Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 61


__ADS_3

Dua Minggu sudah berlalu, sudah dua minggu Kanaya tinggal di Jakarta, tepatnya rumah mertuanya. Awalnya Kanaya tidak betah, mungkin karena tempat yang baru membuatnya susah bisa beradaptasi, tetapi berjalannya sang waktu Kanaya bisa membiasakan dirinya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru.


Satu hari, bahkan tiga hari berlalu Kanaya selalu merengek ingin pulang ke Solo, menurutnya tempatnya sangat asing membuatnya merindukan kedua orang tuanya, dan juga adik bungsunya.


Waktu berjalan sangatlah cepat, Kanaya mulai membiasakan dirinya dan bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sudah menikah, sudah sepatutnya dirinya ikut suaminya, tinggal di rumah suaminya, tetapi sementara waktu tinggal di rumah mertua.


Menjalani hari-hari di Jakarta membuatnya sangat betah, ada suami yang begitu menyayanginya, mertuanya juga sama-sama menyayanginya, yang sudah Kanaya anggap kedua orang tuanya sendiri.


Dulu di Solo melakukan aktivitas apapun di lakukan sendiri, semenjak tinggal di rumah mertua membuatnya tidak nyaman, karena semua pekerjaan di kerjakan sama bibi yang bekerja di rumah mertuanya.


Awalnya Kanaya canggung meminta tolong ini itu ke bibi, lama-kelamaan Kanaya mulai membiasakan dirinya hidup di lingkungan suaminya.


♥♥♥


Pagi sekali Kanaya sudah terbangun setelah menjalankan perintah-Nya, berusaha untuk memejamkan kedua matanya kembali, tetapi rasanya susah sekali untuk bisa terpejam kembali.


Gerakan Kanaya mulai gelisah, miring kanan, miring kiri tetapi tidak bisa terpejam juga kedua matanya. Mau membangunkan suaminya yang sudah tertidur kembali, Kanaya tidak mempunyai keberanian, di pandangi-nya wajahnya, tangannya terulur untuk membingkai garis wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh membuat Kanaya jatuh cinta berlipat-lipat.


"MasyaAlloh tampannya suamiku, hidungnya yang mancung, rambutnya seperti bule CiptaanNya sungguh luar biasa," batinnya Kanaya yang menelusuri garis wajah suaminya.


Sebenarnya Tama sudah bangun, merasakan usapan lembut sang istri membuatnya betah untuk memejamkan kedua matanya. Tama semakin terhanyut dalam buaian cinta tangan istrinya, semakin nyaman dalam posisi tertidur seperti ini.


Selesai memandangi wajah sang suami, tangannya mulai terlepas dari wajahnya Tama, Kanaya mulai mau menapaki kakinya turun dari ranjang, tetapi ada sebuah tangan yang menggenggamnya.


"Mau kemana, Nay?" tanya Tama yang kedua matanya tidak lepas memandangi sang istri..... kedua matanya saling bertemu membuat keduanya hanya terdiam dan tergugu.


"Ehh mau ke dapur, mau bantu-bantu bibi masak..." jawabnya sedikit gugup. Tubuhnya sedikit salah tingkah, rasanya sangat malu bila mengingat mencuri-curi pandang saat suaminya tertidur.


"Udah ada Mama yang bantuin, lebih baik di sini kita bisa berpelukan, bermesraan berdua..." Tutur Tama yang sudah menarik tangan sang istri, dengan posisi tidak siap akhirnya Kanaya ambruk menimpa badan sang suami.


Posisi tubuh mereka saling memeluk, Kanaya berusaha melepas dekapan tangan sang suami, tetapi susah untuk di lepaskan.


"Apakah kabar anaknya Papa? hmm ..." tanyanya Tama yang tangannya sudah berada di perut sang isteri.


"Kabalnya dedek baik, Pah! dedek sudah tidak sabal ketemu Papa sama Bunda.." jawabnya Kanaya menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


Mereka larut dalam berbincang ringan, mereka hanyut dalam kemesraan. Tama semakin merapatkan pelukannya, membuat Kanaya susah untuk bergerak melepaskan dirinya.


"Mas lepas iihh, Nay mau bantu masak.." Tutur Kanaya


"Sebentar seperti ini dulu." jawabnya Tama sembari kedua matanya terpejam.


