
"Nay, ada yang ingin Bapak Ibu bicara denganmu! lagi sibuk nggak, Nay?" tanya ibunya yang sudah berada di kamarnya Kanaya. Tangan Ibunya tidak lepas membelai rambut Anaknya.
"Nggak buk! ada apa? tumbenπ."
"Emang ibu ndak boleh bicara dengan anak ibu sendiri, huuuu."
"Boleh kok Bu, tidak ada yang melarang." Tutur Kanaya dengan senyum manisnya.
"Gini Nay, sahabatnya ibu yang dari Jakarta, mau datang ke rumah untuk silaturahim dengan keluarga kita, putranya ingin melamarmu untuk di jadikan istrinya." Tutur Ibunya hati-hati, takut Kata-katanya menyinggung perasaan Kanaya.
"Haaa! lamaran Buk." Ujar Kanaya dengan nada tinggi, Kanaya syok tiba-tiba ada yang seorang pria yang mau melamarnya, sedangkan dirinya masih sekolah, terus mimpi-mimpi'nya untuk menjadi seorang Dokter.
Berbagai pertanyaan di otaknya langsung bekerja, rasa tidak percaya, dirinya akan di lamar dengan seorang pria yang tidak di kenalnya.
"Kan Kanaya nggak kenal Bu? terus gimana ceritanya bisa melamar Kanaya." tanya Kanaya yang masih sangat penasaran dengan jawaban ibunya.
"Dia udah kenal kamu dari kecil, kedua orang tuanya adalah sahabat bapak ibu."
"Sudahlah jangan di pikirkan entar juga ketemu! udah ya ibu mau masak."
Ibu Melati meninggalkan kamar Kanaya, Kanaya tidak menyadari ibunya sudah tidak ada di tempatnya.
"Tapi Bu...." belum juga Kanaya menyelesaikan aksi protesnya, Kanaya di buat melongo ternyata ibunya sudah tidak.
π
Di kamarnya Kanaya uring-uringan, mengingat dirinya akan di lamar dengan orang yang belum Kanaya kenal maupun ketemu.
__ADS_1
"Pasti ini konspirasi kedua orang tuanya." batinnya Kanaya.
Kanaya menyandarkan kepalanya di kursi belajarnya, memejamkan matanya dan kepalanya mendongak ke atas, ke atap kamarnya menerawang jauh kehidupannya kelak, menikah karena perjodohan apakah dirinya bahagia apa malah tersiksa?
Lama Kanaya merenungkan ucapan ibunya, yang tiba-tiba bagaikan suara petir di siang bolong.
"Huffttt, rasanya tidak percaya apa yang terjadi dengan dirinya." guman Kanaya.
π
Di meja makan semuanya terdiam, Kanaya yang biasanya ramai, seketika membungkam mulutnya. Kanaya sibuk dengan pikirannya, sedang Adiknya asyik menyantap makan malamnya.
Bapak Ibu yang melirik Kanaya, dan Rudi bergantian, di buat heran dengan keduanya yang sibuk dengan dunianya sendiri.
Rudi yang merasa di perhatikan, langsung menyapa kedua orang tuanya, meskipun hanya sekedar basa-basi.
"Ahh Nggak apa-apa! di lanjutkan saja makannya."
Rudi kembali fokus dengan makanannya, sampai suapan terakhirnya pun Ibunya masih saja memperhatikan gerak-gerik kakaknya Kanaya.
"Kak Nay, makannya belepotan seperti anak kecil." Tutur Rudi meninggalkan tempat makan, dan menggoda kakaknya.
"Ha! belepotan " Kanaya kaget mendengar ucapan Adiknya.
Kanaya langsung fokus menikmati makan malamnya, sesekali melirik kedua orang tuanya yang tidak kalah sibuknya dengan dirinya.
Selesai makan, Kanaya membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring kotornya.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan! fokus dengan sekolah, nanti juga kenal kalau sudah tiba waktunya." ibu Melati menepuk pundaknya Kanaya. Kanaya sedikit kaget tetapi Kanaya bisa menguasai keadaan.
"Nggih Bu."
π
SMA Negeri Surakarta
Kanaya berjalan sangat lesu menuju kelasnya, akibat ucapan ibunya semalam membuatnya susah untuk memejamkan kedua matanya. Pagi ini Kanaya tidak semangat berangkat sekolah, tetapi demi cita-citanya Kanaya harus semangat dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
"Hai Nay..." Sapa Maldifa.
"Tumben lesu Nay, seperti ada beton berat di pundakmu Nay." kelakar Andina. Kanaya hanya terdiam, tidak menimpali ucapan kedua sahabatnya.
" Ada apa? Tidak biasanya Kanaya seperti ini." bisik Difa ke Dina. Keduanya penasaran dengan sikap Kanaya yang berubah.
Maldifa dan Andina berjalan di belakangnya Kanaya, mereka memperhatikan gerak-gerik Kanaya yang sedikit berubah.
Sampai jam istirahat sekolah pun, Kanaya belum mau membuka obrolan. Ketiganya sedang makan di kantin, tetapi tidak ada yang memulai berbicara duluan, kanaya- berubah seperti ketiga sedang bermusuhan, tidak saling bertegur sapa.
Semua orang yang melihatnya di kantin, heran dengan sikap ketiganya yang diam saja, yang biasanya sangat ramai, terutama Kanaya. Tiba-tiba Kanaya terdiam, jam pulang sekolah usai, tetap saja mempertahankan aksi mogok bicaranya.
Jangan lupa yang suka coretan autthor dukung ya, denge cara yang mudah dan gratis.
Like
komentar
__ADS_1
votenya