
Lima bulan sudah berlalu, tidak terasa waktu terus berjalan meninggalkan masa-masa yang indah pernah di lewati nya.
Kini usia baby boys sudah lima bulan, nampak sekali tubuhnya yang gempal, subur, dan pipinya montok sekali seakan-akan ingin tumpah-tumpah.
Pagi yang indah untuk jiwa yang sedang bahagia, siapa yang tidak bahagia melihat putranya dan menantunya selalu rukun, di karunia-Nya baby boys di tengah-tengah keluarga nya.
Menambah kebahagiaan keluarga Wiratmaja, Mama Nisa tidak henti-hentinya menghujani baby boys yang tengah menunggu sinar matahari, dari mereka lahir sudah membiasakan untuk berjemur di pagi hari.
"Sayangnya Oma, duh duhhh lutu nya..."
"Ini pipi apa bakpao kog sampai tumpah-tumpah, hmmm..." Mama Nisa tidak bisa berdiam diri, selalu saja ada tingkah cucunya yang membuatnya gemas sendiri.
Mendengar suara Oma nya, Dana dan Dapi ikut tertawa dengan memperhatikan lesung pipi diwajahnya.
Tangannya terus diangkat keatas, seolah-olah mereka ingin minta di gendong, padahal baby boys tangan dan kakinya sedang berolahraga lari, dan bersepeda sambil berjemur.
Nay yang berada di kamarnya melihat baby boys dan mamanya ikut tersenyum tipis, melihat tingkah putranya yang semakin pintar membuatnya amat sangat bersyukur.
"Kenapa melamun, hmm?" tanya Tama sudah memeluk pinggangnya Nay, kepalanya sudah di taruh pundak istrinya.
Terekspos jelas leher jenjang istrinya, kulit putih seperti susu, mulus , dan tidak ada noda yang ada di lehernya.
'"Lihat ke bawah Mas, putra kita makin pintar dan tidak nangis meskipun berjemur dengan Oma nya." jawabnya Nay.
Mereka berdua masih menikmati keindahan pagi dari kamarnya, seakan-akan mereka masih pengantin baru, padahal ada baby boys di tengah mereka.
"Cup....Cup.....Cup....." beberapa kecupan mendarat cantik di wajahnya Nay, Tama menghujani kecupan manis untuk sang istri tercinta.
"Makasih untuk kebahagiaan ini, Bundanya baby boys, Papa nya baby boys sangat mencintai Bunda selalu satu untuk selamanya!" Tutur Tama dengan lembut, dan binar bahagia di matanya tercetak jelas bahwa dirinya tengah berbahagia.
"Sama-sama mas suamiku." Nay menghadiahi satu kecupan di pipi suaminya.
Bunda juga mencintaimu, Papa nya baby boys..
Mereka larut dalam euforia kebahagiaan, melupakan putranya sebentar bukan hal yang buruk, mereka hanya ingin menghabiskan waktu yang ada untuk berduaan.
Mumpung masih ada kesempatan, anak-anak ada yang menjaganya, tidak membuatnya perlu was-was karena Oma nya selalu setia membantu momong putranya.
Meskipun ada mbak yang khusus mengasuh putranya, tetap saja Mama Nisa ikut andil banyak untuk membantunya.
************
__ADS_1
Mereka sudah berada di meja makan, tidak ada yang berbicara, mereka larut dalam sarapan yang ada di piringnya.
Suara sendok, garpu, dan piring saling beraduu menciptakan suasana yang hangat dalam keluarga.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Tama bermain sebentar dengan putranya.
"Gantengnya jagoannya Papa, siapa yang mandiin sayang?" tanya Tama.
Kedua matanya tak berkedip Kala mendengar suara Papa nya, rona bahagia sangat kentara, bibirnya terus saja menyunggingkan senyum, dan berceloteh menggunakan bahasa planet...
"Sayangnya Papa ngomong apa?"
"Mau di gendong Papa ya, atau mau Papa cium nich!"
Lagi-lagi baby boys tersenyum kegirangan, tangannya terus saja ingin meraih pakaian Papa nya, tapi apalah daya tangan tak sampai.
Bermain sebentar dengan putranya adalah hobi barunya Wiratama Wiratmaja, sebelum berangkat ke kantor Tama selalu menyempatkan waktu meskipun itu hanya sebentar.
"Papa berangkat kerja dulu, nanti kita main lagi ya baby boys, di rumah jangan nakal ya, harus jagain Bunda yang sayang." Ucap Tama berpamitan dengan putranya, tidak lupa memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh wajahnya.