"Lepas iihh, kalau tidak di lepas nanti malam tidak mendapatkan jatah nengokin dedek!" Kelakar Kanaya untuk menakut-nakuti sang suami.


Apa-apaan pakai di ancam segala, membayangkan tidak mendapatkan jatah? membuatnya tidak bisa tidur nyenyak


♥♥♥


Setelah membantu bibi di dapur, makanannya sudah tertata rapi, juga sudah tersaji diatas meja makan. Kanaya beranjak membangunkan suaminya, setelah pintu terbuka Kanaya membelalakkan matanya, mendapati suaminya baru saja keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, sedang berdiri di depan cermin memamerkan bentuk tubuhnya.


"Mas ini apaan iiihh, harusnya cepat ganti pakaian malah narsis di depan cermin.." Ujar Kanaya sedikit menggerutu mengambilkan pakaian kerja sang suami di walk in closet.


"Sini mas Peluk"


"Nggak!"


♥♥♥


Mereka sudah duduk di meja makan, kedua mertuanya juga sudah rapi dengan setelan kantornya.


Seperti pagi biasanya, Kanaya selalu melayani suaminya dalam meja makan maupun diatas ranjang.


Suapan pertama Tama tersenyum menikmati rasa masakannya yang berbeda, suapan ketiga dan seterusnya ada yang berbeda.


"Apakah ini masakan istrinya ? rasanya tidak seperti biasanya."


"Masakan berbeda, apakah kamu bantu memasak bibi, Nay.. " Tutur sang Mama.


"Ehh iya ma, bantu-bantu dikit.." jawabnya dengan cengiran khasnya.


"Pantas saja rasanya sangat nikmat, istriku pintar sekali urusan perut, apalagi urusan ran...." Tama ikut menimpali ucapan ibunya, Tama juga mengapresiasi masakan sang istri.

__ADS_1


"Mas iih malu, di dengar Papa Mama nanti malam tidur di luar kalau berbicaranya yang tidak-tidak!" bisiknya Kanaya.


"Kalian pada kenapa? kok mukanya tegang begitu.." Ucap sang Papa yang melihat ekspresi Tama, dan Kanaya bergantian.


"Nggak pa-pa, Pah! Tama sedang haus saja, iya kan sayang?" Ujar Tama sedikit tersenyum tipis. Supaya kedua orang tuanya tidak curiga apa yang barusan mereka bicarakan.


"Siapkan dirimu buat nanti malam..." bisiknya Tama.


"Kanaya mendelik kedua matanya, rasanya menyesal berbicara dengan suaminya bila berurusan dengan ranjang." Uuuh menyebalkan urusan itu langsung semangat...


♥♥♥


Setelah drama meja makan, kedua para suami sudah berangkat ke kantor. Tinggal Kanaya dan mertuanya, mereka sedang berada di taman belakang, mereka berdua sedang menyirami tanaman bunga yang tumbuh indah.


"Mah, bunganya cantik-cantik.." serunya Kanaya yang kegirangan melihat bunganya sudah bermekaran.


"Kamu suka Nay?" tanya sang Mama.


"Suka banget mah." jawabnya menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Nay, betah tinggal disini?" tanya sang Mama


"Betah mah, Mama baik seperti ibu Nay..." jawabnya dengan bahagia.


Mereka larut dalam obrolan, tidak di sangka hari sudah siang. Mereka berdua masuk ke dalam untuk membersihkan tubuhnya, dan keluar secara bersamaan untuk memasak di dapur.


Tidak ada kata yang membahagiakan, seperti yang di rasakan Kanaya saat ini. Mengucapkan kata terimakasih saja tidak akan pernah cukup, untuk menggambarkan rasa bersyukur, dan bahagianya di berikan anugerah terindah dengan keluarga barunya.


*Marhaban ya Ramadhan


Selamat menunaikan ibadah puasa


Maaf lahir batin


Mari sama-sama kita berlomba-lomba dalam kebaikan, berdzikir, mengaji, dan bersedekah bisa kita lakukan untuk mengisi bulan suci Ramadhan, bulan seribu bulan.

__ADS_1


Semoga kita bisa selalu Istiqomah, dan mendapatkan syafaatnya untuk naik level menjadi yang lebih baik lagi, di bulan yang penuh dengan ampunan, bulan yang di rindukan seluruh umat Islam di dunia*.


__ADS_2