
"***Tam, kapan balik lagi ke Jakarta? berkas-berkasnya sudah menunggu tanda tangan darimu?" tanyanya Reksa di ujung telepon.
"Jangan seperti pengantin baru terus dengan adikku, ingat adikku lagi bunting akibat ulah nakal dirimu!" Tutur Reksa. Walaupun sedikit ada nada menggoda tetapi tidak membuatnya saling tersinggung, malah kedua tertawa.
"Kapan-kapan saja dech baliknya, perusahaan juga sudah ada yang handel." jawabnya Tama dengan senyum simpul.
"Siapa yang handel?" Reksa benar-benar tidak tahu, bahwa perusahaan Abadi Group ada yang handel, setahunya dirinya yang terjun langsung menghandle para investor," tanyanya Reksa di dalam hatinya.
"Adik iparku yang paling baik hati, Kaka mu yang tampan ini, titip dulu ya perusahaan tolong handel dulu!" Tutur Tama sedikit dengan guyonan receh.
"Terus kapan balik ke Jakarta?" tanya Reksa. Reksa terus saja mencerca berbagai macam pertanyaan, rasanya ingin mengubur hidup-hidup manusia tidak berakhlak, Untung atasanku, suami adikku hihihi.....
"Habis adikmu rasanya enak, jadi betah dech lama-lama tinggal di Solo." jawabnya Tama seenaknya. Membuat keduanya mengundang tawa, meskipun mereka bersahabat tetapi urusan pekerjaan mereka akan serius, saling menghormati dan menghargai antara atasan dan bawahan.
"Udah ahhh, bicara sama kamu? lama-lama otakku gesrek, dan tercemar lingkungan yang tidak sehat." Ujar Reksa bersungut-sungut***.
Klikkkk, sambungan telepon sudah terputus satu pihak. Reksa memutuskan panggilan, di karenakan Tama menjawab sedikit membuatnya tertawa, sedang pekerjaannya diatas meja sudah menunggunya.
Bila berbicara lewat telepon tetap berlanjut? pekerjaan yang berada diatas meja tidak selesai-selesai, dan yang ada otaknya terkontaminasi bahan berbahaya.
*******
Setelah telepon terputus begitu saja, Tama tertawa cekikikan. Menertawakan Reksa yang masih polos, dan pikirannya melalang buana kemana-mana?
__ADS_1
Gelak tawanya mengundang rasa ingin tahu Kanaya, Kanaya baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya.
Wanginya harum semerbak, sampai mengganggu indera penciumannya, dan mata indahnya melotot sempurna. Istrinya sangat seksi dengan perut buncitnya, meskipun handuknya lebih besar, tetapi tidak bisa menutupi tubuhnya.
*Pemandangan yang menakjubkan, benda pusaka ku langsung terbangun, berdiri tegak menjulang tinggi
"Ada apa mas? kok ketawanya sampai terdengar di kamar mandi." tanya Kanaya menghampiri sang suami. Kanaya tidak tahu, bahwa dirinya menjadi obyek yang memporak-porandakan hati suaminya.
"E...nggak pa-pa Nay!" jawabnya Tama gugup. Tama berusaha untuk menahan benda pusaka, tetapi nihil bendanya langsung menjulang tinggi*.
Mendengar jawaban sang suami, Kanaya berlalu dari hadapannya. Kanaya memilih-milih pakaian di lemari, posisinya yang berjongkok menampilkan bulatan gundukan kembar yang sempurna.
Berkali-kali Tama menelan salivanya, pandangannya nanar berkelana ke penjuru dunia.
Isteri ku benar-benar mengalihkan duniaku
Kanaya sampai gelagapan di serang suaminya secara tiba-tiba, awalnya ingin berontak tetapi permainan yang sedikit kasar, dan tidak sabaran. Membuatnya pasrah, tubuhnya juga tidak bisa menolak sentuhan lembut suaminya.
"Aaakkkhhhhhh....." satu desahan merdu lolos dari bibirnya. Kanaya menikmati permainan apik sang suami, Tama mulai memperagakan permainan indahnya.
Handuk yang melilit di tubuhnya, sekarang sudah terlepas dan tergolek di atas langit kamarnya.
Melihat tubuh sang istri polos, membuatnya tidak berkedip dan takjub. Mata keduanya sangat sayu, ada hasrat berkobar-kobar di kedua matanya.
__ADS_1
Tidak ingin membuat sang istri menunggu lebih lama, Tama langsung melancarkan aksinya, langsung gercap dengan titik yang menjadi titik sensitif Kanaya.
"Mas... yang cepat ahhhh...." ucap Kanaya di sela-sela menahan sesuatu yang ingin keluar, rasanya seperti nano-nono tetapi sangat susah di gambarkan dengan kata-kata indah.
"Yang begini sayang..."
"Seperti ini!"
"Iyahhhh.... Iya mas yang cepat ooohhh!"
Bibirnya terus saja merancau tidak jelas, mengeluarkan kata-kata mutiara yang membuat sang suami semangat mencangkul sawahnya.
"Plok..Plok.....! kulit tubuh keduanya saling menempel, beradu menciptakan suara bunyi yang khas.
"Lagi-lagi yang lebih dalam ...."
Tama semakin tertantang dengan suara sang isteri yang menjadi alunan merdu, Kanaya pun juga sangat suka dengan permainan sedikit kasar.
"Ahhhhhkkkkhhhh...." Dengan hentakan yang keras. Keduanya sama-sama mencapai puncak nirwana, puncak tertinggi maha indah CiptaanNya.
"Cup cup...." makasih sayang, makasih anak-anak Papa.
"Kanaya membalas dengan senyuman." matanya sudah terpejam dengan tubuh keduanya masih menempel.
__ADS_1
Bertukar keringat menjadi hobi keduanya, semenjak memasuki trimester ketiga, Kanaya sangat agresif.
Setiap harinya ingin bermain, mengingat kehamilan yang beresiko membuat seorang CEO Abadi Group. Wiratama Wiratmaja harus bisa menahannya supaya tidak tergoda dengan sang istri, Kanaya ada aja dengan tingkahnya yang membuatnya tidak pernah menolak pesona bumil.