
Myesha Maliqa Wiratmaja.
Sudah tiga bulan usia si kecil, sudah bisa tidur secara teratur walaupun masih suka bangun di tengah malam. Naya juga sudah sedikit bisa beristirahat, ada sang suami yang membantu menjaga putrinya secara bergantian.
Setelah memandikan si kecil, memakai kan pakaian, mendandaninya si kecil langsung tertidur pulas. Padahal niatnya Naya ingin mengajak nya ke kamar My twins, alhasil keinginan nya tak sesuai ekspektasi nya.
Setelah memastikan si kecil sudah tidur sangat nyenyak, Naya meninggalkan putrinya untuk ke kamar si kembar. Sebisa mungkin Naya harus meluangkan waktu untuk membagi waktunya untuk si kecil, dan si kembar yang harus ekstra was-was dengan tingkah nya yang selalu ingin tahu hal-hal yang baru mereka kenal.
"Assalamualaikum jagoannya Bunda, udah pada bangun belum nih, adik udah mandi lho Mas." sapa Naya membuka pintu kamar putranya, kamar yang sangat kental dengan nuansa putih, grey dan biru.
"Accalamualaikum uga Nda, mas ingin di mandiin Nda sepelti adik, boyeh Nda." My twins masih mengucek-ucek kelopak matanya, untuk membuka kelopak matanya untuk menyesuaikan cahaya kamarnya yang sudah sangat cerah sinar matahari nya.
"Boleh dong sayang, apa yang enggak buat mas dan adik, kalian bertiga kesayangan Bunda selamanya."
Ucap Naya berjalan ke ranjang my twins, mereka masih nyaman diatas ranjangnya menunggu sang Bunda menghampirinya.
"Asyik... asyik...di mandiin Nda, yeaaahh makasih Nda."
sahut my twins langsung mengecup pipi Bundanya, menghadiahi beberapa kecupan manis di seluruh wajah Bundanya.
"Cup Cup... " Naya membalas kecupan manis jagoannya, kecupan nya mendarat di pipi gembul jagoannya.
"Saatnya kita mandi!" Naya mengendong My twins kanan dan kiri, walaupun sedikit kesusahan karena berat badan mereka yang semakin gembul.
"Yeeeaaaahhhh andi mah Nda."
seru girang my twins.
Setelah memandikan si kembar, Naya mendudukkan my twins di meja makan. Setelahnya Naya naik ke kamar untuk memanggil suaminya, untuk sarapan bersama.
"Mas..."
"Hmmm..."
"Mas Ayo kita sarapan bersama, sudah di tunggu si kembar di meja makan."
Tutur Naya lembut menghampiri suaminya, Tama seperti tak bersemangat sekarang waktunya berduaan dengan sang istri sedikit berkurang."
"Mas kenapa hmm?"
tanya Naya yang curiga perubahan mimik wajah suaminya, pagi ini seperti tak bersemangat, ucapan nya pun tak di jawabnya.
__ADS_1
"Enggak pa-pa Bun! sedikit capek saja!"
jawabnya Tama asal, Tama pun tak menoleh ke arah sang istri.
Naya tahu perubahan suaminya pasti ada sesuatu yang di sembunyikan, tidak butuh lagi mempertanyakan alasan nya apa? Naya langsung menghambur memeluk suaminya dari belakang, menghirup aroma maskulin yang membuat nya semakin betah melingkar kan tangannya.
"Mas wangi aku suka wanginya."
"Hmmm.."
Tama masih sibuk membenarkan tali simpul dasinya, merasakan pelukan hangat istrinya membuatnya sedikit melunak hatinya. Hati yang kian cemburu, kini terkikis dengan suara lembut istrinya, dan sentuhan tangan yang melingkar di pinggangnya.
Hanya hitungan detik, keduanya sudah saling menatap, tatapan yang syarat penuh damba dan maksud tertentu. Jiwa mudanya yang berkobar-kobar sangat tinggi, membuat tatapan keduanya ada maksud tersembunyi di baliknya.
Tama langsung menghujani ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah istrinya, perempuan yang sangat di rindukan, membuat jiwanya enggan melepas dekapan hangat sang istri.
Tidak tahu siapa yang memulai bibir keduanya sudah saling me lu mat, bertukar Saliva, mencecap rasa manis di bibir keduanya.
