
Flasblack Off
**Happy reading guyss
Setelah membawa sang istri ke kamarnya, dan dinyatakan pingsan. Tama dengan sayangnya menemani sang istri yang terlelap dalam tidurnya.
Setelah sang istri terbangun, dan dirinya sendiri sudah cukup beristirahat. Keduanya membersihkan tubuhnya, tidak ada ritual yang mesum, mereka mandi dengan saling diam.
Kanaya tidak percaya bahwa suami yang menikahi nya sudah kembali, sudah berada di sampingnya lagi.
Di ruang keluarga Tama sedang di sidang sama keluarga sang istri, dengan berat hati aku Tama menceritakan kronologis kejadian sampai dirinya sampai masuk rumah sakit, sedang menjalani pengobatan beberapa bulan lamanya, semua Tama lakukan untuk bisa segera mengingat siapa dirinya? dan siapa keluarganya?
Mendengar cerita sang suami, Kanaya sadar dengan kegigihan sang suami untuk sembuh, menguar begitu saja. Membuatnya berkali-kali mengusap sudut matanya, untuk menghalau benda asing yang tidak bisa dapat ia cegah jatuh sangat derasnya.
"Hiksss... kasihan mas Tama, buk!" ucap Kanaya dengan suara masih sesenggukan. Meskipun suara tangisnya sudah sedikit mereda.
"Iya, ibu mengerti semua adalah ujian dariNya, makanya diaNya memilih kita, karena kita bisa melalui ini semua dengan ikhlas!" sahutnya sang ibu sembari mengusap jilbab putrinya.
Kanaya berkali-kali mengusap pipinya yang sudah basah air mata, dan juga ingusnya. kedua ibu dan bapak juga sama berkaca-kaca, kedua orang tuanya sangat terharu dengan cerita sang menantu. Sampai harus kehilangan ingatannya, sampai harus terpisah dengan sang istri.
"Menahan rindu itu berat, biar Kanaya dan Tama saja yang merasakan hihihhi..." batinnya sang ibu hanya bisa di ungkapkan dalam hatinya.
*****
__ADS_1
Reksa masih diam tergugu di depan pintu, bibirnya rasa keluh untuk berucap, seperti tidak percaya bahwa yang berada di dalam rumahnya adalah Wiratama Wiratmaja. Seseorang yang selama ini di carinya, akhirnya menampakkan hidupnya, setelah sekian bulan menghilang tanpa kabar.
"Sa, ada apa? kenapa berhenti? kenapa tidak langsung masuk saja!" berbagai pertanyaan yang di lontarkan mamanya Tama, tidak sama sekali di jawab sama Reksa. Sang Mama dibuat bingung dengan sikap Reksa yang berubah, tubuhnya nampak menegang, raut wajahnya sedang tidak bersahabat.
"Sa, ada apa?" pertanyaannya di ulang sang Mamanya Tama, tepukan tangan di bahu membuatnya kembali kesadarannya.
"Enggak pa-pa, Tan! ayo masuk!" jawabnya Reksa mengajak sang tamu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Deg
Deg
Sang Mama sudah berkaca-kaca, tahu betul siapa yang sedang di duduk di ruang tamu. Sang Mama hafal betul dari postur tubuhnya, rambutnya persis seperti putranya yang selama ini di carinya.
Diam mematung cara yang tepat menggambarkan keterkejutannya, rasanya sendi-sendi di dalam tubuhnya rasanya mau lepas.
Rasa bahagia menyeruak di lubuk hatinya, putra yang di rindukan, yang di tunggu kepulangannya, sekarang berada di depan kedua matanya.
"Tama....." teriaknya sang Mama.
"Mama....!" sahutnya menoleh ke belakang. Rasanya Tama tidak percaya bertemu dengan sang Mama, padahal Tama ingin memberikan surprise kepulangannya setelah acara tingkepan istrinya selesai.
Kedua orang dewasa, ibu dan anak sedang berpelukan menyalurkan rasa bahagianya, mereka tidak mau terpisah lagi, meskipun hanya jarak, mereka ingin selalu bersama menikmati kebersamaan seperti saat ini.
__ADS_1
"Mama..!" Tama mengecup seluruh wajah sang Mama. Kedua matanya sudah berkaca-kaca, air matanya mengalir deras seperti menganak sungai.
*****
Tidak jauh dari tempat mereka berdua berdiri, ada beberapa pasang mata melihat dengan rasa bahagia.
Mereka mengeluarkan air mata, terharu dengan pertemuan ibu dan anak yang terpisah beberapa bulan.
Setelah di persilahkan untuk masuk, dan duduk. Mereka berdua memilih duduk yang tidak jauh-jauh dari sang Putra, tangannya saling bertautan untuk menyalurkan dahaga rindu.
"Ibu, Nay bahagia akhirnya mas Tama pulang dengan keadaan sehat wal afiat, meskipun sedikit kurus badannya, tetapi Kanaya sungguh sangat bahagia." Tutur Kanaya di pelukan sang ibu. sesekali Kanaya mengusap lembut air matanya, tanpa bisa di cegah air mata nya sudah mengalir deras membasahi baju sang ibu.
"Akhirnya penantian Nay terjawab sudah, mas Tama sehat, dan masih mengingat dirinya dan calon anak mereka!"
"Iya sayang semua akan indah pada waktunya, waktu yang tepat darNya!" Ucap sang ibu mendekap erat putrinya.
Setelah puas berpelukan dengan sang Ibu, Kanaya mengurai pelukannya. Lagi-lagi Kanaya hanya diam, rasanya sangat malu bila harus Kanaya yang mulia duluan untuk memeluk suaminya.
Satu menit, bahkan setengah jam terlewati. Tama masih diam di tempat duduknya yang di apit kedua orang tuanya, sesekali melirik kearah sang istri, tetapi berkali-kali juga Tama mengurungkan niatnya untuk memeluk sang istri di depan kedua mertuanya, dan juga orang tuanya sendiri.
"Mama apa kabar?" tanya Tama yang masih setia berada di sebelah sang Mama.
"Papa apa kabar juga?" tanyanya Tama yang di sebelahnya ada sang Papa.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik!" jawab keduanya dengan serentak.