Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 182


__ADS_3

Malam terus saja beranjak meninggalkan hari kemarin, hari dimana terjadi pergantian waktu antar malam dan siang. Seperti halnya rumah tangga keduanya yang semakin lengket, mesra walaupun sudah mempunyai nuntut tiga.


Beberapa tahun sudah berlalu, suka duka, manis, pahit dan tawa sudah mereka lalui dengan penuh suka cita. Kehidupan rumah tangga yang berawal dari perjodohan, semakin mengukuhkan dirinya sebagai pasangan panutan. Hubungan kedua pasangan suami istri Tama dan Naya semakin harmonis.


Anak-anak juga sudah mulai besar, sudah bisa di tinggal pergi walaupun harus di titipkan di rumah Opa Oma nya. Sejauh ini Mama Nisa tidak pernah keberatan, bila harus di titipkan cucu-cucunya yang terkadang mengemaskan, terkadang rusuh.


Tama dan Naya sedang menikmati liburan bulan madu yang ke_dua di Labuan Bajo. Bak pengantin baru mereka tak terpisahkan barang sedetik pun, tangannya selalu saja menggenggam.


"Mas sunset nya sangat indah ya, pasti anak-anak senang lihat pantai cantik ini, nanti kita ajak anak-anak kesini ya." Tutur Naya mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya, wajah yang teduh sangat menenangkan.


"Boleh, nanti kita liburan keluarga ajak anak-anak. Apapun demi kebahagiaan mu dan Anak mas akan berusaha untuk membahagiakan kalian."


sahut Tama mengusap lembut rambut istrinya yang tertutup hijab pasmina sifon motif bunga-bunga.


"Makasih suamiku, kamu selalu yang terbaik, cintaku, sayangku." Naya menghadiahi kecupan bertubi-tubi di pipi suaminya, Tama yang merasa diatas angin merasa senang mendapatkan perlakuan manis dari sang istri.


"Hmm kalau ada maunya pasti manis, mas mah senang di perlakukan seperti ini, di perlakukan lebih boleh lah mas siap Kog ayuh atuh kita ke kamar!" ajak Tama yang sudah menggenggam tangan sang istri, siap untuk menggeret tangan untuk di bawa di tempat yang terindah.


"Iihhh mesum kamu mas, soal begituan kami langsung konek!"


Naya memukul pelan tepat di dada bidang nya, dan tangannya berusaha untuk melepas kan genggaman tangan yang di pegang sang suami.


Seharusnya genggaman tangannya terlepas, malah Naya jatuh di dalam pelukan hangat suaminya. "Hahahaha ... Tama tertawa lebar puas melihat ekspresi sang istri yang menurutnya sangat menggemaskan seperti putri bungsunya Esha."


"Uhhh mas pintar cari kesempatan."


Keduanya masih larut dalam dekapan mesra, sembari menikmati langit ke orange-orangee tergantikan warna senja. Indahnya hanya sekedip mata, keindahan tidak akan terlupakan.


*****

__ADS_1


"Huaaahua... tangis si kecil Esha memekakkan gendang telinga seisi rumah. orang-orang berhamburan keluar berlari ke sumber suara, untuk memastikan putri bungsu Esha baik-baik saja.,"


"Huwa...Hua.. Oma mas nya akal."


adunya si kecil Esha dengan pipinya sudah basah dengan air mata.


"Cup...Cup.. sayangnya Oma."


Ucap Oma Nisa mengecup kelopak matanya, dan memangku sembari mengusap lembut jejak-jejak air matanya."


"Mana Mas nya? nanti kalau nakal Oma jewer kupingnya biar ndak berani bikin cucu cantiknya Oma menangis."


"Mas akal Oma, giniin mainannya Elca."


Tutur Esha menirukan kejahilan mas nya yang merebut mainan nya.


"Lepon Nda Oma, Elca mau bilang kalau mas akal huwa..."


"Cup kita telepon Nda, dedek jangan nangis nanti Bunda sedih, entar kalau bunda dan Papa pulang dedek bayi nya Esha belum jadi, jadi Esha enggak boleh nangis ya."


"Esha mengangguk."


*****


"Accalamualaikum Nda, Nda lagi apa? udah akan Belum?" tanya Esha berusaha untuk menampilkan wajah cerianya, dengan berbagai pertanyaan memenuhi otak pintarnya.


"Huwa Hua...." tangisnya malah pecah melihat wajah Bundanya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lho-lho.... putrinya Bunda kenapa malah nangis, ada ap hmm?"

__ADS_1


tanya Naya dengan dahi yang mengerut sehingga menimbulkan tanda tanya besar.


"Mas akal-akal, tadi dedek mainan nya di ambil mas dan di buang, Nda huaaa.."


Adunya kepada sang Bunda.


"Nda ulang, dedek mau Nda hiks..."


Oma Nisa yang berada di sebelahnya geleng-geleng kepala, katanya tidak akan nangis, ehhh malah nangis nya semakin kencang. Namanya juga anak-anak, hari ini Bilang A belum tentu satu menit kemudian bulang A.


"Cup Cup, nanti mas akan Bunda jewer sekarang dedek sama Oma dulu ya, nanti Bunda pulang."


Sruukkk... ingusnya Esha meleleh seperti lilin, tangannya juga mengusap ingus dengan punggung tangan kecilnya.


"Sekarang Esha main dulu sama Oma ya, kan di sini Papa lagi kerja, nanti kalau pekerjaan nya Papa sudah beres. Papa dan Bunda akan pulang, so dedek enggak boleh nangis lagi kasihan Bunda nanti ikut sedih lihat dedek nangis."


Sruukkk...lagi ingusnya Esha keluar... ingin rasanya kedua orang tua yang berada di ujung telepon, dan di sebelahnya ingin sekali menertawakan putrinya yang kelewatan mengemaskan dan pintar tidak ada duanya.


"Iya Nda dedek sama Oma, Dangan upa oleh-olehnya dedek bayi yang bunyinya oek-oek ya Nda."


Esha sudah kembali ceria, sudah kembali bermain sedang orang yang masih bengong dengan jawaban Esha hanya mampu diam tanpa kata.


Mampir yuk ke cerita temannya Mimin, Bahagia Selepas Perceraian


Klik profil @Semesta 17.uv



__ADS_1


Cerita Reksa dan Dara sudah terbit di beranda, jangan lupa like, komentar, votenya Untuk di jadikan favorit bagi teman-teman semuanya.


__ADS_2