
Setelah ritual mandinya, tetapi tidak mandi saja membuat seorang Kanaya lemas tak berdaya, Kanaya di buat lemas oleh suaminya yang minta lagi dan lagi. Tama mengangkat tubuh istrinya yang sudah lemas, dan meletakkan di tempat tidurnya lalu menyelimutinya sebatas dada.
Saking lemasnya Kanaya memejamkan matanya, dan memilih diam saja menikmati perhatian suaminya karena dirinya sudah tidak punya tenaga lagi untuk protes.
"Cup...." Tama mengecup kening istrinya.
Dirasa tidak ada pergerakan dari istrinya, Tama memilih berganti pakaian yang tidak jauh dari tempat Kanaya tidur. Hanya celana pendek, dan kaos berwarna hitam menjadi pilihan Tama.
💛💛💛
Tama duduk di sampingnya Kanaya, tangannya tidak tinggal diam terus saja bergerak untuk memeriksa email di gadget-nya. Ada beberapa pesan masuk dari perusahaan asing yang menawarkan kerjasama, tetapi Tama belum mau menerimanya sebelum kembali ke Jakarta.
Deerrrttttt.......Deerrrttttt....
Ponselnya pribadi Tama bergetar, awalnya Tama tidak memperhatikan nama penelepon, pada getaran ke tiga baru Tama melihat layar , dan tertera nama Mamanya. buru-buru Tama menggeser warna hijau, dan panggilan Tama terima.
"*Assalamu'alaikum Mah....."Sapa Tama.
"Ada apa mah? tumben telepon." Tanyanya Tama ingin menggoda Mamanya.
"Walaikumsalam Tam... Jawabnya Mama Nissa
"Bukannya senang Mama yang telepon, ehhh malah di katakan tumben..." Tutur mama Nissa yang pura-pura merajuk.
"Aduhhh Mama Tama yang cantik, jangan merajuk dong entar cantiknya hilang jadi miliknya Kanaya..." Sahutnya Tama yang ingin menghibur Mamanya.
"Mantu Mama yang cantik mana?" tanya Mama Nissa mengalihkan pembicaraan.
"Bobok cantik Mah..." Jawabnya Tama seenaknya.
"Mantu Mama sakit? kamu apain?" tanyanya penuh curiga.
"Hemmm itu Mah, Tama bobol gawangnya Mah..." Jawabnya Tama sembari menggaruk tengkuknya.
"Apa? gawang ? sepakbola maksudmu?" tanyanya yang belum puas mendapatkan jawaban Anaknya.
"Ooohhh kiraiin apa?" Syukurlah kalau gawang sepakbola, yang penting jangan gawang mantu Mama*.
Keduanya hanyut dalam percakapan, tidak memperhatikan Kanaya yang sudah bangun dari tidurnya. Kanaya mengerutkan dahinya, mendengar percakapan suaminya dengan mama mertuanya, kelihatannya menyenangkan.
💛💛💛
Panggilan telepon terputus lima menit yang lalu, tetapi Tama tidak memperhatikan istrinya yang sudah bangun dari tidurnya. Tama hendak bangun dari ranjang tempat tidurnya, menoleh ke sampingnya ada Kanaya yang sedang tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ada apa? kaget!" tanya Kanaya.
"Nggak! biasa saja!" Jawabnya singkat. Tama berjalan ke arah kamar mandi, yang sedikit terbirit-birit memegang pusakanya.
Kanaya ingin sekali menertawakan suaminya terbahak-bahak, yang terbirit-birit memegang pusakanya, tetapi tidak Kanaya lakukan. Takut menjadi istri yang durh4ka, nanti Allah marah bila menertawakan suami yang sedang menahan sesuatu.
"Rasanya lega sekali bisa mengeluarkan segera." batinnya Tama.
Ceklek...., kamar mandinya sudah Tama buka tanpa rasa berdosa Tama keluar dengan smrik khasnya, awalnya biasa saja tetapi pergulatan tak biasa, mereka saling menggelitik, saling menertawakan kekonyolan masing-masing.
💛💛💛
Pukul 11.00 siang mereka berdua baru keluar kamar, mereka berdua sudah mengenakan pakaian rapi, Kanaya dengan jilbab modis-nya, Tama dengan pakaian kasualnya. Rencananya keduanya akan keluar sebentar, untuk membeli keperluan Kanaya selama Tama tinggal pulang ke Jakarta.
Tak!...Tak!...
Kanaya berjalan kearah dapur dengan langkah kakinya yang sangat pelan seperti barang porselen yang takut pecah, Kanaya berusaha nahan perih di bagian bawahnya, tetapi susah untuk Kanaya kendalikan.
