
Di kamarnya Kanaya, hanya terjadi keheningan antara kedua pengantin yang baru beberapa jam menjadi sepasang suami istri, tidak ada yang memulai. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, Kanaya nampak cuek saja, mengambil baju tidur yang melewati suaminya.
Kanaya melenggangkan kakinya untuk membersihkan tubuhnya, dan berganti baju dengan baju rumahan, tidak lupa juga Kanaya memakai jilbab. Meskipun sudah menikah, Kanaya masih belum terbiasa membuka jilbabnya di depan orang lain.
Setelah membersihkan tubuhnya, berganti pakaian, Kanaya membuka kenop pintu kamar mandi, terdengar deritan pintu yang terbuka. Tama sedikit terlonjak kaget, mendengar pintu terbuka menampilkan seorang perempuan di dalam kamar.
Setelah tahu istrinya, Tama berusaha untuk menguasai dirinya dan kembali fokus dengan gadget-nya.
"Mandi dulu Mas, ini baju ganti dan handuknya." Ucap Kanaya meletakkan baju diatas kasur, dan meletakkan handuknya yang bersebelahan dengan baju ganti.
"Iya bentar lagi balas email yang masuk." Jawabnya Tama yang tidak melihat lawan bicara.
Kanaya yang merasakan tidak di hargai, memilih melengos wajahnya dan balik badan untuk tidur di atas kasur. Kanaya menarik selimut sebatas dadanya, dan memilih memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Hari ini begitu melelahkan, harus bangun pagi-pagi, harus di makeup, harus banyak senyum semuanya menguras emosi jiwa. Hati dan pikirannya lelah, kepalanya juga pusing sedari pagi sudah di ajak bangun sebelum adzan subuh berkumandang.
Rasa lelahnya dan rasa ngantuk yang tidak bisa diajak kompromi, membuat Kanaya tertidur lebih dulu, mengabaikan suaminya yang bersifat sangat dingin, sikapnya tidak bersahabat dengan dirinya.
"Ssssttt....." Suara dengkuran menandakan bahwa Kanaya sudah bobok sangat pulas. Kanaya memeluk gulingnya begitu erat, karena Kanaya pasti tidak akan bisa tidur bila tidak ada guling.
***
Tama mengalihkan sebentar dari gadget-nya, dan mengalihkan tatapan ke wajah istrinya yang tertidur sangat pulas.
Tangannya ingin sekali mengelus pipi putih istrinya, dan mengusap puncak kepala Kanaya, tetapi niat itu hanya ada di hatinya tanpa berani menunjukkan.
"Rasanya seperti mimpi hari ini, seorang Tama menikah pewaris Abadi Group karena di jodohkan kedua orang tuanya." batinnya Tama yang begitu lucu.
__ADS_1
Tama menarik nafasnya, dan membuangnya pelan-pelan. Seperti mimpi tetapi ini kenyataannya, hidup terus berjalan seiring berjalannya waktu, pasti akan terbiasa dengan status dirinya yang sudah menikah dan menjadi seorang suami.
Memilih menutup gadget-nya, membersihkan badannya dan berganti baju. Baru Tama menyusul istrinya masuk ke dalam mimpinya, awalnya canggung tetapi sudah sepantasnya, karena sudah halal dan sudah menikah.
Tama satu selimut dengan istrinya, tidak ada malam pertama atau yang lainnya, yang ada Tama tidur memeluk istrinya dari belakang. Tama menelungkup kepalanya di ceruk leher Kanaya yang tertutup jilbab.
Mereka tidur saling berpelukan, tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok yang ada malam ini bobok-nya sangat nyenyak, di tambah Kanaya membalas pelukan suaminya. Membuat suasananya sangat panas, ada gelora perasaan berbeda dan itu bisa Tama rasakan.
***
Krukkk....kruk..., suara ayam berkokok membangunkan sepasang suami isteri yang mencari posisi ternyaman-nya. Mereka enggan membuka mata, yang ada mereka kembali memejamkan matanya kembali, dat mulai bermimpi sangat indah.
Di ruang tamu semua keluarga sudah menunggu dengan perasaan campur aduk, pasangan suami istri masih mengarungi alam mimpinya, mereka berdua meninggalkan sarapan paginya, memilih bergelung di dalam satu selimut.
__ADS_1
Keluarga sarapan tanpa kehadiran sepasang pengantin baru, ada suara candaan, suara cekikikan berharap sebentar lagi akan mempunyai seorang cucu.