Suamiku Atasan Kakakku

Suamiku Atasan Kakakku
Part 106


__ADS_3

Dua bulan kemudian....


Dalam dua bulan terakhir ini, perkembangan tumbuh kembang baby boys sangat pesat, dan banyak akal yang mereka tunjukkan kepada Papa, Bunda, Oma, dan Opa nya.


Awal menikah sampai baby boys berumur 7 bulan, mereka berdua masih tinggal di rumah orang tua.


Bukan tidak ingin mandiri, hanya saja orang tua dari suaminya tidak mengijinkan rumahnya terpisah, di tambah anak-anak masih kecil sangat membutuhkan bantuan dari Mama mertua.


Kanaya sangat bersyukur di berikan Mama mertua yang sangat menerima dirinya apa adanya, sangat baik, dan juga menyayanginya dirinya, dan sudah menganggap nya putri kandungnya sendiri.


Kata orang-orang diluaran sana bahwa Mertua itu seperti halnya ibu tiri. Terpatahkan anggapan orang-orang yang pernah Nay denger, banyak mengnggap yang namanya Mama mertua galak, cerewet, dan lain sebagainya tetapi bagi Nay berbeda.


Mama mertua sudah Nay anggap seperti ibu kandung sendiri, yang harus Nay hormati, dan hargai seperti Ibunya.


Rencananya keluarga Wiratmaja ingin menggelar acara Tedhak Sinten untuk cucunya, acara pun sudah di setujui Papa dan Bunda si kembar. Kebetulan juga Kanaya sangat kental sekali adat Jawa nya, mungkin berasal dari Solo , dan Kanaya menyukai adat tradisional yang dimiliki Indonesia yang patut untuk di lestarikan.


Di rumah keluarga Wiratmaja sudah berdiri tenda-tenda memenuhi halaman belakang, dekorasi pun sudah di hias dengan rapi, wangi semerbak bunga menghiasi ruangan yang akan di jadikan tempat acara.


Besok di rumah mertua akan diadakan acara Tedhak sinten, tidak terasa baby boys Dana dan Dapi memasuki usia 7 bulan.


Keluarga Wiratmaja mengusung adat Jawa untuk acara Tedhak sinten yang sangat melekat budaya dengan besan nya, bapak dan ibu Kanaya yang merupakan orang Solo.


*************


Keesokan paginya di kediaman Wiratmaja sudah sangat ramai, sanak saudara, kerabat dekat maupun jauh sudah mulai berdatangan memasuki halaman belakang.


Tetangga rumah, kolega bisnis, dan beberapa teman kantor pun juga turut hadir memeriahkan acara Tedhak sinten calon pewaris tahta kerajaan bisnis Wiratmaja.


Di dalam kamarnya si kembar baby boys di dandani Bunda, Oma, dan Neneknya memakaikan pakaian adat Jawa lengkap dengan beskap kecil menutupi kepalanya..


Gemesin banget kamu Nak, pakai pakaian adat Jawa, ingin rasanya Bunda gigit pipi tumpah-tumpah milikmu, Nak!


Kedua Oma dan Neneknya juga terpana melihat pemandangan di depannya sungguh membuatnya terpesona. Terpesona dengan cucunya yang nampak sangat lucu, imut dan sangat tampan.

__ADS_1


Meskipun si kembar baby boys sedang di pakaian ini itu, tidak sama sekali mereka protes, rewel, atau merengek mereka nampak anteng dengan mainannya, mereka sibuk dengan dunianya sendiri.


***********


Mereka semua sudah berkumpul di halaman belakang, tamu undangan juga sudah memenuhi tempat acara, sekitar 500 undangan yang mereka sebar, alhasil yang datang lebih dari 500 orang.


Untung pesan makanan nya lebih, coba kalau kurang bisa bikin malu-maluin keluarga Wiratmaja


Tedhak sinten adalah rangkaian prosesi adat tradisional dari tanah Jawa yang diselenggarakan pertama kali seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah.


Tedhak berarti menginjak, dan Sinten memiliki arti tanah.


Biasanya dilakukan pada saat anak berusia sekitar tujuh atau delapan bulan, biasanya dilakukan pada usia tujuh bulan atau sering di sebut tujuh bulanan.


Tradisi ini dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi tempat anak belajar menginjak kaki ke tanah.


Semua tamu undangan sudah hadir, sudah menempati tempat duduk yang telah disediakan yang punya hajat. Banyak yang hadir, pasti banyak pula yang mendoakan si kembar baby boys.