Tak sedikit pun Tama membiarkan sang istri untuk bernafas, lu ma tan nya sangat rakus, syarat dengan emosi tidak ada kelembutan yang ada naf su yang harus segera di salurkan.
Tok Tok Tok....
Mendengar suara ketukan pintu tak membuatnya berhenti menikmati manisnya bibir istrinya, Tama terus saja me lu mat bibir Naya, bibir yang sudah menjadi candunya beberapa tahun terakhir ini.
"Mas ada orang mengetuk pintu."
"Hmmm."
Tok Tok Tok...
"Mas iiihhhh lepas, ada hal penting mungkin nanti di lanjut lagi."
Ucap Naya lembut sembari tangannya mengusap-usap punggung suaminya, berharap sang suami mau mengerti.
"Akhhh..." Naya nampak terengah-engah dengan ciuman yang memabukkan, tetapi syarat dengan emosi, masih saja nikmat tiada tara.
Setelah bibir keduanya terlepas, Naya dan suami membenahi penampilannya. Sebelum membuka pintu, Naya memastikan penampilan nya di depan cermin kamarnya. Di rasakan sudah rapi, Naya mengintip dari celah kecil, dan membuka pintu kamarnya.
"Kenapa mbak?"
tanya Naya berusaha bersikap biasa saja, seperti sedang tidak ada apa-apa di kamarnya.
"Anu non si kembar katanya sudah lapar."
__ADS_1
jawab Mbak Marni sedikit tidak enak telah menganggu kesenangan majikannya.
"Ehh aku sampai lupa bahwa mereka menunggu di bawah, my twins suruh nunggu bentar untuk panggil Papa nya." Tutur Naya yang kelupaan, bahwa jagoannya sudah menunggu sampai kelaparan.
"Baik non, mbak Marni permisi dulu!"
Setelah pamit mbak Marni menghampiri si kecil dengan memegang perutnya yang sudah berbunyi minta di isi.
*******
Sepasang suami istri yang sedang menuruni anak tangganya, my twins yang melihat Bunda dan Papa langsung menghambur ke pelukan keduanya.
"Papa lama.."
"Nda uga lama.."
"Maaf Boys, Papa bangun nya kesiangan."
"Oce Papa.."
Mereka sudah duduk di bangkunya masing-masing, Naya sedang meladeni ketiga pria yang berarti untuk hidupnya. Setelah melayani suaminya, baru Naya beralih ke my twins yang sudah sangat sabar menunggu Papa Bundanya menyelesaikan ritualnya di kamarnya dulu.
"Mau nambah lagi sayang?"
tawar Naya pada si kembar.
"No! udah enyang Nda."
jawab my twins dengan mulutnya penuh makanan, dan mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.
Mereka berempat makan dengan sangat khidmat. tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, keempatnya makan sangat lahap. Terutama my twins yang menghabiskan makanan di atas piring yang di ambilkan Bundanya, dan satu gelas susu kesukaannya...
Setelah sarapan bersama, seketika mereka menoleh ke asal suara, suara tangis si kecil yang sudah terbangun dari tidur nyenyak. Dengan di gendong mbak Marni, si kecil langsung terdiam berada di pangkuan Bundanya.
"Kenapa udah bangun hmn?"
"Si kecil menjawabnya dengan bahasa planet, membuat orang dewasa yang mendengarnya ikut tersenyum melihat perkembangan si kecil yang semakin hari, semakin pintar."
"Wkkkkwkkkk adik makin pintal, mas sayang adik kecil." tawa my twins di sela-sela mainan nya, dan si kecil dengan kaki tangannya sedang gowes sepeda onthel.
Mimin ada cerita baru lho, menceritakan perjalanan untuk kesembuhan pejuang negatif. bingung mau di publikasikan di platform mana? so masih bingung dengan pihak plaform ini, berharap bulan depan ada mukjizat cerita ini mendapatkan pendapatan yang layak, bukan 3-5ribu perak.
Semoga saja ada angin segar, next bulan depanπππππ
__ADS_1
Cerita ini sudah Mimin bikin panjang lho sesuai permintaan readers setia, jangan lupa tanda cintanya melalui vote, like, komentar, hadiah yang lainnya juga boleh lho...
Mimin ndak nolak hihihi