
Kanaya mulai merespon usapan lembut tangan suaminya, mulai menikmati belaian lembut yang beberapa hari kemarin Kanaya rindukan.
Sebenarnya Kanaya tahu yang memeluknya adalah suaminya, karena tidak ada yang berani masuk ke kamarnya kecuali keluarganya, dan Kanaya sangat tahu. Tidak mungkin orang lain berani memeluknya, memainkan yang ada di dirinya.
Apalagi berani memeluknya, dan memainkan benda kenyal yang menjadi tempat favorit suaminya sekarang ini.
Kedua matanya terpejam menikmati elusan tangan suaminya, rasanya seperti melayang ke pulau nirwana, meskipun itu hanya usapan kecil tetapi bagi Kanaya ini suatu membahagiakan.
Dengan pelan Kanaya membuka kelopak matanya, yang pertama di lihatnya wajahnya Tama suaminya. Tangan Kanaya terulur mengusap lembut pipi suaminya, wajah yang selalu Kanaya rindukan.
*Mencintaimu bukan hal yang sulit, karena kamu di anugerahi mahakarya wajah yang tampan, kaum hawa yang melihatnya pasti langsung jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Tidak ada permainan yang menguras keringat*, yang ada hanya usapan lembut yang penuh damba, tatapan penuh cinta, dan kedua matanya memancarkan kerinduan yang mendalam.
🍭🍭🍭
Ibunya Kanaya sudah berada di dalam dapur, Ibu memasak menu sarapan kesukaan menantunya.
Dari sang anak bontot, ibu Kanaya tau bahwa menantunya tiba semalam. Ingin membuat pagi yang indah, ibunya berbagai menu makanan termasuk makanan kesukaan menantunya.
Ibunya tidak pakai pembantu, dengan alasan sayang uangnya bila harus menyewa pekerja untuk membersihkan rumahnya, dan untuk merawat tanaman yang tumbuh sangat baik karena daunnya yang begitu lebat.
Perlahan tapi pasti, masakannya sudah selesai, tinggal menata menu hidangan diatas meja makan.
Setelah memasak, dan menghidangkan menunya diatas meja makan. Ibunya bergegas keluar dari dapur, untuk membangunkan suaminya, dan satu anak laki-lakinya.
Di meja makan semua sudah berkumpul, termasuk Kanaya, Tama, Adiknya, dan kedua orang tuanya. Mereka tengah menikmati sarapan paginya bersama, tidak ada yang berani mengeluarkan suara yang ada hanya bunyi dentingan piring, dan sendok yang saling beradu.
🍭🍭🍭
__ADS_1
Rencananya seusai sarapan, Tama ingin mengajak istrinya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan di Kota Solo. Hampir dua minggu mereka terpisah, hawanya seperti masih pengantin baru hehehe padahal mereka berdua masih hitungan pengantin baru.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Kanaya meninggalkan rumahnya bersama sang suami mengendarai mobil tanpa seorang sopir. Tama ingin menikmati kebersamaan dengan sang istri, ingin membayar momen yang hampir dua minggu keduanya berjauhan.
Niatnya dari rumah untuk pergi ke pusat perbelanjaan, tetapi Tama membelokkan mobilnya ke sebuah hotel ternama di Kota Solo.
Di dalam mobil pun Kanaya hanya diam saja, dan tidak tahu bahwa mereka berdua sudah berada di basement Hotel.
Kanaya celingak-celinguk mencari seseorang yang lewat, tetapi nihil keadaan basement sangat sepi. berjejer mobil mewah terparkir di basement, termasuk mobil suaminya.
"***Mas kita ini mau ke mana? kok tempat basement beda dengan pusat perbelanjaan Kanaya datangi?" tanya Kanaya penuh tanda tanya, dan ada sedikit rasa curiga di benaknya.
"Enggak kemana-mana, ayo turun!" Ajak Tama yang mengengam tangan Kanaya sangat erat seperti takut ada yang memisahkan***.
Kanaya hanya menuruti titah sang suami, mengikuti langkah sang suami yang sedikit terburu-buru membuat Kanaya sedikit kecapekan, mengimbangi langkah kaki suaminya yang begitu cepat seperti di kejar maling.
"***Mas, ini di mana?" tanya Kanaya ingin memastikan.