Pertama-tama saya ucapkan terimakasih untuk seluruh hadirin yang berkenaan hadir di acara Tedhak Sinten, semoga diberikan kelancaran pelaksanaan Tedhak Sinten baby boys Dana dan Dapi." Tutur sang MC yang tak lain adalah Reksa sang Paman dari baby boys Dana dan Dapi.


"Mari kita mulai acara ini dengan berdoa menurut kepercayaan dan agama masing-masing." ucap Reksa menundukkan kepalanya, dan di ikuti orang-orang yang hadir dalam acara.


"Berdoa selesai, di mohon untuk Wiratama Wiratmaja dan Kanaya Bhakti supaya naik keatas panggung dengan si kembar baby boys Dana Dapi." ucap Reksa dengan lantang dalam satu tarikan nafas.


Mendengar namanya disebut, mereka berdua Wiratama dan Kanaya langsung naik ke atas panggung, Wiratama naik keatas panggung dengan baby Dana, dan diikuti Kanaya dari belakang dengan baby Dapi.


Diatas panggung sudah ada orang tua keduanya, Papa Mama Wiratama, dan Bapak Ibu Kanaya sudah menunggu diatas panggung.


"Langsung saja acara kita mulai, selamat menikmati jalannya acara Tedhak Sinten si kembar baby boys." ucap sang MC .


Acara di mulai dengan Kanaya menuntut baby Dana, dan diikuti baby Dapi yang di tuntut oleh Papa nya, berjalan maju dengan kaki mungilnya yang menginjak jadah dari beras ketan berupa tujuh warna yaitu warna Hitam, merah, hijau, ungu, kuning, biru, dan terakhir warna putih.


Ke tujuh warna jadah itu mempunyai filosofi sendiri-sendiri, melambangkan warna-warni mempunyai arti pitulungan atau pertolongan.

__ADS_1


Pertama di mulai dari warna hitam, dan berakhir dengan warna putih. Maknanya, di mulai dari yang gelap berakhir dengan yang terang, dan masalah yang pelik pasti akan ada titik terang," Jelas Reksa yang melihat tingkah lucu keponakannya, dan tangga kecil yang terbuat dari tebu Wulung.


Acara selanjutnya Bunda Kanaya mengendong baby Dana, dan Dapi untuk di masukkan ke dalam kurungan.


Didalam kurungan tersebut, Sudah ada beberapa benda yang di letakkan di dalam kurungan ada alat tulis, buku, Al-Quran, tasbih, mainan, dan sebagainya.


Tangan mungil Baby Dana mengambil alat tulis dan tasbih.


Tangan mungil Baby Dapi mengambil buku dan mainan.


Karena benda-benda yang di ambil si kembar memiliki makna dan simbol dunia dalam pilihan hidupnya ke depannya.


Para Kakek sudah berdiri untuk menyebarkan uang logam, seketika para tamu berdiri tegak, dan ancang-ancang untuk mengambil uang logam yang sudah di lempar para Kakek.


Banyak para tamu berebut uang logam, ada yang dapat, ada pula yang pulang dengan tangan kosong.


Serangkaian acara Tedhak Sinten telah terlaksana dengan khidmat, dan ritual demi ritual sudah di lalui dengan baik.


Baby boys juga sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih bersih, dan pakaian rapi yang senada dengan Papa dan Bundanya.


"Wah nggak terasa ya, kita sudah ada di penghujung acara, saya dan sekeluarga mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada hadirin yang sudah berkenan hadir di acara Tedhak Sinten baby boys Dana Dapi.


"Wiih lucunya si kembar Papa Wiratama, ndak nangis, dan paham dengan prosesi demi prosesi acara Tedhak Sinten.." decak kagum para tamu yang menyaksikan jalannya acara demi acara, dan mereka mendapatkan ilmu baru tentang adat tradisional Jawa.


Baby boys twins sangat anteng, tidak rewel bener-bener tingkah lucunya mengundang banyak tawa, dan mereka yang hadir sampai di buat gemas sendiri dengan baby boys yang masih asyik dengan mainan barunya.


Padahal banyak pasang mata memperhatikan Gerak-gerik si kembar, tetap saja si kembar nampak cuek, sibuk dengan dunianya yang menurutnya lebih asyik ketimbang dunia orang dewasa yang sedang fokus menatapnya.


Tamu undangan, dan para hadirin yang mengikuti jalannya acara senyum-senyum sendiri, melihat tingkah lucu si kembar yang sangat menikmati rangkaian demi rangkaian acara yang digelar pada siang hari ini.


Maafkan othor bila ada kesalahan pada penulisan Tedhak Sinten.


Othor ambil dari berbagai sumber, dan berbagai bacaan yang othor baca

__ADS_1


__ADS_2