Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 171


__ADS_3

Kehidupan rumahtangga Tama dan istri semakin mesra, keramaian di rumah sungguh sangat terasa. Semenjak kehadiran Baby girl di tengah-tengah mereka, kebahagiaan nya semakin sempurna, dan lengkap. Ada my twins berjenis kelamin laki-laki, ada juga dedek kecil yang berjenis kelamin perempuan.


"Alhamdulillah lengkap sudah kebahagiaan ini, tumbuhlah dengan sehat anak-anak ku semuanya." Batinnya Naya.


Naya berada di kamar si kembar, membaca kan dongeng, menemani si sulung sebagai pengantar tidur si sulung adalah kegiatan rutin yang dilakukan kan Naya sebelum si sulung tidur.


Si sulung sangat seksama mendengarkan Bundanya mendongeng, kadang-kadang mereka meniru kan apa yang di dongeng kan Bundanya di hari berikutnya.


"Tenapa si kancil suka menculi, Nda?"


tanya si sulung mas Atya.


"Iya tenapa, Nda?"


tanya si sulung mas Ara yang mempunyai jiwa kekepoan nya tinggi.


"Si Kancil adalah binatang yang sangat cerdik, dia sangat pandai dan suka menolong pada hewan-hewan lainnya." Jelas Naya.


"Contohnya mulai dari gagak, tikus, siput, kerbau dan binatang-binatang lainnya, kancil pun ikut menolongnya."


"Tapi dengan ketenaran dan kebaikan hatinya, banyak juga yang merasa iri dan diam-diam membenci si Kancil."


"Telus-telus Nda.."


Ucap si sulung yang ingin mendengar cerita si kancil.


"Ceritanya di lanjut besok lagi, mas harus tidur karena sudah malam, entar dedek nangis nyariin Bunda, kan dedek mau bobok seperti Mas."

__ADS_1


Sahutnya Naya berusaha memberikan pengertian dengan si sulung.


"Oce...Oce Nda.."


"Baca doa dulu ya Mas!"


"Bismillahillhmanillahim... bismika amutu."


basuh si sulung ke wajahnya dengan kedua tangannya.


Dengan elusan, usapan tangan lembut Bundanya. keduanya langsung terlelap dalam tidurnya, si sulung langsung nyaman dalam berkat tangan ajaib Bundanya.


"Sweet dream mas Atya dan mas Ara."


Naya mengecup kening bergantian, dan menaikkan selimutnya sebatas dada.


*******


Oek... oek...


"Cup Cup .... sayangnya Bunda..."


"Mau ne nen ya..." mendengar suara Bundanya si dedek langsung diam, ekor matanya celingak-celinguk mencari sumber suara.


Setelah membuka kancing piyama nya, dedek langsung melahap sumber makanan sangat cepat. Seakan-akan tidak ada bileh meminta nya, hanya dirinya yang punya, bukan orang lain termasuk Papa.


"Uluh uluhhh pintar nya anak Bunda, makin kesini makin mengemaskan tingkah lakunya...."

__ADS_1


"Sayang.."


sapa Tama yang baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya yang basah mampu membuat Naya menatapnya tak berkedip.


Oek... oek...


Tangisnya menggelegar di kamar yang kedap suara, menyadarkan tatapan orang dewasa yang penuh dengan minat. Tatapan nya langsung buyar, mendengar pengganggu kecil yang menangis.


"Cup... Cup.. sayang nya Papa.."


Tama beralih menciumi wajah putrinya.


Mereka berdua bergadang semalaman, Putri kecilnya tidak mau terpejam barang sedetik pun. Mau tidak mau mereka bekerja sama untuk tidak beristirahat, meskipun matanya terpejam sebentar-bentar.


"Hoaaammmm... "


Tama sudah menguap berkali-kali.


"Mas tidur saja gih, besok kan harus ke kantor, biar Naya yang jagain dedek."


Ucap Naya.


"Beneran kamu enggak apa-apa?


aku tinggal tidur duluan."


"Enggak pa-pa, santai saja mas."

__ADS_1


Naya masih sigap menemani putrinya bermain, walaupun rasa kantuk sudah menggunung tinggi, melihat senyuman tipis putrinya membuat Naya terbuka lebar kelopak matanya.


__ADS_2