Tidak ada jawaban yang pasti, Kanaya diam saja tidak ada kata yang terucap dari bibirnya setelah mendengar suara suaminya berupa deheman.
Mengikuti langkah kaki suaminya, menuruti keinginan suaminya bukankah itu langkah yang terbaik. Selagi suaminya membawa dalam kebaikan, bukan ke arah keburukan, Kanaya berhak mematuhi atau menurut perintah suaminya.
Ridho suami pahala untuk istri
Setelah memesan kamar, Tama mengandeng tangan sang istri untuk menuju kamar pengantin part 2.
Kleeek
Pintu kamar terbuka, dengan fasilitas bed besar sepray berwarna putih, bantal pun juga warna senada. Ruangan luas seperti Kamar tetapi lebih luas kamar ini, dan satu kamar mandi yang di lengkapi beberapa fasilitas hotel.
__ADS_1
Setelah mengunci pintu kamarnya, tanpa menunggu waktu lama, Tama langsung menubruk sang istri memainkan benda kenyal yang berada depannya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, tangan satunya mulai bergeliya ke seluruh tubuh sang istri.
Tama tidak membiarkan istrinya bernafas sedikit pun, masih asyik memainkan yang sudah menjadi candunya, yang sudah Tama rindukan beberapa hari terakhir.
"Mas..." Ucap Kanaya memukul-mukul dada suaminya. Kanaya mulai kehabisan nafas, akibat ulah sang suami yang sangat intens menginvasi rongga mulutnya.
Tama mulai melepaskan tautan bibir keduanya, Kanaya langsung menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Setelah permainan singkatnya, keduanya melempar senyum, dan saling memberikan pelukan hangatnya.
Tama tidak ingin memberikan celah untuk istrinya kabur dari genggamannya, Tama mulai memainkan perannya sebagai suami yang merindukan permainan dengan sang istri.
Nafas keduanya sudah memburu, hampir dua minggu tidak tersalurkan membuat Tama tidak ingin meninggalkan momen langka yang mereka akan lakukan sekarang ini.
Kecupan hangat, kecupan mesra, ekor matanya yang penuh damba, tatapan keduanya menyiratkan rasa yang ingin di tuntaskan, puasa Ramadhan itu mudah, tetapi puasa untuk dua minggu bagi seorang Tama sangatlah susah.
Semakin hari, semakin terlihat mahakarya-nya, nampak jelas di pelupuk matanya tubuh yang berisi, wajah yang cantik, dan senyuman yang manis. Siapa saja yang melihatnya pasti akan jatuh terpesona, meruntuhkan imam kaum hawa yang melihatnya.
Berbagai gaya, model permainan mereka berdua mainkan sangat apik, dan sempurna. Tidak ada decitan ranjang yang takut roboh, yang ada kenikmatan batniah yang keduanya rasakan.
Berteriak sesuka hati tidak ada yang mendengarnya, beda halnya bila mereka melakukan permainan di rumah, pasti ada rasa sedikit terganggu dengan orang rumah, dan teriakan tidak leluasa mengekspresikan perasaan keduanya.
Mereka berdua menikmati puncak nirwana, rasanya sama, tetapi legit seperti kue lapis yang rasanya semakin di gigit akan semakin nikmat bila di rasakan penuh cinta, dan pasangan yang halal.
Kanaya sampai terbuai, belaian lembut tangan suaminya yang begitu sangat pandai memberikan pagi yang indah, seperti sinar matahari yang memancarkan aura positif, dan kebahagiaan tak terhingga.
Setelah beberapa kali mengulang ronde-ronde sebelumnya, nampak Kanaya kelelahan dengan kedua matanya yang masih terpejam. Saking capeknya Kanaya tidak menyadari bahwa tubuhnya penuh dengan bercak merah, belang-belang seperti macan.
__ADS_1
Keduanya nampak pulas dalam tidurnya, sampai melupakan makan siangnya. Kapan lagi mereka seperti ini? , kalau tidak memanfaatkan peluang yang ada adalah kuncinya.
Inilah resiko seseorang Ceo tampan, memiliki beberapa anak cabang menikahi seorang perempuan yang masih berstatus sebagai seorang pelajar, minim pengetahuan, sangat polos, dan Tama harus ekstra sabar untuk mengajarinya..