
Beberapa minggu sudah berlalu....
Kanaya sudah di nyatakan lulus dari sekolahnya di Solo satu bulan yang lalu, kedua sahabatnya sudah mendaftarkan kuliah mengikuti SNMPTN di Solo.
Kanaya memilih menunda kuliahnya dulu demi memfokuskan kehamilannya, meskipun kandungannya usianya sudah tiga bulan, tetapi masih berisiko untuk beraktivitas yang berat, apalagi untuk mengurusi bangku perkuliahan yang banyak menyita waktu.
Akhirnya Kanaya mengalah, memilih mengubur mimpinya bersama kedua sahabatnya untuk menikmati bangku perkuliahan bersama, menunda waktu kuliahnya tidaklah dosa demi sang jabang bayi yang masih dalam kandungan sampai dedeknya lahir.
Kedua orang tuanya Kanaya selalu mendukung apapun yang putrinya ambil, yang terpenting tidak membebani pada kehamilan putrinya, yang masih sangat rentan karena masih trimester pertama.
Suaminya juga mendukung keinginan istrinya untuk menunda kuliahnya, semua di lakukan demi dedek.
Flasblack On
Kedua sahabatnya kaget mendengar kejujuran Kanaya yang sudah menikah, dan sudah hamil di acara kelulusan mereka bertiga di bangku sekolah yang sama.
Awalnya keduanya sangat kaget mendengar kenyataan, bahwa sahabatnya Kanaya dari bangku SMP menikah secara diam-diam, dan dirinya tidak di undang sama sekali.
"***Nay, kamu anggap Aku apa?" tanya Difa sedikit berteriak, rasa kecewa yang mendalam karena tidak ada kejujuran dari Kanaya.
"Nay, kenapa kamu menyembunyikan hari bahagiamu dengan kita, padahal kita sahabatan sudah lama." Tutur Dina yang minta penjelasan dari Kanaya. Tangannya mengguncang bahu kanan Kanaya, rasa kecewa itu pasti karena keduanya merasa di bodohi.
"Maaf... bukan seperti itu! pernikahan ini hanya di hadiri kedua belah keluarga saja, dan tidak mengundang teman-teman lainnya, ku harap kalian mengerti posisiku yang masih sekolah.." jawabannya Kanaya yang sudah berurai air mata di pelukan sang suami***.
Mendengar kata maaf yang tulus dari sahabatnya, akhirnya memarahi pun percuma nasi sudah menjadi bubur Difa, Dina memaafkan Kanaya adalah jalan terbaik. Ketiganya saling berpelukan, mencurahkan rasa bahagianya lulus dengan predikat cumlaude, dan ada keponakan baru yang masih betah di perut sahabatnya Kanaya.
Tama yang melihat istrinya tersenyum lebar, menjadi bahagia karena istrinya berani jujur dengan statusnya sebagai suami istri.
Suaminya mengacungkan jempol untuk memuji istrinya yang sudah mau jujur, meskipun kejujuran itu mahal harganya, dan sedikit terlambat, tetapi istrinya patut untuk di banggakan.
Akhirnya mereka berempat berbincang-bincang di cafe yang sudah di booking Tama, untuk merayakan kelulusan istrinya, dan kedua sahabat istrinya.
__ADS_1
Flasblack Off
🍭🍭🍭
Sesuai waktu yang mereka sepakati berdua, Kanaya meminta waktu satu bulan untuk bermanja-manja dengan kedua orang tuanya, dan keluarganya beserta kedua sahabatnya sebagai tanda perpisahan.
Akhirnya waktu yang di tunggu tiba sudah, Tama akan memboyong istrinya untuk di bawa ke Jakarta.
Sabtu lusa Tama akan pulang ke Solo, mengendarai mobil yang sengaja Tama bawa untuk menjemput sang istri. Kedua ora
ng tuanya juga akan ikut ke Solo, untuk menjemput menantunya, dan calon cucunya.
Senyum sumringah tercetak jelas di garis wajahnya Tama, tidak kurang dari satu minggu lagi mereka akan berkumpul menjadi keluarga yang utuh, yang tinggal satu atap membina biduk rumah tangga berdua dengan calon baby-nya kelak.
🍭🍭🍭
Di rumah Solo Kanaya sedang bermanja-manja dengan kedua orang tuanya, dan adik bungsunya. Tidak kurang dari satu minggu Kanaya akan meninggalkan rumahnya, rumah yang penuh dengan kenangan, kehangatan dalam keluarga.
