Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 159


__ADS_3

Usia kehamilan Kanaya memasuki bulan kelima, banyak perbedaan kehamilan yang kedua ini daripada kehamilan si kembar. Kehamilan si kembar yang pertama Naya sangat rewel, maunya di manja-manja terus dengan sang suami. Sangat berbeda dengan kehamilan yang kedua ini, Naya tidak mengidamkan makanan atau sesuatu yang memusingkan suaminya, kecuali kemarin Naya ingin pulang kampung memakan makanan sang Ibu.


Ibu Melati tinggal sementara waktu untuk sang Putri, sedang pak Bhakti sudah pulang duluan esok harinya acara 4bulanan putrinya Naya. Dengan terpaksa pak Bhakti memilih pamit duluan, karena ada putra bungsunya yang di rumah sendirian dan tidak bisa ikut ke Jakarta karena sedang ujian sekolah.


Sebelum ibu Melati pulang, ibunya sangat telaten merawat Naya dengan baik. Kemanjaan nya sangat terlihat, sampai-sampai suaminya iri dengan ibu mertuanya. Segala makanan yang Naya sukai, ibunya selalu memasak untuk putrinya ini yang membuat Naya enggan berpisah dengan ibunya.


Sebenarnya Naya ingin sekali sang ibu tinggal lebih lama, rasa rindu belum terobati membuatnya tidak ingin sang ibu pulang cepat-cepat. Ada adik dan bapaknya yang lebih membutuhkan ibunya, akhirnya Naya mengikhlaskan ibunya untuk pulang dengan catatan harus menemani di saat lahiran nantii.


"Nda.. di lual ada tamu nyaliin Nda kayaknya.." Tutur si kembar yang berlari ke arahnya. Nafas keduanya ngos-ngosan seperti sedang di kejar maling yang ingin menangkap nya.


"Siapa hmm?" tanya Bunda Naya dengan kening yang berkerut. Perasaan tidak ada teman yang menghubungi duluan bila akan bertamu.


"Ndak tahu Nda, pokoknya olang nya tantik sepelti Nda." jawab si kembar menceritakan detail tamu yang di lihatnya.


"Ayo Nda." ajak si kembar menggeret tangan Bundanya. Mereka seperti tidak sabaran, karena ingin cepat-cepat menemui tamu yang sudah menunggunya.


"Iya-iya sayang, ini Bunda sudah jalan." sahut Naya mengikuti langkah kaki kecil si kembar, Naya tertawa kecil melihat gandengan tangan my twins yang sangat erat.

__ADS_1


"Pelan-pelan sayang jalannya, Nanti kalau kita jatuh, tidak jadi dech liat onty cantik seperti Bunda." ucap Naya sedikit ingin bersantai jalannya, takut si kembar jatuh bila jalannya cepat-cepat.


"Upzz Nda." si kembar menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Sampai di ruang tamu, Naya menelisik penampilan gadis yang usianya tidak jauh darinya sedang berdiri menentang rantang makanan. Kira-kira usianya diatas nya lebih dikit, Naya menghormati tamu dan bersikap sangat ramah.


"Maaf mbak sedang cari siapa?"


tanya Naya pelan-pela selembut sutra.


"hmmm."


tanya perempuan tersebut.


"Iya saya sendiri." jawab Naya dengan senyum tipis. dahinya berkerut mengingat perempuan di depannya dengan penampilan nya sangat elegan dan cantik.


"Alhamdulillah saya kesini mau cari istri dari pemilik rumah ini, mbak."

__ADS_1


"Ada keperluan apa? Sampai-sampai mencari saya ke rumah, mbak." Naya menanggapinya dengan santai, tidak menaruh curiga yang macam-macam. Naya tahu betul suaminya seperti apa? tidak mungkin suaminya berselingkuh? atau mempunyai perempuan idaman lain.


Dirasa obrolan nya sedikit lama, Naya mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam.


"Cantiknya mbak Naya, baik, bicaranya lemah lembut ." batinnya perempuan tersebut bermonolog pada dirinya sendiri.


"Maaf mbak ada keperluan apa?"


tanya Naya untuk memastikan, karena yang di tanya-tanya belum menjawab.


"Onty tenapa diam? peltanyaan Nda ndak di Jawab?" tanya si kembar yang masih memegang erat tangan Bundanya.


"Onty telpesona ya sama Nda, sama si kembal yang tampan sepelti Papa." ucap si kembar dengan gayanya seperti orang dewasa, tubuhnya di goyang-goyangkan lucu.


"Ehhh ini s--aya di su-ruh kakak S--aya untuk mengantarkan makanan ini!" jawab perempuan tersebut dengan gugup dengan menyerahkan rantang di tangannya.


"Itu apa onty? yang onty bawa? Jangan nakal sama Nda, nanti kami Jewel, " kata Nda olang yang suka nakal nanti di jewel telinganya, hidung nya duga sepelti hidung Pinkio onty."

__ADS_1


Twins boys terus saja berceloteh, tubuhnya juga tidak mau diam gerak kesana kesini persis seperti ulat bulu, ulat bulu bikin dua perempuan terpana, bengong dengan ucapan si kembar kelewatan mengemaskan.


__ADS_2