
Happy reading
Selamat hari Senin
Selamat beraktivitas
Sudah satu minggu ini Kanaya tidak enak badan, setiap kali makanan masuk ke dalam mulutnya langsung mual ingin memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya.
Hoek.....Hoek.....hoekkk...
Sakit apa Aku Ini? setahuku tidak jajan atau makanan sembarangan
Kanaya masih berdiri di wastafel kamar mandi kamarnya, belum juga makan apa-apa sudah mual saja padahal ini masih pagi buta, belum juga masuk waktu subuh.
Berulang-ulang Kanaya memuntahkan cairan bening yang berwarna sedikit hijau, rasanya sangat asam, dan pahit di lidahnya.
Kanaya menyenderkan tubuhnya di dinding tembok kamar mandi, tangannya sangat terampil mengusap peluh di dahinya, rambutnya Kanaya biarkan berantakan merasakan badannya yang sangat lemas membuatnya malas untuk beranjak.
Berdiam sepuluh menit, dirasakan tidak ada keluhan mual yang berarti, Kanaya mulai beranjak dari tempatnya berjalan pelan kembali ke kamarnya.
Merebahkan tubuhnya adalah solusi yang terbaik untuk meredakan rasa pening di kepalanya, dan rasa lemas di tubuhnya membuatnya harus mengistirahatkan tubuhnya sebentar untuk menghalau rasa yang tidak enak di perutnya.
🍭🍭🍭
Pukul 07.00 pagi, ibunya sangat khawatir karena Kanaya belum juga keluar dari kamar, padahal hari ini bukan tanggal merah atau hari libur.
Biasanya mendengar adzan subuh berkumandang Kanaya sudah terbangun, lampu kamarnya juga sudah menyala, tetapi pagi ini sangat berbeda. Lampu belum menyala, kamar pun juga belum terbuka pintunya.
__ADS_1
Mondar-mandir ibunya di dalam dapurnya, menimbang-nimbang antara membangunkan atau membiarkan saja? Ibunya sampai perang bathin, dan tidak ada pilihan lain selain membangunkannya takut putrinya sakit atau kenapa-napa.
Tok tok tok....
"*Nay, bangun sudah siang..."
"Belum ada jawaban..."
"Nay, mau sekolah apa mau tidur?" teriak Ibunya dari luar pintu.
"Tidak ada jawaban juga*..."
Akhirnya ibunya membuka pelan handel pintu kamar putrinya, tidak di kunci sama sekali. Membuka pelan handel-nya sampai tidak terdengar pintunya terbuka, Ibun masih celingak-celinguk di depan pintu kamar Kanaya, mencari keberadaan Kanaya adalah tujuannya untuk mengobati rasa penasarannya.
"***Astaghfirullah . ." ucap ibunya yang sedikit kaget melihat putrinya yang masih bergelung di atas tempat tidur, dan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Nay, bangun mau sekolah apa nggak?" ucap ibunya mengelus pipi chuby putrinya. Setelah menikah Kanaya lebih berisi di bagian tertentu, terutama pipinya yang semakin chuby.
"Hmmm..." hanya berupa deheman sebagai jawaban Kanaya.
"Ini sudah pukul 07.00 pagi lho..."
"Jam 07.00 Buk!"
"Iya, mau berangkat sekolah apa mau tidur lagi?"
"Sekolah Buk***!"
__ADS_1
Kanaya berniat beranjak dari tempat tidurnya, tiba-tiba kepalanya berputar-putar seperti naik komedi putar.
Perutnya tiba-tiba juga mual, berbarengan dengan rasa pusing di kepalanya. Kanaya menyibak selimut, berlari untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Hoek... Huekkkk.. ..
"***Nay, kamu kenapa?" tanya ibunya yang sudah sangat khawatir.
"Nggak apa-apa buk!" Jawabnya sembari tangannya mengusap sudut bibirnya yang terkena muntahkan, dan memberikan senyuman manis supaya Ibunya tidak khawatir***.
Berkali-kali juga Kanaya memuntahkan cairan bening, dengan pelan Kanaya di tuntut sang ibu untuk kembali ke kamarnya.
"***Ibu buatkan minuman jahe untuk meredakan mual-mual-mu.. " Tutur sang ibu merebahkan tubuhnya Kanaya, dan menyelimutinya.
"Makasih Buk!" ucap Kanaya dengan bibirnya yang sedikit pucat***.
Setelah di buatkan ibunya minuman dari jahe, tubuhnya Kanaya lebih rileks, rasa mual-nya sedikit berkurang. Rasa kantuk menderanya, akhirnya Kanaya tertidur melupakan sejenak urusan belajar atau sekolah, yang terpenting sakitnya sembuh baru kanaya berangkat ke sekolah.
.🍭🍭🍭
Mendapatkan telepon dari mertuanya, Tama di Jakarta tidak tenang apalagi menyangkut sang istri yang sedang kurang sehat.
Pikirannya melayang ke negeri awang-awang, rasanya sangat khawatir pas istrinya sakit Tama adalah orang kedua yang tahu keadaan sang istri.
Ingin cepat-cepat pulang, tetapi ada rapat yang tidak bisa di wakilkan. Tidak ada jawaban, akhirnya Tama menelepon ponsel Kanaya, tidak di angkatnya, hanya ada suara operator yang menjawabnya.
Perasaannya sedikit lega setelah berbincang-bincang dengan ibu mertuanya, bahwa Tama belum bisa pulang sekarang, karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di wakilkan, dengan berat hati Tama menitipkan sang istri kepada ibu mertuanya, baru besok Tama pulang ke Solo.
__ADS_1