
Astagfirullah Mas......
Pekik Kanaya mendapati suaminya terkapar di bawah wastafel kamar mandinya yang sangat mengenaskan, sungguh hatinya seperti teriris-iris sembilu.
"Bangun mas.... bangun...."
Kanaya memekik kembali melihat tubuh suaminya yang lemah tak berdaya, kedua kelopak matanya terpejam nampak sekali sangat lelap dalam tidurnya.
"Mas .... bangun..., bangun mas....."
Nay menggolek-golekkan lengan tangan suaminya, tetapi tidak ada pergerakan.
Suaminya masih betah dalam memejamkan kelopak matanya, sedang Nay sudah bingung kalang kabut melihat tubuh yang biasa di lihat sangat tampan, tetapi di depannya tubuh pria yang di cintanya tidak berdaya.
Air mata Kanaya langsung meluncur deras, seperti banjir bandang yang tidak bisa di cegah nya. Ketakutan-ketakutan yang terus saja mengusik hati, terus saja membayangi nya.
"Takut suaminya sakit serius
Takut dan takut membuat pikirannya di penuhi dengan pikiran negatif"
Kanaya berdiam diri dengan air mata yang terus saja meluncur, di sebelah sang suami Nay terus saja membangunkan nya berharap ada keajaiban. Suaminya bisa bangun dan membuka kelopak matanya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Kanaya langsung bangkit dari duduknya, mulai beranjak dari kamar mandi untuk mencari bantuan mengangkat tubuh suaminya.
Kanaya terus saja berteriak, memanggil orang-orang yang bekerja di dalam rumahnya. Nay tidak memperdulikan tangisnya yang kian deras, rasa khawatir terus saja menghantui pikiran nya.
"*Pak.... tolong...."
"Mbak..... tolong*......"
Nay berteriak memanggil siapa saja yang mendengarnya, berharap ada yang mendengarnya bisa cepat kemari untuk memberikan bantuan nya.
"Ada apa non? kenapa menangis? ada yang sakit?" tanya mbak Marni yang kebetulan sedang membersihkan kamar my twins. Kamarnya tidak jauh dari kamar utama, kamar yang di tepati Kanaya dan suami.
"Baik non..."
Mbak Marni langsung turun ke bawah, ke lantai satu. Kanaya kembali masuk ke dalam kamarnya untuk melihat keadaan suaminya. Berharap masih ada mukjizat untuk suaminya, bisa segera bangun dari pingsannya. Tetapi harapan hanya harapan, suaminya masih saja memejamkan matanya, tertidur sangat damai seolah-olah tidak ada beban.
"Mas bangun..... bangun Mas...."
Tama masih saja nyenyak dalam mimpi indahnya, berulang-ulang Nay membangunkan, mengecup seluruh wajah suaminya, tidak lupa juga menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya. Mungkin dengan ini, suaminya akan segera membuka kelopak matanya.
"Mas jangan seperti ini, Nay khawatir sama Mas, takut mas kenapa-kenapa?"
__ADS_1
"Ayo bangun mas...."
Beberapa saat kemudian, mbak Marni, para pekerja, pak sopir sudah berdatangan ke kamarnya. Mereka sudah berada di dalam kamar mandi, Melihat pemandangan di depannya membuatnya melongo, bos nya terkapar tak berdaya.
"Apa yang terjadi non?"
"Nay tidak tahu, tahu-tahu mas Tama pingsan di sini!"
Nay terus saja menangis sesenggukan, rasanya tidak percaya, hari ini seperti mimpi di siang bolong. Sungguh hari ini menjadi hari patah hati yang Nay alami.
"Tolong angkat suami saya Pak......! bawa ke kamar pak.......!"
Nay terus saja berteriak histeris, berharap suaminya segera bangun.
"Nda, Papa tenapa? di gotong-gotong seperti itu....!" Tunjuk mereka berdua, my twins dengan sel melihat pemandangan yang baru pertama kali di lihatnya.
"Papa enggak pa-pa, mungkin kecapekan saja, kamu tenang ya nak kita sama-sama berdoa semoga Papa lekas membaik.
Kanaya terus saja menenangkan my twins, padahal dirinya juga tidak kalah khawatir nya dengan Papa nya anak-anak.
Nay berusaha untuk kelihatan kuat, supaya putra kembarnya sedikit tenang, tidak menangis seperti tadi...
__ADS_1