
Tibanya Kanaya di rumah sakit dengan wajah bahagianya, karena hari ini Kanaya akan bertemu dengan baby twins, melihat perkembangannya, usianya, dan detak jantungnya merupakan kebahagiaannya untuk menjadi orang tua baru.
Setelah mendaftar untuk periksa, Nay sudah menunggu di tempat duduk yang tersedia, dan duduknya tepat di depan pintu ruangan dokter kandungannya.
Senyum merekah terbit dari bibir mungilnya, berulang-ulang tangannya mengelus perutnya yang sudah sangat membuncit. Alhamdulillah anak-anaknya sangat aktif, seakan-akan mereka sedang bermain bulutangkis berdua, smash nya persis seperti pemain profesionall.
"Bunda sudah tidak sabar menunggu kamu lahir, nak." ucapnya Kanaya sembari membelai lembut perutnya.
Membayangkan kelak mereka lahir, membuatnya tidak henti-hentinya untuk menebarkan senyum manisnya. Bersyukur di anugerah kan keturunan kembar, hamil langsung mendapatkan Dua sungguh anugerah terindah yang Allah berikan.
Nikmat mana lagi yang Kau dustakan
Satu jam menunggu tidak membuat Nay jenuh, nay mendapatkan nomor antrian nomer 55, dengan jam yang terus berdetak mengikuti arah jarum jam yang terus berputar pada porosnya.
Kanaya hanya tersenyum menikmati momen yang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya, momen yang harus diabadikan setiap detik, menit dalam memorinya.
********
Mendengar jawaban sang bibi, Tama langsung menyambar jas dan tas kerjanya.
"Pak, sarapan dulu bibi ambilkan." Tutur sang bibi yang berjalan kearahnya Tama.
"Tidak usah bi, saya sedang buru-buru karena ada rapat mendadak." jawabnya Tama berlalu dari hadapan bibi.
Pagi ini Tama memilih mengendarai mobilnya seorang diri, ada niatan untuk menyusul sang istri sebelum tiba di kantor. Tama ingin memastikan istri dan calon anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Pagi ini jalanan cukup ramai bertepatan dengan jam masuk sekolah, dan kerja. Di pertigaan lampu merah sedang terjadi kecelakaan, korbannya adalah wanita hamil yang membonceng Abang gopek, dari arah berlawanan tiba-tiba sepeda motornya di tendang dari samping. Membuat wanita hamil mengalami perdarahan, dan kondisi nya sedang pingsan.
__ADS_1
Deg
di Jantungnya rasanya sangat kesulitan memasukkan oksigen ke dalam jantungnya, tiba-tiba dadanya sesak seperti terhimpit beban berat*.
Isteri ku..." ucapnya lirih.
Pikiran Tama terbelah menjadi dua bagian, takut istrinya kenapa-kenapa? takut calon baby twins ada apa-apa?
Tama memilih berputar balik yang kebetulan di belakang kendaraan nya sepi, dengan laju kecepatan diatas rata-rata sesegera mungkin Tama harus sampai rumah sakit tepat waktu. Tama membelah jalanan ibu kota seperti pembalap mobil profesional, tidak menghiraukan beberapa klakson mobil berbunyi di jalan.
"Maafkan suami ini, Nay," ada rasa bersalah di lubuk hatinya. berhari-hari mendiamkan sang istri, dan dirinya cukup egois.
Tama sudah berada di rumah sakit, berjalan dengan tergesa-gesa di setiap lorong rumah sakit dengan langkah kaki yang cepat. Tama ingin segera sampai di tempat dimana istrinya duduk, istrinya sedang mengantri seperti pasien lainnya. Biasanya dirinya yang berkuasa, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
" Alhamdulillah...," ucap syukur bahwa istri dan anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja, membuat Tama bisa bernafas lega, dan bisa tersenyum tipis.
Kanaya sudah melangkah kan kaki nya sebelah kanan, tetapi langkahnya terhenti ada seseorang berjalan kearahnya dan memanggil namanya.
"Nay , tunggu!" teriaknya Adit yang berjalan tersenyum kearahnya. Kanaya tersenyum malu-malu rasanya tidak percaya bahwa Adit teman SMA nya masih mengingat dirinya
"Apa kabar Nay?" tanya Adit.
"Baik, kamu?"
"Seperti yang sedang kamu lihat."
"Wuihh sekarang sudah sukses ya , Dit! Aku masuk dulu sudah di tunggu sama dokternya."
__ADS_1
"Silahkan, Naya!"
Belum juga Nay menutup pintu ruangan periksa, buru-buru Tama ikut menahan dengan kakinya supaya tidak tertutup. Nay kaget dan langsung mendongak wajahnya untuk melihat siapa gerangan?
"Mas...." sapa Nay tidak percaya bahwa sang suami akan datang untuk menemani dirinya periksa baby twins mereka.
Tidak menjawab pertanyaan sang istri, Tama memilih menyelonong masuk duluan. Malah membuat Kanaya terbengong-bengong dengan aksi suaminya yang spontan.
"Selamat siang pak Tama, silahkan duduk!" ucap sang dokter.
"Makasih dok!"
Namun Nay buyar, langsung berjalan ke tempat suaminya duduk. Tidak ada kata yang terucap, kecuali sang dokter yang sedang menjalankan tugas nya.
Setelah mendengar penjelasan sang dokter, senyum lebar Kanaya tidak luntur dari sudut bibirnya. Masih terngiang-ngiang selalu penjelasan tentang kandungannya, semuanya baik-baik saja sehat lengkap, tidak ada yang kurang.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil, tidak ada yang mulai duluan hanya suara musik yang mengisi keheningan diantaranya. Nay memilih melihatnya dari jendela, tidak terasa dirinya mengantuk, dan pada akhirnya memilih memejamkan matanya.
Sampai di rumahnya Tama tidak membangunkan sang istri, memilih untuk menggendongnya dan membawanya ke kamar.
"Non Nay kenapa Pak?" tanya sang bibi
"Dia hanya kelelahan setelah dari rumah sakit." jawabnya singkat.
Setelah mengantar sang istri sampai kamarnya, Tama kembali ke kantornya karena dari tadi ponselnya terus saja berdering, sekertaris nya menghubungi mungkin ada yang urgent.
Tama terus melenggang membelah jalan, mengabaikan suara ponsel yang terus saja bergetar yang berada di dasboard mobil. Fokusnya harus segera tiba di kantor, dan mengendarai mobil cepat, sehat, selamat sampai tujuan.
__ADS_1