"Mas berangkat ya, di rumah jangan capek-capek minta bantuan Mama atau mbak nya ya, Bunda..." Tama beralih berpamitan dengan istrinya, satu kecupan di kening mendarat cantik.
"Ma, titip istriku ya mah, Tama berangkat duluu!" Tama mengecup pipinya, dan punggung tangan Mama Nisa.
"Papa berangkat dulu ya, Mah." pamitnya Papa Adi ke Mama Nisa.
satu kecupan kecil mendarat di puncak kepala sang istri.
"Papa hati-hati!" Mama Nisa mengecup punggung tangan suaminya.
"Gantengnya cucu Opa, Opa berangkat kerja dulu sama Papa nanti kita main lagi, oke my baby boys twins." pamitnya Opa Adi kepada cucu-cucunya, cucu tampannya.
Mendengar suara Opa nya, dan menyebut kata Papa dari bibir Opa nya membuat cucunya tersenyum lebar.
Seakan-akan mereka sudah tahu, bahwa mereka sangat menyayangi nya, padahal kenyataannya pun mereka sangat menyayangi baby boys twins.
"Ayo Papa!" ajaknya Tama kepada Papa Adi...
"Ayo!" jawabnya.
Dua lelaki yang sangat dicintainya sudah berangkat kerja, tinggallah dua wanita dan baby boys twins di ruang keluarga.
__ADS_1
Suara klakson berbunyi, suara deru mobil juga berbunyi, mobil sudah meninggalkan pelataran rumahnya.
Tidak ada angin, tidak ada hujan baby boys twins tiba-tiba sudah mencebik kan bibirnya, sudah melengkung bibirnya.
"Cup.... Cup.... sayangnya Bunda, kenapa nangis?" tanya Nay yang kebingungan dengan sikap putranya yang sangat sensitif.
"Oekkkkkk..... Oeeek...." suara tangisnya meleking di penjuru rumahnya.
"Kenapa Nay?" tanya Mama Nisa yang jalannya terburu-buru dari arah dapur.
"Enggak tahu mah, tiba-tiba saja nangisnya." jawab Nay.
"Mau main sama Papa, Papa enggak boleh kerja gitu hmmm.."
Mereka berdua langsung terdiam, mendengar kata Papa yang terlontar di bibir Bundanya.
Nay tidak habis pikir, putranya menangis karena di tinggal kerja Papa nya .
Padahal dirinya yang mengandung sembilan bulan, tetap saja tidak pernah di tangisi putranya, kecuali minta minum dari sumbernya.
Ada-ada saja kamu, Nak
Kedua wanita yang beda generasi saling melirik, saling melempar senyum, menertawakan baby boys twins yang sedang bersedih ditinggal Papa nya ke kantor.
"Udah dong nangisnya sayang, bentar sore Papa pulang kog, entar kita main lagi Oke anak-anak ganteng.." ucap Nay dengan lembut. tangannya mengusap bekas air mata yang jatuh ke pipi putranya.
"Sayangnya Oma, kalau nangis kelihatan jelek ndak ganteng seperti Papa." sahutnya Mama Nisa yang ingin menggoda cucunya.
Ajaibnya cucunya langsung terdiam, dan mulai tersenyum kembali.
Meskipun sedikit ada suara sesenggukan, keduanya sudah kembali seperti tadi, senyumnya sudah kembali.
Mereka yang dewasa saja terkesima dengan pria kecil yang ada di depannya, sifat nya yang berubah-ubah membuatnya selalu tersenyum, dan sikapnya yang gemas membuatnya bangga.
Usianya baru lima bulan, sang mengerti keadaan sekitarnya bahwa yang ada dirumahnya sangat mencintainya, menyayangi nya, membuatnya baby kecil ini selalu mencuri perhatian banyak orang terutama Opa Oma.
Tempat keduanya menghabiskan masa tua, hiburan tersendiri untuk Mama Nisa.
Dulu rumah ini sang sepi, semenjak putranya menikah, ada teman baru untuknya, Kanaya menjadi pelengkap putranya, di tambah lagi dengan kelahiran cucunya menjadi warna-warni tersendiri di kediaman Wiratmaja.
Hayo ada yang bilang alurnya bertele-tele Ndak?
__ADS_1
Part-nya gimana ? ada yang tidak suka, silahkan di Krisan boleh banget othor yang cantik tidak akan marah kog.
Bebas komentar tetep sopan ya cantik dan gantengππππ