Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 136


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Beberapa hari yang lalu mual-mual dan muntah sudah tidak ada keluhan lagi yang di rasakan Tama. ***** makan pun sudah mulai meningkat, Tama pun juga sudah masuk ke kantor kembali.


Tetapi satu minggu belakang ini sangatlah berbeda, di kantor lagi-lagi Tama merasakan hal yang sama seperti kemarin.


Hoooeeeekkkkk......


Di wastafel kamar mandi Tama terduduk lemas merasakan lemas yang tidak berkesudahan. Matanya berkunang-kunang karena sarapan pagi dari rumah keluar semua.


Tama mulai memejamkan matanya dan kembali membuka nya pelan. Cahaya di kamar mandi terasa redup seakan-akan pusing kian menjadi, membuat Tama menutup kembali matanya.


Tok...... Tok...... Tok........


Suara ketukan pintu dari luar terdengar nyaring, Tama semakin tertidur pulas dengan posisi bersandar dengan dinding.


Tidak mempedulikan lagi jas mahal yang di kenakan nya, sepatu mahal dengan harga ratusan juta, jam mahal pun tidak Tama pedulikan lagi.


Tok ...Tok ...


Tidak ada sahutan lagi, Reksa memilih memutar handel pintu ruang kerja adik iparnya.


Ceklek....


"Sepi..."


Tak tak tak


Reksa mulai melanjutkan langkah kakinya, mengelilingi ruang kerja Tama. Beberapa kali panggilan tidak ada suara sahutan, berulang-ulang kali Reksa mencari keberadaan Tama tetep saja nihil.


"Apa di kamar mandi?"


Langkah nya sedikit berat, karena antara yakin dan tidak yakin berada di dalam. Tidak ada sama sekali suara air, maupun suara yang menandakan ada tanda-tanda bahwa di dalam ada orang.


"Tam, pak Tama....."


"Sunyi, tidak ada jawaban...."


Kreetttt....


"Sepi, gelap..."

__ADS_1


"Kemana Tama?"


Reksa kembali membuka pintu yang terdapat wastafel yang biasa digunakan untuk mencuci tangan dan sebagainya.


Kleekk.....


"Astagfirullah Tama...."


Teriaknya Reksa mengema di kamar mandi, Tama pun tidak bergerak dengan suara panggilan yang melengking.


Reksa kembali menepuk-nepuk pelan pipi nya, membangunkan nya, dan berbagai cara juga sudah Reksa lakukan, tetapi tindakan nya nihil tidak ada respon sama sekali.


***


Di UGD rumah sakit Tama sedang di periksa, Reksa dengan berjalan mondar-mandir ke kanan-kiri untuk menunggu pintu ruangan UGD di buka.


Hampir setengah jam pintu belum dibuka, rasa khawatir dan cemas menghinggapi pikiran nya terutama nasib sang adik dan keponakannya.


"Keluarga tuan Wiratama?"


"Saya sus..."


"Mari ikut saya, dokter akan menjelaskan apa yang sudah di dapatkan dalam pemeriksaan tuan Wiratama."


Reksa mengikuti dari belakang perawat yang memanggil nya, dengan perasaan yang tak karuan Reksa mencoba untuk bersikap biasa saja seakan-akan semua baik-baik saja.


"Keluarga tuan Wiratama..."


"Iya dok..."


"Silahkan duduk!"


Reksa duduk dengan wajah tegang, takut adik ipar nya mempunyai penyakit serius. Berbagai hal negatif memenuhi pikirannya, pikirannya melayang ke angkasa, ke langit ketujuh.


"Begini pak, sesuai hasil pemeriksaan yang dilakukan tim kami tuan Wiratama kehilangan cairan banyak, harus rawat inap dulu untuk memulihkan kesehatan nya."


"Baik dok..."


"Terimakasih..."


****

__ADS_1


Kanaya di buat gelisah menunggu sang suami pulang, sampai jam 4sore Batang hidung suaminya belum terlihat.


Beberapa kali menghubungi nomor telepon nya juga tidak ada jawaban, meskipun masuk tetapi tidak di angkat.


"Kemana kamu mas....?" batinnya Kanaya meronta-ronta ingin segera bertemu dengan sang suami, ingin tahu juga kabar beliau.


"Kenapa perasaan ku tiba-tiba enggak enak?" pikirannya Nay terus saja berkecamuk kemana-mana.


Duk... Duk...


Bola yang di tendang my twins meleset ke sebelahnya Nay, tetapi Nay hanya diam saja tanpa menanggapi suara tendangan my twins.


"Nda tenapa?"


"Sakit?"


Tangan my twins sudah memegang kening sang Bunda, meraba-raba bila ada yang demam atau sakit.


Dengan telaten my twins memijat kecil di tangan dan kaki sang Bunda.


Nay pun terharu mendapatkan perhatian my twins seperti sekarang ini. Tidak di perintah matanya sudah berkaca-kaca, siap untuk mengalir membasahi pipinya kalau tidak di halau oleh tangannya.


"Nda tenapa diam?"


"Nda sakit?"


"Tenapa nanis?"


My twins mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang Bunda, ada kecemasan, ada ke khawatir yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Enggak pa-pa, sayang..."


Nay mencoba membuang jauh-jauh pikiran negatif tentang suaminya, fokusnya sekarang adalah anak-anak.


Nay tidak ingin anak-anaknya merasa sedih melihat kondisi nya seperti ini, berharap my twins tidak curiga dan mulai memikirkan yang bukan perlu di pikirkan dengan anak seusianya.


Nay hanya mampu menghela nafasnya, membuang pelan untuk merilekskan pikiran nya yang sedang bercabang kemana-mana, terutama kepikiran sang suami.


Othor double Up untuk kalian semua yang masih nungguin cerita ini, bila berkenan kasih komentar, like, vote yuk!!!


Kalian semangat othor juga tambah semangat.

__ADS_1


Kalian bahagia othor juga ikut bahagia .


__ADS_2