"Aauuuhh...Ahh ...." Ucapnya dengan suara rintihan. Kanaya segera sadar, dan membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangannya.
⭐⭐⭐
Di Jakarta
Reksa berusaha menarik nafasnya sebentar, dan merentangkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Deeerrtt.... drttttttttttt...
Lamunan Reksa ambyar tat kala suara ponsel di mejanya bergetar, tetapi Reksa belum berniat mengangkat panggilan teleponnya, Reksa masih fokus untuk mengetik bahan untuk meeting hari Senin.
Setelah pekerjaannya selesai, baru Reksa mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon sampai berkali-kali. Tertera nama sang adik ipar yang merupakan atasannya, dan juga sahabatnya.
Reksa mendial nomer Tama, dering pertama langsung diangkat.
"Assalamu'alaikum..." Sapa Tama...
"Walaikumsalam...." Jawabnya Reksa.
"Darimana saja tadi di telepon cuma berdering?" Tutur Tama to the point.
"Menyelesaikan bahan untuk meeting hari Senin besok." Jawabnya Reksa sedikit malas, dan tidak bersemangat.
"Kamu Sakit, Sa?" tanya Tama. Ada sedikit rasa kekhawatiran, Reksa merupakan kakak iparnya, dan pegawainya.
__ADS_1
"Nggak biasa saja." Jawabnya malas.
Terjadilah perbincangan kedua orang dewasa yang usianya hanya berbeda satu tahun, sedang membicarakan tentang urusan kantor, lebih tepatnya untuk pembahasan rapat untuk hari Senin.
.⭐⭐⭐
Setelah makan siang bersama, tidak ada pembicaraan yang berarti. Kanaya memilih masuk ke kamarnya, sedang Tama berbincang-bincang sebentar dengan ibu mertuanya.
Selesai pembicaraan dengan mertuanya, Tama menyusul istrinya ke kamarnya, tidak ada obrolan karena sang istri sedang tertidur pulas di kamarnya. Tama naik ke tempat tidurnya ikut berbaring di samping Kanaya, mulai memberikan pelukan hangatnya, akhirnya keduanya tertidur bersama hanya saling berpelukan.
Setelah makan malam, sekitar jam 08.00 malam Tama sedang bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Kanaya menyiapkan segala keperluan suaminya, meskipun sedih tetapi Kanaya harus bisa LDR ini semua mereka lakukan untuk masa depan mereka nantinya.
⭐⭐⭐
Tama memeluk erat tubuh istrinya, memberikan kecupan singkat di sekitar bahu dan lehernya Kanaya. Awalnya hanya kecupan ringan, lama kelamaan terjadi kecupan yang memabukkan, Tama tidak bisa yang namanya berjauhan dengan istrinya kalau tidak, barang sedikitpun tidak menyentuh Kanaya.
"Akkkhh..." Suara erangan Kanaya begitu merdu. Membuat sang suami terbakar hasratnya, Tama semakin intens memainkan bukit kembar miliknya, tangannya terus saja memilin-milin sampai ujungnya mencuat keluar.
Di pandangi mata sayu istrinya intens, tidak terlewati barang sedikitpun. Tatapan yang penuh damba, penuh dengan semangat berkobar-kobar, karena hasratnya susah untuk di kendalikan keduanya.
Seperti bayi kecil yang sedang kehausan, Tama begitu kuatnya dalam menyusu, dan menyedot-nya sampai punya istrinya membengkak.
"Akhh.. Mas pelan-pelan..." Ucap Kanaya sembari tangannya mengusap-usap rambut suaminya.
"Ini enyak sayang..." Sahutnya Tama dengan suara parau.
Tama begitu lihai mempreteli pakaian istrinya, dan juga dirinya. Keduanya tidak memakai sehelai benangpun, tangannya Tama begitu aktif memberikan yang istrinya mau.
"Udah nggak sabar, Mas langsung ke intinya ya..." Bisiknya Tama.
Kanaya hanya mengangguk, siap menerima pusaka suaminya memenuhi bawah tubuhnya, membayangkan saja membuat pipi Kanaya memerah, rasanya sangat malu menikmati pemandangan tubuh sixpack suaminya.
Akhirnya kedua insan manusia yang saling mencintai, melebur menjadi satu kesatuan, mereka saling melempar senyum, tatapan cinta penuh damba seolah-olah dunia milik berdua.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya
LIKE
Komentar
VOTE
RATE-NYA
__ADS_1
Di tunggu sebanyak-banyaknya