
Sudah satu minggu berlalu, satu minggu pula Kanaya bahagia berkali-kali lipat. Suaminya sudah kembali bekerja kembali, menjalani kehidupan yang normal seperti dulu lagi. Semua nampak biasa saja, semenjak kepulangan sang suami kembali kepada keluarganya. Tidak henti-hentinya Kanaya mengucapkan rasa syukur, dan terimakasih kepada sang pencipta karena masih di berikan kesempatan, umur yang panjang, dan kebahagiaan yang hakiki.
Siapa yang tidak bahagia? bila kekasih yang lama di rindukan, pulang dengan sehat wal afiat, dan tidak kekurangan suatu apapun.
Rasa bahagia tak terhingga di berikan mertua yang sangat menyayanginya, dan mau menerima kekurangan dirinya dengan baik, tanpa harus mengungkit-ungkit masa yang lampau.
Selesai mandi sorenya, Kanaya memilih duduk di taman belakang. Kebiasaan Kanaya untuk mengusir rasa jenuh, bosan yang selalu berada di rumah.
Di taman ini, Kanaya bisa menghibur dirinya sendiri dengan melihat tanaman yang sudah tumbuh subur di depannya. Nampak sangat indah pemandangan di depannya, bunga yang mulai mekar dengan warna-warni cantik, siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona dengan keindahannya.
"Lagi apa sayang?" tanya Tama menghampiri sang istri. Tama bertambah bahagia dengan kehadiran sang istri, yang selalu membawa warna tersendiri di hidupnya.
"Ehhh mas Tama, sudah pulang Mas?" tanyanya Kanaya malah sebaliknya memberikan pertanyaan sang suami.
"Kok pertanyaan mas belum di jawab, Bunda malah mengajukan pertanyaan, terus mas kudu bagaimana?" Tutur Tama mengerucut bibirnya. Bibirnya yang mengerucut membuatnya semakin gemas dengan sang suami, rasanya ingin sekali menggigitnya.
__ADS_1
"Cup...." Kania mencuri satu kecupan di bibirnya sang suami. Kanaya sampai menelan ludah nya berulang-ulang, awalnya ingin menggodanya malah sang suami menahan tengkuknya. Mereka berdua beradu dengan bibirnya, bertukar Saliva, dan menginvasi sampai rongga mulutnya.
"Hussshhhhhhh......" Kanaya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba pipinya memerah, membayangkan saja sudah membuatnya basah di bawah intinya.
"Iiihhhh bau, sana mandi dulu! dedeknya ndak suka bau acem." Ucap Kanaya menutup hidungnya, dan mengibaskan tangannya untuk mengusir sang suami.
Akhirnya Tama mengalah, menyerah dengan aksi bumil yang sudah mau muntah, dengan bau yang menyengat sampai di hidung sang istri. Padahal pakaiannya masih wangi, bersih, dan tampan seperti ini kok di bilang bau asem... Menyebalkan!
******************
Kanaya berjalan pelan ke kamarnya, semenjak dirinya sudah tinggal kembali di Jakarta. Kamar tidurnya juga ikut berpindah di lantai bawah, kehamilan yang sudah trimester ketiga membuatnya harus ekstra hati-hati dalam naik turun tangga, di tambah lagi dirinya hamil baby twins pasti perutnya lebih membuncit.
Kanaya langsung menempel di tubuh sang suami, harum sabun mandi membuatnya sangat betah berlama-lama memeluknya. Hidungnya terus saja mengendus bau segar sabun mandi, baginya wangi ini sangat menenangkan.
"Kenapa nay? kangen?" tanya Tama yang memberondong pertanyaan. Saking gemasnya sampai Tama tidak sadar mencubit pipinya, meskipun lembut tetapi membuat sang istri terusik dengan posisi nyamannya.
__ADS_1
"Enggak! dedeknya aja yang kangen dengan Papanya!" Ucap Kanaya. Masih ada semburat merah di pipinya, bener tidak bisa memungkiri ketampanan sang suami.
Andai saja waktu tidak berpihak dengan takdirNya, pasti tidak akan di pertemukan kembali dengan sang suami, lagi-lagi waktu masih di berikan kesempatan membuatnya semakin menjaga apa yang sudah menjadi miliknya
"Kanaya menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran yang negatif, berusaha untuk berfikir positif bahwa semuanya akan baik-baik saja."
"Kenapa melamun? hemm." tanya Tama memainkan alisnya.
"Enggak pa-pa Mas!" jawabnya.
"Nay hanya mau bilang, hari ini mas sangat tampan, benar-benar berkarisma."
"Beneran, pasti ada maunya kok tiba-tiba memuji mas." Tutur Tama . Tama sedikit penasaran berubah hormon sang istri, terkadang sangat baik, terkadang susah untuk di taklukkan.
Wanita hamil itu benar-benar ajaib, maha benar, walaupun terkadang ada salahnya, tetap saja bumil selalu benar
__ADS_1