
"Ehhh Kakak ipar, pulang kok nggak bilang-bilang kan bisa dijemput di bandara.." Tutur sang adik ipar.
"Interogasi-nya entar aja, Kakak mau masuk dulu nih..." Sahutnya Tama.
"Hehehe sampai lupa mempersilahkan Kakak masuk, silahkan masuk kak!" Ujar Adik iparnya yang garuk-garuk tengkuk belakang, dan sedikit cengengesan.
Setelah di persilahkan masuk, tanpa sepatah kata pun Tama langsung melenggang pergi ke kamar istrinya. Kebetulan rumah sepi kedua mertuanya tidak , hanya ada Adik iparnya, dan Kanaya.
Sampai di depan pintu, Tama menarik nafasnya membuangnya pelan-pelan, untuk menetralisir jantungnya yang berdegup kencang seperti orang habis lari maraton di perlombaan.
Tama membuka pelan pintu kamarnya, berjalan pelan untuk masuk ke dalam kamar, sampai tidak menimbulkan suara pun.
"Sayang..."
Kedua matanya celingak-celinguk mencari keberadaan sang istri mungilnya, di sudut ruangan ternyata tidak ada, tanpa Tama sadari istrinya sedang tertidur pulas diatas tempat tidur.
Tama duduk di tepi ranjang untuk menghampiri sang istri, tangannya terulur untuk mengelus lembut pipinya, dan mengecup puncak keningnya.
Lebih baik Aku membersihkan badanku dulu, baru bergelung selimut bersama istri mungil-ku.
__ADS_1
Setelah membersihkan tubuhnya, dan berganti pakaian santai. Tama naik keatas ranjang untuk tidur di samping sang istri, tangannya memeluknya dari belakang, sembari menghirup aroma tubuh istri mungilnya yang sudah di rindukan hampir dua minggu tidak bertemu, tidak menciumi yang membuatnya kecanduan.
Tangannya tidak tinggal diam, memainkan benda kenyal yang menjadi kesukaannya, benda yang sudah Tama rindukan. Tidak ada pergerakan dari istrinya, Tama semakin gencar memainkan benda kenyal yang berada di genggaman tangannya.
"Aaaakkkhhhh...." Kanaya merespon teriakan kecil, sedikit ada yang berbeda dengan dirinya membuatnya sedikit menggeliat tetapi kedua matanya masih terpejam.
"Hihihi Tama tertawa cekikikan menertawakan Kanaya, yang tidak terganggu sama sekali dengan gerakan tangannya." Tama malah tersenyum tipis melihat respon sang istri.
Tidur aja sudah cantik, apalagi kalau dandan pasti tambah cantik
Akhirnya keduanya tertidur bersama, tangannya Tama begitu posesif memeluk pinggang Kanaya. Dan Tama tidak melanjutkan memainkan benda-benda yang ada pada istrinya, yang sekarang sudah menjadi candunya.
🍭🍭🍭
Diatas tempat tidurnya, Reksa menerawang langit-langit kamarnya yang bentuk, warnanya masih sama, meskipun sudah Reksa tinggalkan hampir dua minggu.
Membolak-balikkan posisi tidurnya, tetapi kedua matanya tidak mau terpejam, rasa capek hilang sudah melihat kasur empuk miliknya.
Reksa sudah merindukan kasur ini, tempat terfavoritnya untuk melepaskan rasa lelah, dan tempat ternyaman-nya dalam berkeluh-kesah.
__ADS_1
🍭🍭🍭
Hari sudah beranjak pagi, matahari sudah memancarkan sinar ke jendela kamarnya. Rasanya tidak ingin bangun, matanya pun susah untuk terbuka, rasa hangatnya menusuk ke dalam kalbunya.
Kanaya semakin merapatkan pelukannya, tempat ternyaman-nya adalah bisa memeluk suaminya hingga puas. Tetapi Kanaya harus bisa menahannya, karena sang suami sedang melakukan perjalanan bisnis ke Benua Eropa.
Kanaya semakin mengendus-endus guling yang di peluknya, tetapi wanginya kok beda ya, sepertinya wanginya Aku kenal, siapa ya? berbagai pertanyaan hinggap di otaknya Kanaya, tetapi belum dapat jawaban. Kedua matanya lengket, susah untuk terbuka.
Cup
Tama merespon ucapannya Kanaya, meskipun hanya membatinnya tetapi Tama tahu isi hati sang istri, dan yang di pikirannya Kanaya.
Tidak ada pergerakan, tangannya mulai menelusup masuk ke dalam pakaian Kanaya, memainkan kembali benda kenyal yang sudah nampak lebih besar, daripada sebelumnya di jamah dirinya.
Memainkan benda keramat adalah pilihan sekarang, sesekali bibirnya memberikan kecupan kecil di sekitar lehernya yang terekspos, dan sangat menggiurkan. Sayang untuk dilewatkan.
"Akhhh..." teriakan kecil membuat Tama langsung membukam bibir istrinya dengan tangannya.
Kanaya langsung membuka kedua matanya, baru membuka sedikit saja sudah membuatnya terbelalak kaget, melihat sang suami sudah ada di kamarnya.
__ADS_1
Tangan Kanaya langsung menangkup wajah sang suami, rasanya tidak percaya, orang yang hampir dua minggu meninggalkannya sekarang berada di depan matanya.
Uuuhhh seperti mimpi siang bolong