Bukan tempat yang jauh terpisah jarak, hanya saja tidak bisa ketemu setiap hari, seperti sekarang ini yang bisa puas bermanja-manja dengan sang ibu.
Kebersamaan seperti ini yang akan selalu Kanaya rindukan, kampung halaman nan jauh di Mato tetapi dekat di hati.
"*Ibu nanti acara empat bulan kehamilan Kanaya ibu, bapak, adik datang ya ke Jakarta biar di jemput sama mas Tama." Tutur Kanaya yang sedang tiduran di pangkuan sang ibu.
"Insyaallah nak, pasti kita datang." sahut sang ibu mengusap-usap puncak rambutnya Kanaya..
"Nay, tunggu lho buk..." Ucap Kanaya dengan senyum cerianya. Kanaya bisa meninggalkan keluarganya dengan tenang, di Jakarta ada kak Reksa saudara satu-satunya Kanaya yang bisa di kunjungi.
🍭🍭🍭
Satu minggu yang terlewatkan sangatlah cepat, seperti jarum jam yang terus berputar pada porosnya, seperti itulah hari yang ditunggu-tunggu esok telah tiba.
__ADS_1
Suaminya, kedua mertuanya akan menjemputnya untuk di bawa tinggal di Jakarta.
Malam ini, malam terakhirnya Kanaya di Solo menjadi putri satu-satunya di rumah, mereka memutuskan untuk tidur berempat secara bersama, menggelar tikar, dan kasur di depan televisi adalah cara yang tepat.
Kanaya sudah memposisikan dirinya berada di tengah-tengah bapak, ibunya sedang adiknya berada di pinggir sebelah bapaknya.
"Waktu cepat berlalu ya, buk..." Tutur Kanaya mendongakkan wajahnya untuk menatap manik mata sang Ibu.
"Rasanya seperti mimpi, Nay akan meninggalkan rumah ini untuk mengikuti suami Nay, pasti Nay akan kangen kampung halaman..." Tutur Kanaya menerawang jauh ke depan, menatap atap langit-langit ruangan telivisi rumahnya.
"Enggak usah sedih, kita hanya terpisah jarak kalau kita kangen Nay bisa pulang ke rumah ini, atau ibu, bapak, dan adik bisa mengunjungi Nay di Jakarta." sahutnya sang ibu menatap dalam manik kedua mata putrinya. Ada gurat kesedihan di wajahnya, tetapi harus ikhlas melepas putrinya untuk di boyong suaminya ke Jakarta.
"Nay pasti akan sedih, ndak tiap hari kita bisa ketemu seperti sekarang ini, buk." Ucap Kanaya kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak ada yang tidak mungkin, kita bisa video call setiap hari, Nay..." sahutnya sang bapak ikut menimpali ucapan putrinya.
"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang kasihan dedek kalau Bundanya cengeng..." Ujar sang bapak menggoda putrinya supaya tidak bersedih, atau menangis.
"Bapak mah gitu...." sahutnya Kanaya memanyunkan bibirnya, dan pura-pura kesel di goda sang bapak.
Mereka berempat saling bertukar cerita, tertawa, bercanda, menangis pun mereka bersama. Tidur pun mereka bersama, saling berpelukan seakan-akan hari esok mereka akan berpisah , untuk sementara waktu mereka terpisah jarak, Kanaya harus mengikuti suaminya untuk tinggal di Jakarta.
"Berat melepasmu nak, tetapi bapak harus ikhlas karena tanggung jawab bapak menikahkanmu sudah selesai, sekarang putri bapak sudah milik orang lain, sudah seharusnya bapak melepasmu."
🍭🍭🍭
Mobil yang Tama, dan kedua orang tuanya tumpangi sudah keluar dari tol Solo. Mobil sudah melaju pelan ke rumah mertuanya, rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sang istri, dan baby bump.
Sepuluh menit kemudian, mobil sudah tiba di kediaman mertuanya. Di dalam mobil ada kelegaan di hatinya Tama, akhirnya perjalanan jauhnya selamat sampai tujuan sesuai perkiraannya.
Papa udah kangen Bunda, dan dedek. Papa akan jemput Bunda, dedek untuk tinggal bersama di Jakarta, kita akan selalu bersama selamanya.
__ADS_1