
Acara aqiqah putri kecilnya baru saja di gelar beberapa jam lalu, kini putri kecilnya nampak sangat lelap sekali dalam tidurnya. Di kamar serba warna pink ini, si kecil sedang tertidur pulas dengan mas kembar yang juga nampak kelelahan mengikuti jalannya acara aqiqah aduk kecilnya.
Mereka tidur bertiga, ada mas kembar di sebelah kanan dan kiri nya adiknya. Naya melihat malaikat kecilnya sedang nyaman, rukun, membuat hatinya meleleh. Tidak menyangka perjalanan panjang nya sampai di titik sekarang, menjadi ibu dari ketiga putra-putrinya bukan perkara yang mudah Semua butuh tenaga ekstra dan kesabaran.
Setiap kali melihat senyum mereka hatinya menghangat, rasa lelah, kantuk semuanya sirna karena tiap hari mendapatkan vitamin dari anak-anak nya.
Sebagai seorang Ibu, Naya harus bisa membagi, mengatur waktu untuk ketiga secara adil. Kini perhatian nya terpusat di putri kecilnya, tidak ingin membuat my twins cemburu dengan adiknya, pintar-pintar nya Naya membagi kasih sayang biar selaras, serasi, sejalan.
"Bund, kenapa melamun."
tanya Tama menyapa istrinya, dari awal masuk ke kamar Naya sibuk dengan dunianya, tidak menyadari kedatangan nya di kamar.
"Apa Mas?"
jawabnya Naya mengusap kelopak matanya yang berkaca-kaca, hatinya melankolis bila berbicara tentang anak-anak.
"Kamu kenapa?"
tanya Tama berjongkok di depan sang istri, sembari tangannya memegang tangannya.
__ADS_1
"Enggak pa-pa Mas."
jawab Naya mengalihkan tatapan mata keduanya yang saling pandang.
"Kenapa hmm? bicara sama Mas."
bujuk Tama untuk membuat sang isteri nyaman berbicara jujur dengan dirinya.
"Mas iih Naya enggak pa-pa."
Ucap Naya beralibi, tidak ingin suaminya punya pikiran yang tidak-tidak.
"Tatap mata mas Bun, kalau bener Bunda sedang baik-baik saja, mas tidak ingin tidak saling jujur antara kita."
Naya mencurahkan isi perasaan yang gundah gulana, takut dirinya tak mampu menjadi ibu yang baik, takut tidak mampu membagi waktu dan kasih sayang untuk ketiganya. Naya mencurahkan segala yang menjadi uneg-uneg nya selama ini, tidak ada yang di tutup-tutupi lagi.
"Kamu ibu yang hebat untuk anak-anak kita, mas bangga sama kamu, di usia relatif masih muda kamu korban kan karier dan masa depan mu untuk mengabdi ke suami, dan mengurus anak-anak di rumah dengan sangat baik."
"I Love You isteri ku Kanaya Bhakti ibu dari anak-anak ku." bisiknya Tama sembari merengkuh tubuh mungil sang istri dan menghujani ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah istrinya.
__ADS_1
I Love You more suamiku."
balas Naya dengan air mata yang membasahi pipinya, saking terharu ucapan suaminya yang selalu bisa ngemong dirinya menjadi perempuan paling cantik.
Oekkkkkk....
Suara tangis putrinya melengking, menganggu keduanya yang tengah bermesraan berdua. Tama dan Naya terkekeh kecil mendengar suara tangis putrinya, tangisan yang membuat keduanya saling melirik dengan senyum manis terbit di bibir keduanya.
"Si kecil cemburu kayaknya mas dengan kemesraan kita hihihihihi."
Ucap Naya melepas pelukan suaminya, dan berakih ke ranjang putrinya.
"Cup.. sayangnya Bunda."
Naya mengecup kening putrinya, dan mengeluarkan sumbernya.
"Kenapa nangis, hmm ?" Si kecil langsung lahap, menyu su pada sumbernya.
Mendengar suara Bundanya, tangan dan kakinya langsung merespon seperti sedang gowes sepeda .
__ADS_1
Setelah nya si kecil menarik sudut bibirnya, untuk membuat lengkungan di sudut pipinya yang gembul.
Demi kalian, readers yang selalu dukung cerita Mimin, Mimin ucapan kan terimakasih.. Mimin juga punya cerita di platform No*elme dan k*m App. Silahkan mampir bila berkenan, dan suka cerita Mimin.