisahkan membuatnya harus kuat menjalani LDR.
***Deerrr....derrrtttt....
"***Assalamu'alaikum Mas...." Sapa Kanaya dengan wajah riangnya, dan senyumnya yang manis.
"Mas tiba di Jakarta jam berapa?" kok bisa hubungi Nay, Mas?" tanyanya Kanaya yang penasaran.
"Walaikumsalam Istri Mas yang cantik..., belum juga Mas menjawab salamnya, istri Mas yang cantik ini sudah memberondong pertanyaan..." Jawabnya Tama yang bucin.
"Kan istri Mas khawatir, mengkhawatirkan Mas yang belum ada kabar..." Jawabnya Kanaya dengan sangat manja.
__ADS_1
"Suaranya bikin Mas ingin pulang, rasanya sudah kangen dengan istri Mas yang cantik ini, pintar banget menyenangkan hati suami..." Tutur Tama yang manja merayu istrinya, dan pujiannya membuat Kanaya meleleh.
"Iiihh gombal..." Sahutnya Kanaya tersipu malu-malu kucing, dan tangannya memukul-mukul bantal di sampingnya.
Melihat tingkah manja sang istri, membuat seorang Wiratama Wiratmaja tersenyum lebar, Ceo perusahaan Abadi Group rasanya seperti di jungkir balikkan dunianya.
Mereka membicarakan banyak hal, karena ini pertama kalinya mereka berpisah jarak, tempat tidur setelah keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.
Biasanya mereka akan selalu bermesraan, tetapi tidak untuk malam-malam berikutnya sampai satu minggu ke depan. Keduanya akan tidur masing-masing, hanya bantal dan guling yang akan jadi teman setianya.
Keduanya berusaha untuk menjalani takdir-Nya, karena Tama sadar memiliki istri yang masih sekolah harus ekstra sabar, dan lebih dewasa dari pasangannya. Di tambah lagi mereka harus menjalani hubungan yang LDR, membuatnya harus pulang pergi Jakarta-Solo, tak apa-apa Tama yang berkorban past akan indah pada waktunya.
Tinggalkan jejaknya Guyss
LIKE
VOTE
KOMENTAR
RATE-NYA
__ADS_1
Di tunggu sebanyak-banyaknya.