Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 128


__ADS_3

Beberapa hari ini waktu berdua sangat susah, akhir-akhir ini suaminya sering pulang malam, sering pula lembur.


Putra kembarnya sering menanyakan Papa nya yang sekarang jarang bisa menemani nya bermain,. Hal seperti ini yang membuat Nay sedih, anak-anak seperti tidak bersemangat, tidak seperti sediakala yang selalu aktif dan ceria...


"Nda, Lindu Papa.." putra kembarnya merengek dengan matanya sudah berkaca-kaca, siap menyemburkan lahar panas di kedua matanya.


"Papa lagi kerja sayang, buat beli mainan, beli susu dan jajan kalian berdua." Nay berusaha menjelaskan tentang Papa nya, bahwa Papa nya sibuk untuk mencari uang.


"Ndak au beli jajan, beli mainan, beli susu! Ita minum ail putih ndak pa-pa! Ita au Papa, mah!" keduanya tetap pada pendiriannya, Papa dan Papa bukan yang lain.


Nay menarik nafasnya, mencoba untuk tidak ikut emosi menghadapi perilaku putra kembarnya yang hari ini kelewatan manja nya.


"Bobok ya sama Bunda."


"Menggeleng, ndak au!"


"Terus maunya apa? jangan bikin Bunda pusing, entar kalau bunda kecapekan gimana?" tanya Nay mencoba untuk bernegosiasi dengan putranya.


"Nda sakit?"

__ADS_1


"Sedikit pusing!"


Mendengar Bundanya pusing, akhirnya putra kembarnya mau untuk diajak ke kamar, mau bobo siang dengan seribu cara agar mereka tidak merengek minta ke Papa nya.


Sebenarnya tidak tega, tapi mau bagaimana lagi suaminya sedang sibuk-sibuknya untuk pembangunan proyek baru.


Setelah pulang kantor nanti, Nay ingin membicarakan masalah putranya dari hati ke hati, supaya putranya tidak kehilangan kasih sayang dari Papa nya. Sosok laki-laki yang sangat ia rindukan dan banggakan adalah Papa nya.


💜💜💜💜💜💜💜


Mereka berdua masih berada di luar kantor, cuaca yang terik membuat Dara sedikit kepanasan dengan pipi yang memerah. Sebisa mungkin Dara menjaga image dari tuan arogan, tidak ingin di lihat kaum wanita, kaum yang lemah. Dengan sangat apiknya Dara bisa menyembunyikan, sesekali menyunggingkan senyumnya.


"Siang juga Pak!" Ara kembali menyapa para pekerja, senyum menawan terbit di sudut bibirnya Ara.


"Duh cantiknya senyumnya, Buk." Tutur para pekerja melempar candaan.


"Hehehe bapak-bapak bisa aja candanya..." sahut Ara.


"Jelek gitu kog dibilang cantik, nanti-nanti bisa besar kepala lho Pak..."celetuk Reksa yang sayup-sayup mendengar pembicaraan Dara dan para pekerja lainnya.

__ADS_1


"Tuan arogan menyebalkan, bisa-bisa nya mengatai dirinya jelek," Ara terus saja mendumel mendengar hinaan bos nya yang kelewatan pembatas jalan.


"Welehhhh bapak ini gimana? cantik begini kog di bilang jelek, kalau bapak tidak mau buat saya saja pak Reksa." Tutur pak Harto selaku kontraktor pembangunan gedung untuk proyek baru perusahaan Abadi Group.


"Ara menanggapi dengan senyuman."


Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, rasa kesel kian membumbung tinggi menyimak percakapan tuan arogan dan bos kontraktor.


Sebisa mungkin Ara menutup telinga, berpura-pura dirinya tidak mendengar apa-apa, daripada dirinya nanti akan sakit hati.


"Emang Ara barang? pakai di lempar-lempar seperti olahraga tolak peluru," batinnya Ara ingin sekali menutup mulutnya tuan arogan dengan lakban, biar mulutnya berhenti untuk berbicara tidak penting.


"Mangga pak ambil aja!" ucap Reksa sedikit sewot meninggalkan tempat Ara dan pak Harto.


"Jangan di masukin hati, buk! tadi hanya bercanda saja!" ucap Pak Harto tidak enak hati bila menyinggung perasaannya.


"Enggak pa-pa Pak, sudah biasa hehehe.." Tutur Ara di sertai dengan candaan recehnya...


Tidak ada percakapan terlontar dari keduanya, Ada memilih untuk menjauh dan mencari keberadaan tuan arogan. Meskipun kata-katanya nyelekit di hati, tetapi ada rasa tidak enak juga terlalu lama-lama mengobrol dengan orang yang baru di kenal.

__ADS_1


__ADS_2